Judul pertanyaan di atas mungkin cukup menggelitik bagi sebagian dari kita yang memang punya ketertarikan terhadap dunia kemiliteran. Lalu, bagaimana jika Rusia dan Tiongkok bergabung untuk menginvasi Amerika Serikat? Siapa yang akan menang? Jawabannya adalah Amerika Serikat.
Mungkin penjelasannya akan sangat rumit dan memang tidak sesederhana yang diuraikan dalam pembahasan artikel ini. Namun, apabila harus disebutkan, berikut faktor-faktor yang bakal menyebabkan kedua negara besar tersebut gagal menginvasi Amerika Serikat.
Jika kita mengesampingkan teknologi pemusnah massal seperti senjata kimia, senjata biologis, hingga senjata nuklir sekalipun negeri ini memang punya teknologi militer yang terlampau unggul bagi Rusia dan Tiongkok. Baik itu dari aspek persenjataan hingga armada tempur yang ada.
Ada juga helikopter tempur Apache AH-64 yang ideal diandalkan di segala cuaca. Heli serbu ini adalah gabungan dari kecepatan dan kekuatan yang ganas. Senjata utamanya adalah meriam rantai berkaliber 30 milimeter yang berada tepat di bawah moncongnya.
Dari dua armada tempur galak itu saja Rusia dan Tiongkok bisa ketar-ketir dan balik ke negara asal mereka. Makanya, akan sangat riskan dan nyaris mustahil bagi kedua negara itu untuk menyerang Amerika Serikat di tanah kebanggaannya sendiri.
Jika dianalogikan, Amerika Serikat ini adalah prajurit veteran dalam peperangan yang usianya muda abadi alias tidak pernah lansia. Kian hari, bukannya kian melempem, namun prajurit ini malah semakin tangguh dan cakap berkat pengalamannya yang segudang.
Di bagian utara AS ada Kanada, dan di selatannya terdapat negara Meksiko. Sedangkan di bagian timur dan barat, negara ini diapit oleh samudera Atlantik dan Pasifik yang menghampar luas sejauh mata memandang. Dengan armada laut menjadi yang paling besar saat ini, Amerika akan dengan senang hati melayani jika Rusia dan Tiongkok berani menggempur lewat wilayah perairan mereka.
Ada juga satu fakta yang cukup mencengangkan yang membuat Rusia dan Tiongkok mustahil menyerang AS dari laut. Jumlah kapal induk Amerika Serikat saat ini ada 19 buah. Sedangkan, Tiongkok dan Rusia masing-masing hanya memiliki satu unit kapal induk saja.
Dan jelas, distribusi logistik melewati lautan bukan hal yang mudah. Mengangkut para prajurit siap tempur atau yang terluka akan sangat memakan waktu dan tenaga. Belum lagi persenjataan dan armada darat untuk diangkut.
Lagipula, dalam perang bukan hanya jumlah persenjataan atau armada yang perlu diperhatikan, namun juga soal asupan makanan. Jika perang pecah selama berhari-hari di lautan, apakah para prajurit Tiongkok dan Rusia mendapat bekal yang cukup?
Jika Tiongkok dan Rusia sukses menembus pertahanan laut Amerika Serikat (yang mana jika diteorikan nyaris punya kemungkinan berhasil mendekat 0%), mereka harus berhadapan dengan negara yang punya daratan luas dengan jumlah populasi penduduk sekitar 320 juta jiwa.
Kalaupun Rusia dan Tiongkok memang berencana menghancurkan Amerika Serikat, mereka pasti tak akan langsung mengambil opsi perang terbuka, setidaknya di tanah Amerika Serikat itu sendiri. Mereka mungkin akan memanfaatkan cara lain seperti perang proksi, atau menggembosi negara adidaya tersebut dari dalam lewat sebuah intrik intelegensi tingkat tinggi. Siapa tahu, kan?
Fenomena viral Arra, bocah lima tahun yang dikenal karena kepandaiannya berbicara dengan gaya dewasa, kembali…
Nama Fedi Nuril akhir-akhir ini kembali dikenal publik. Bukan karena kembali membintangi film dengan tokoh…
Kamis (20/3/2025) pukul 03.00 WIB, saat asyik scrolling media sosial X sambil sahur, mata tertambat…
Dunia aviasi Indonesia bakal semakin berwarna dengan kehadiran burung-burung besi baru. Indonesia Airlines, sebuah perusahaan…
Lagi-lagi rakyat Indonesia dibikin geleng-geleng kepala oleh ulah aparat penegak hukum. Kali ini kasusnya sedang…
Baru-baru ini, dunia hiburan Korea Selatan diguncang oleh skandal yang melibatkan aktor papan atas, Kim…