Militer Amerika Serikat sedari dulu dikenal memiliki sederet alutsista yang mematikan di gudang senjatanya. Mulai dari konvensional hingga berteknologi nuklir, semuanya dimiliki oleh jajaran militer Paman Sam. Salah satu senjata yang jadi sorotan sekaligus tulang punggung pertahanan Amerika Serikat adalah rudal balistik bernama Trident II.
Menurut bahasa, Trident merujuk pada trisula atau tombak bermata tiga yang identik dengan kisah-kisah mitologi kuno. Nama tersebut dipilih untuk mewakili karakter Trident II yang memang memiliki daya hancur yang dahsyat. Tak hanya soal performa, keberadaannya pun cukup menguras kantong karena nilainya yang sangat mahal.
Trident II (D5) yang digunakan militer AS saat ini merupakan pembaruan dari versi sebelumnya, yakni Trident C4. Alutsista yang termasuk kategori rudal balistik antar benua (ICBM) yang memiliki hulu ledak nuklir ini, sanggup dibawa kemana pun dengan menggunakan kapal selam.
Karena merupakan versi terbaru, Trident II memiliki peningkatan dari sisi muatan yang lebih besar, jangkauan luas, dan tingkat akurasi tinggi. Meski tak segarang rudal balistik antar benua berbasis daratan yang jauh lebih superior, Trident II tergolong menakutkan karena bisa dibawa mendekat ke wilayah musuh lewat lautan.
Alutsista berhulu ledak nuklir ini pertama kali digunakan oleh militer AS pada 1990. Dengan bobot seberat 2.800 kilogram, setiap rudal Trident II dapat membawa hingga 14 hulu ledak berkekuatan 475 kiloton yang masing-masing memiliki berat 175 kilogram. Kehebatan Trident II ini sempat bikin AS disegani oleh dunia.
Berdasarkan data Analysis of the Fiscal Year 2012 Pentagon Spending Request yang dikutip dari National Priorities, proyek pengadaan Trident II D-5 menelan anggaran sebesar US $39,546 juta (Rp. 619,588 triliun) dengan biaya per unitnya mencapai $70.5 (Rp. 1,96 triliun) pada 2012 silam.
Semasa pemerintahan Obama, pihaknya meminta dana sebesar US$553 triliun (Rp. 8,6 triliun) untuk Departemen Pertahanan pada tahun fiskal 2012 yang dimulai pada 1 Oktober 2011. Dana besar itu digunakan untuk pengadaan jet tempur seperti jet tempur F-35 dengan biaya per unit mencapai US$133,6 juta (Rp. 2,95 triliun).
Helikopter UH-60M “Blackhawk” US$19,2 juta (Rp. 301,95 miliar), rudal balistik antarbenua Trident II D-5 $70,5 juta (Rp. 1,96 triliun), kapal induk CVN-78 Class US $13,515 juta (Rp. 211,942 miliar), kapal selam tempur SSN-774 “Virginia” US$3,106 juta (Rp. 211,942 miliar), dan sebagainya.
BACA JUGA: Mengenal Rudal Dongfeng 41 China yang Mampu Ratakan Satu Kota jika Terjadi Peperangan
Rudal balistik Trident II tak hanya digunakan oleh militer Amerika Serikat saja. Sekutu terdekatnya yakni Inggris, diketahui juga mengoperasikan alutsista mematikan tersebut. Perbedaannya terletak soal jumlah muatan saat dibawa oleh kapal selam. Di mana AS hanya mampu menggotong 14 rudal balistik lewat kapal selam kelas Ohio, dan Inggris sanggup mengisi kapal selam Vanguard miliknya sebanyak 16 buah.
Fenomena viral Arra, bocah lima tahun yang dikenal karena kepandaiannya berbicara dengan gaya dewasa, kembali…
Nama Fedi Nuril akhir-akhir ini kembali dikenal publik. Bukan karena kembali membintangi film dengan tokoh…
Kamis (20/3/2025) pukul 03.00 WIB, saat asyik scrolling media sosial X sambil sahur, mata tertambat…
Dunia aviasi Indonesia bakal semakin berwarna dengan kehadiran burung-burung besi baru. Indonesia Airlines, sebuah perusahaan…
Lagi-lagi rakyat Indonesia dibikin geleng-geleng kepala oleh ulah aparat penegak hukum. Kali ini kasusnya sedang…
Baru-baru ini, dunia hiburan Korea Selatan diguncang oleh skandal yang melibatkan aktor papan atas, Kim…