Bagaimana rasanya sekolah di tempat terpencil, yang satu kelasnya hanya berisi tak lebih dari 10 orang murid? Penulis, sebagai anak yang tinggal di desa yang jauh dari perkotaan juga sempat merasakan hal ini kok. Lulus dari sekolah dasar, jumlah murid hanya 7 orang yang mengadakan perpisahan di tahun itu.
Hal ini bisa terjadi karena beberapa hal. Pertama, karena memang kondisinya jauh di pelosok sehingga sekolah tak begitu terkenal. Kedua, hidup di desa kadang anak lebih memilih ikut orangtua bekerja ketimbang sekolah. Ketiga, karena jumlah orang di desa tersebut memang sedikit anak-anaknya.
Singkatnya, seorang guru bercerita dengan kondisi jalan ke sekolah yang seperti itu, mereka membutuhkan waktu kurang lebih 2 jam ke sekolah. SD tempat ia mengajar kekurangan murid. Karena setiap tahun pasti ada yang lulus, sementara itu tak ada yang mau masuk dan bersekolah di sana. Tak heran bila sekarang SDN Sumberaji 2 hanya memiliki 14 murid. Itu pun tidak ada siswa di kelas I, II, dan V. Yang ada hanya di kelas III (4 siswa), IV (6 siswa), dan VI (4 siswa), seperti yang dilansir dari laman jawapos.com.
Pada penerimaan murid baru yang baru saja terlewati beberapa bulan lalu, SD ini hanya menerima 2 siswa. Selain murid yang sedikit, staff dan guru juga terbatas. Di sana hanya ada Kepala Sekolah, tiga guru kelas, dan satu guru agama. Dua orang di antara mereka sudah berstatus PNS, sedangkan tiga lagi masih honorer (yang juga merangkap sebagai staff sekolah).
BACA JUGA: 6 Perjuangan Para Guru di Pedalaman yang Akan Membuka Mata Indonesia
Anak yang pernah merasakan sekolah di sekolah yang sepi pasti tau betul bagaimana rasanya. Ya, yang paling kadang bikin minder adalah saat lanjut sekolah SMP, suka ditanya teman asal sekolah, kegiatan apa saja yang pernah dilakukan, serta berbagai macam lomba lain. Namun, hal di atas menjadi tidak penting lagi selama kamu sungguh-sungguh dan benar-benar ingin mencari ilmu, pasti ada jalan dan kamu pasti bisa –meskipun dulunya sekolah di tempat terpencil.