Kawasan Segitiga Bermuda memang menjadi salah satu tempat paling misterius di muka bumi. Banyak peristiwa aneh yang kerap terjadi di kawasan tersebut. Selain kapal laut yang sering menghilang tanpa jejak, beberapa pesawat militer pun turut menjadi korbannya.
Salah satu yang paling terkenal adalah peristiwa Flight 19. Di mana Lima pesawat bomber terpedo milik Angkatan Laut Amerika Serikat, hilang tanpa jejak. Setelah beberapa masa berlalu. Keangkeran Segitiga Bermuda akhirnya terungkap lewat penjelasan secara ilmiah. Bukan melulu masalah mistis dan horor, beberapa penyebab hilangnya peswat dan kapal itu disebabkan oleh faktor cuaca dan sistem elektronik yang kehilangan fungsi
Dilansir dari Live Science, ilmuwan dari Aviation Safety Network dan U.S. Coast Guard (USCG) menjelaskan temuan mereka secara ilmiah. Aktifitas badai yang cukup padat di sekitar Segitiga Bemuda, menjadi salah satu penyebab lenyapnya kapal maupun pesawat yang tak sengaja melintas. Selain itu, kondisi moda transportasi yang ada juga bisa menjadi titik permasalahan.
Temuan lain yang tak kalah penting, datang dari National Ocean Service yang dikutip dari viva.co.id. 70 persen dari planet bumi terdiri dari laut dengan ukuran paling dalam rata-rata 3.700 meter sampai 11.000 meter. Perairan Segitiga Bermuda Sendiri memiliki ukuran luas sekitar 1,3 juta kilometer persegi dan volume air laut sebanyak 1.338 kilometer kubik. Tentu saja, Kapal maupun pesawat sebesar apapun bakal hilang tak berbekas jika terjatuh di permukaannya.
Lain lagi yang dikeluarkan oleh National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA). Organisasi cuaca ini memaparkan, hilangnya pesawat maupun kapal laut bisa disebbakan oleh cuaca ekstrem berupa badai dan petir yang bernama meso-meteorological. Kemunculannya yang serba mendadak tanpa peringatan, sanggup mengacaukan sinyal komunikasi dan menciptakan bermacam-macam gelombang.
Pada 2015, sebuah tim peneliti menemukan bukti baru yang menjelaskan misteri tentang Segitiga Bermuda. Para ilmuwan menemukan sebuah kawah Laut Barents, lepas pantai Norwegia. Di mana benda vulkanis tersebut muncul karena ledakan senyawa metana pada akhir zaman es, atau sekitar 11.700 tahun lalu. Zat ini pula yang mereka kaitkan dengan kemampuan Segitia Bermuda menghisap benda di atasnya. Letupannnya dinilai sanggup membentuk gelembung gas yang dengan cepat dapat menonaktfikan sistem kapal kemudian menelannya tanpa sisa.
Di sisi lain, pernyataan para ilmuwan tersebut dibantah oleh geofisikawan dari U.S. Geological Survey (USGS), Carolyn Ruppel. Ia menegaskan bahwa hak semacam itu sangat mustahil terjadi. Mengingat, senyawa metana di dalam laut telah berubah menjadi karbon dioksida setelah melalui proses yang dilakukan oleh mikroba.
Terlepas dari kesimpulan ilmiah di atas, nyatanya Segitiga Bermuda masih menjadi tempat yang angker bagi para pilot dan pelaut. DI balik misteri yang ada, hanya Tuhan sang pemilik kehidupanlah yang mengetahui kejadian sebenarnya. Entah itu disebabkan oleh badai, kerusakan instrumen transportasi atau hal lainnya, mudah-mudahan ada sedikit harapan agar kelak kawasan tersebut bisa dilewati dengan aman.