Bencana kekeringan yang melanda sebagian besar wilayah di Indonesia, sedikit banyak telah menghancurkan sendi perekonomian serta kehidupan masyarakat di pedesaan. Belum lagi kegiatan penebangan hutan yang dilakukan secara masif dan ilegal, turut memperparah kondisi dan ekosistem lingkungan hutan tersebut.
Namun, ditengah-tengah tandusnya keadaan, munculah sesosok kakek berhati mulia yang ingin menghentikan penderitaan panjang tersebut. Bak mata air, kegigihan dan semangatnya yang ingin membebaskan desanya dari bencana kekeringan, sangat menyentuh hati siapa saja. Meski sempat diejek, dirinya terus bekerja sendirian tanpa berharap imbalan dan ketenaran pada orang lain. Bagaimana lika-liku pejuangannya membebaskan wilayahnya dari kekeringan? simak ulasan berikut ini.
Benarlah sebuah pepatah klasik mengatakan ‘bermain air basah, bermain api hangus’. Hal tersebut tampaknya terjadi pada hutan Gendo yang terletak di Desa Geneng, Kecamatan Bulukerto, Kabupaten Wonogiri. Sudah beberapa dekade, desa yang ditinggali oleh kakek Sadiman tersebut menghadapi kekeringan panjang.
Tak tahan melihat kondisi memilukan tersebut, Sadimin tampil sebagai penyelamat dengan usahanya yang tergolong tak biasa tersebut. Terhitung, sejak awal 1990-an, dirinya terus menanam bibit pohon di Hutan Gendol yang kepemilikannya dikelola oleh negara. Hingga saat ini, ada sekitar 11.000 pohon yang 4.000 diantaranya merupakan pohon beringin, telah ia tanam dengan modalnya sendiri.
Sosok Sadiman bukanlah seorang yang berlimpah secara materi. Pekerjaan sehari-harinya hanyalah seorang Petani biasa. Meski begitu, niat tulusnya ingin membebaskan desanya dari cengkeraman kekeringan, membuatnya dirinya begitu dihormati. Pekerjaan sehari-harinya sebagai petani dan peternak, memang tidak menjanjikan harta benda. Namun, ia ikhlas mengeluarkan biaya dari kocek pribadinya untuk membeli bibit pohon beringin.
Langkahnya yang tak pernah surut, membuat Sadiman harus mencari cara agar pasokan bibit pohon beringin yang dibutuhkannya tidak tersendat. Salah satu caranya adalah mengajukan bibit ke Pemerintah. Sayangnya, upaya tersebut kurang berhasil karena tidak ada tanggapan yang pasti kepada dirinya. Tak jarang, ia juga menerima sumbangan perorangan, namun tak pernah dimasukan ke dalam kantong pribadinya.
Semangat keras dan niat yang tulus, telah membuahkan hasil yang maksimal. Meski beberapa wilayah belum teraliri dengan baik, Desa Geneng yang terdiri dari 839 keluarga, lebih dari 600 di antaranya mendapatkan akses air bersih dari mata air di Gendol. Sedangkan di Desa Conto, ada dua dusun yang juga memanfaatkan alirannya. Tak pelak, prestasi seorang Sudiman, mampu membuat mata penduduk yang selama ini meremehkan dirinya, berbalik memuji hasil yang diusahakannya tersebut.
Sosok yang sederhana dan penuh dengan keikhlasan tersebut, seolah menjadi mata air penyembuh bagi masyarakat yang merasakan manfaat atas hasil usahanya tersebut. Meski sempat diacuhkan dan usahanya dianggap tak berguna, Sadiman membuktikannya dengan air yang perlahan mulai mengalir deras, membasahi rindu masyarakat yang kangen akan suara gemericik air bersih. Semoga kedepannya, ada banyak sosok Sadiman di belahan lain Indonesia, agar bencana kekeringan tak lagi menjadi permasalahan sosial di masyarakat.
Fenomena viral Arra, bocah lima tahun yang dikenal karena kepandaiannya berbicara dengan gaya dewasa, kembali…
Nama Fedi Nuril akhir-akhir ini kembali dikenal publik. Bukan karena kembali membintangi film dengan tokoh…
Kamis (20/3/2025) pukul 03.00 WIB, saat asyik scrolling media sosial X sambil sahur, mata tertambat…
Dunia aviasi Indonesia bakal semakin berwarna dengan kehadiran burung-burung besi baru. Indonesia Airlines, sebuah perusahaan…
Lagi-lagi rakyat Indonesia dibikin geleng-geleng kepala oleh ulah aparat penegak hukum. Kali ini kasusnya sedang…
Baru-baru ini, dunia hiburan Korea Selatan diguncang oleh skandal yang melibatkan aktor papan atas, Kim…