“Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman,” begitulah sepenggal lirik dari lagu Koes Plus yang seolah membanggakan Indonesia sebagai negara agraria. Sayangnya tak semanis lirik lagu, kini Indonesia sedikit demi sedikit mulai ‘kelelahan’ memenuhi permintaan pangan negeri sendiri. Meski telah banyak kebijakan yang diharapkan bisa menyelamatkan pertanian Indonesia, namun nyatanya jalur impor masih jadi favorit tiap terjadi kekurangan bahan pangan. Haruskah negeri ini terus menerus mengandalkan negeri sahabat sebagai pemasok pangan di tanah air?
Tak bisa disangkal jika gencarnya modernisasi memang sedikit banyak mengambil pengaruh dalam kemunduran pertanian Indonesia. Perkembangan jaman memang membawa kita menemukan berbagai teknologi yang membantu budidaya makin mudah dan gampang. Namun sayangnya hal ini pun harus beriringan dengan berbagai faktor yang makin besar menggerus sektor pertanian Indonesia. Dan jika ini terus menerus dibiarkan tak heran jika nama negara agraria takkan lagi dimiliki Indonesia.
Alih fungsi lahan yang makin menggila
Salah satu faktor besar yang membawa keterpurukan pertanian adalah adanya alih fungsi lahan yang makin meluas. Kini makin banyak bangunan didirikan di kota-kota di seluruh penjuru tanah air. Beragam perumahan dengan berbagai tipe, apartemen dan pusat perbelanjaan makin menjamur di mana-mana. Di pusat perkotaan makin sulit untuk menemukan pemandangan hijau, bahkan di pedesaan, tegalan dan sawahpun makin banyak yang berubah wujud menjadi pemukiman.
Tak ada greget untuk jadi petani
Di anggap sebagai pekerjaan kasar dan kurang elite untuk sebagian orang. Begitulah, image tentang petani yang membuatnya semakin sedikit dilirik sebagai profesi impian. Bahkan saat ini 61% para petani Indonesia berusia di atas 45 tahun, ini membuktikan pertanian masih dikuasai pemain lama dan belum banyak tergantikan dengan generasi muda. Modernisasi memang tak hanya berpengaruh dari segi sumber daya alam yang kita miliki, namun juga mendoktrin pola pikir masyarakat untuk memilih profesi yang lebih ‘praktis’ dari menjadi seorang petani.
Banyak lulusan pertanian yang ‘salah kamar’
‘Salah kamar’, dikiaskan demikian ketika banyak generasi muda lulusan pertanian yang beralih profesi di dunia non-agro. Berdasarkan data, hanya ada delapan persen lulusan pertanian di bawah 35 tahun yang berkecimpung di dunia pertanian dan sisanya bekerja di sektor lain, dilansir BBC (07/09). Alasannya, disebutkan karena citra dari sektor pertanian yang kurang bernilai ekonomi tinggi. Hal ini yang kemudian menjadikan lulusan pertanian banyak banting setir memilih sektor perbankan sebagai ladang pencarian mereka.
Indonesia sebagai negara agraria seharusnya berbangga dengan kekayaan yang dimilikinya. Namun jika tak ada pelaku yang mau mengolah, tentu kebanggaan ini akan sia-sia. Mungkin Indonesia mulai berkaca pada negara tetangga seperti Thailand. Dengan wilayahnya yang sempit, mereka mampu berdaya dari sektor pertaniannya. Terus berinovasi dan mengaplikasikannya di lapangan secara nyata, kapan Indonesia mampu berbuat demikian? Mungkin ini saatnya tagar Indonesia Butuh Petani perlu diviralkan!