Bangsa yang besar adalah bangsa yang mau dan mampu belajar dari sejarah masa lampau. Namun, itu rupanya belum bisa terlaksana sepenuhnya di Indonesia yang terkenal dengan keanekaragaman budayanya. Sebaliknya, perbedaan suku, agama, ras, dan etnis di Indonesia seakan membuat negeri ini semakin sulit disatukan.
Bukannya menengok ke belakang dan belajar dari kesalahan masa lalu. Bangsa ini justru berulang kali melakukan kesalahan yang sama. Padahal para pendiri bangsa sudah berusaha mengusung semboyan Bhinneka Tunggal Ika, yang berarti berbeda-beda tapi tetap satu jua. Jika masyarakat Indonesia selalu mendahulukan semboyan tersebut, tentunya kasus-kasus tragis yang beraroma SARA ini tidak akan terjadi.
Kerusuhan beraroma SARA menjadi kasus yang cukup sering terjadi di Indonesia. Salah satu kerusuhan terbesar yang pernah terjadi akibat perselisihan antar etnis adalah Kerusuhan Sambas. Bentrokan berdarah ini terjadi sekitar tujuh kali sejak 1970, namun yang terakhir berlangsung pada tahun 1999.
Baru-baru ini, Indonesia dikejutkan dengan sebuah kerusuhan besar yang terjadi di Tanjungbalai, Sumatera Utara. Dalam kerusuhan ini, ratusan massa berbondong-bondong membakar dan merusak sejumlah vihara dan klenteng di kota tersebut. Peristiwa berbau SARA ini awalnya dipicu oleh protes seorang warga Tionghoa tentang azan masjid di Jalan Karya, Tanjung Balai.
Kerusuhan yang pecah di Kabupaten Aceh Singkil, Provinsi Aceh, pada 2015 lalu menjadi bukti kalau toleransi di negeri ini sangatlah tipis. Dalam kerusuhan tersebut, satu orang tewas dan tujuh lainnya luka-luka. Insiden ini awalnya dipicu oleh permintaan umat Islam di Aceh untuk mengurangi jumlah undung-undung – rumah peribadatan kecil – di Desa Suka Makmur.
Dalam insiden berdarah ini, sedikitnya dua orang tewas dan 95 rumah dibakar. Kerusuhan yang dipicu konflik antar masyarakat ini pecah di Kabupaten Tolikara, Provinsi Papua. Sejumlah lahan pertanian juga ditemukan rusak, dan banyak hewan ternak dijarah dalam kerusuhan ini. Bentrokan antar masyarakat ini tepatnya terjadi antara warga di Distrik Gika dan Distrik Panaga.
Perang antar suku di Papua memang bukan hal baru. Pada bulan Mei lalu, misalnya, terjadi bentrokan berdarah di Distrik Kwamki Narama, Timika, Papua. Dalam insiden tersebut, satu orang tewas terkena anak panah. Bentrokan ditengarai disulut perselisihan lama antara warga Osea Ongomang dari Kampung Atas dan warga Atimus Komangal dari Kampung Bawah.
Lampung adalah sebuah provinsi paling selatan di Pulau Sumatera. Provinsi ini bisa dibilang sangat istimewa karena dihuni oleh banyak suku. Ini karena sejak zaman dahulu, Belanda telah menjadikan Lampung sebagai salah satu daerah tujuan transmigrasi di Indonesia. Itulah kenapa jumlah suku asli Lampung lebih sedikit daripada suku-suku pendatang.
Kasus-kasus di atas menjadi bukti bahwa masyarakat Indonesia belum benar-benar paham tentang semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Artinya, keberagaman di bumi pertiwi masih dipandang sebagai suatu ancaman, dan bukannya sebagai sebuah kebanggan yang bisa mempersatukan bangsa.
Fenomena viral Arra, bocah lima tahun yang dikenal karena kepandaiannya berbicara dengan gaya dewasa, kembali…
Nama Fedi Nuril akhir-akhir ini kembali dikenal publik. Bukan karena kembali membintangi film dengan tokoh…
Kamis (20/3/2025) pukul 03.00 WIB, saat asyik scrolling media sosial X sambil sahur, mata tertambat…
Dunia aviasi Indonesia bakal semakin berwarna dengan kehadiran burung-burung besi baru. Indonesia Airlines, sebuah perusahaan…
Lagi-lagi rakyat Indonesia dibikin geleng-geleng kepala oleh ulah aparat penegak hukum. Kali ini kasusnya sedang…
Baru-baru ini, dunia hiburan Korea Selatan diguncang oleh skandal yang melibatkan aktor papan atas, Kim…