in

Kyai Rajamala, Kapal ‘Titanic’ Indonesia yang Menyimpan Sejarah Keramat dan Melegenda

Pernah menyaksikan film Titanic? Atau mengetahui sejarah fenomenal kapal yang tenggelam di Atlantik ini? Yap, kapal raksasa ini harus mengalami nasib malang saat pelayaran pertamanya menuju Amerika pada tahun 1912. Punya nama julukan sama, kali ini Boombastis akan membahas Titanic-nya Indonesia yang tak kalah sangar dan melegenda. Kapal raksasa milik Keraton Kesultanan Solo ini dulunya digunakan sebagai transportasi oleh sang sultan, Raja Paku Buwono IV-VII.

Hingga sekarang artefaknya masih tersimpan di dua museum di Surakarta. Namun, mengenai sisa-sisa kapal ini banyak yang salah persepsi, mereka menyangka bahwa artefak tersebut bernilai mistis, padahal kenyataannya tidaklah seperti itu. Nah, untuk lebih lengkapnya mengenai Rajamala, simak uraian berikut!

Kapal hadiah dari Gubernur Daendels

Ilustrasi Rajamala di Bengawan Solo [Sumber gambar]
Ketika zaman penjajahan Belanda, kebanyakan Raja yang menguasai nusantara memiliki hubungan baik dengan para kolonial, salah satunya adalah sultan Solo ketika itu, Paku Buwono IV. Ia menerima hadiah dari Gubernur Daendels sebagai tanda persaudaraan berupa kapal raksasa pada tahun 1809. Ketika itu, sang sultan punya inisiatif untuk membuat perahu yang sama. Ia memerintahkan putranya Pangeran Adipati Anom untuk menciptakan kapal dengan kayu jati dari Hutan Danoloyo. Setelah selesai dua tahun kemudian, kapal raksasa ini diberi nama Kyai Rajamala.

Mengawinkan Rajamala dengan kapal pemberian Daendels

Dikawinkan dengan kapal pemberian Daendels [Sumber gambar]

Karena sudah menjadi bagian dari keraton kesultanan Solo, Rajamala dianggap seperti keluarga. Bersamaan dengan kapal pemberian Daendels, Rajamala dikawinkan layaknya sepasang kekasih. Upacara lengkap pernikahan ini dilaksanakan di Kedhung Penganten Bengawan Solo pada 19 Juli 1811. Setelah itu, kapal seluas 58,9×6,5 meter ini dijadikan sebagai alat transportasi yang menemani ke manapun sang sultan ingin pergi.

Pernah dipakai untuk melamar putri Madura untuk dijadikan istri

Sultan Paku Buwono IV [Sumber gambar]
Pada zaman dahulu satu-satunya transportasi yang memungkinkan adalah kapal atau perahu. Oleh karenanya, saat hendak melamar Putri Bupati Cakraningrat di Sumenep untuk dijadikan istri, Raja Paku Buwono menggunakan kapal yang dijuluki Titanic ini. Rasanya, tak lengkap jika acara lamaran yang sakral menggunakan kapal polosan begitu saja, sebagai ornament dipilihlah canthik (hiasan di bagian depan dan belakang kapal) yang berupa tokoh Raden Rajamala yang terkenal gagah dan sakti di dunia pewayangan.

Mengalami dua kali perbaikan selama eksis di perairan nusantara

Canthik kapal Rajamala di dua museum berbeda [Sumber gambar]
Dalam perjalanannya, Kapal Rajamala yang gagah pernah membelah sungai Kali Brantas, Bengawan Solo, Laut Utara Jawa hingga ke Selat Madura. Hingga pemerintahan sultan Paku Buwono VII, Rajamala mengalami dua kali pengecilan karena sungai yang semakin surut. Selama renovasi badan kapal, banyak warga yang terserang penyakit. Konon, warga percaya hal tersebut sebagai bentuk kemarahan dari kayu kapal yang diambil dari daerah wingit Hutan Donoloyo. Pernyataan ini namun kemudian disangkal oleh ahli sejarah yang mengatakan bahwa hal tersebut bisa saja terjadi mengingat Indonesia di masa lalu –bahkan hingga kini- masih mempercayai hal yang berbau mistis.

Diabadikan dalam dua Museum di Surakarta

Miniatur Rajamala [Sumber gambar]
Rajamala terakhir digunakan pada era Paku Buwono VII, bangkai kapal ini ditemukan di Pesanggrahan Langenharjo (tempat istirahat raja). Hingga kini canthik kapal Rajamala diabadikan dalam dua tempat, Museum Keraton Surakarta dan Museum Radya Pustaka. Kepala berbentuk wayang Raden Rajamala yang berwarna merah memang sekilas membuat keder ketika dilihat. Selain itu, sesajen yang harus diberikan setiap malam Selasa Kliwon juga menambah kesan mistis. Namun, sebenarnya ia bukanlah barang klenik yang ditakuti dan harus dijauhi. Kepala Rajamala tak lebih dari sebuah bukti sejarah jika ia pernah menjadi raksasa gagah yang membelah laut dan selat di Jawa.

Jadi, untuk Saboom semua jika mungkin berkesempatan mengunjungi dua museum dan menemukan dayung, canthik, dan beberapa artefak Rajamala, ia tak lebih dari saksi sejarah. Rajamala yang disebut sebagai Titanic-nya Indonesia ini tak kalah gahar saat sedang berlayar di lautan, bahkan sebagai catatan sejarah, potretnya diabadikan dalam replika di Museum Keraton.

Written by Ayu

Ayu Lestari, bergabung di Boombastis.com sejak 2017. Seorang ambivert yang jatuh cinta pada tulisan, karena menurutnya dalam menulis tak akan ada puisi yang sumbang dan akan membuat seseorang abadi dalam ingatan. Selain menulis, perempuan kelahiran Palembang ini juga gemar menyanyi, walaupun suaranya tak bisa disetarakan dengan Siti Nurhalizah. Bermimpi bisa melihat setiap pelosok indah Indonesia. Penyuka hujan, senja, puisi dan ungu.

Leave a Reply

Belum Masuki Usia Kepala Tiga, 10 Artis Ini Telah Jalani Hidup Tanpa Kekasih Hati

Sering Disepelekan, Kenali 5 Bau Badan yang Ternyata Ada Bahaya di Baliknya