Usai menjadi sorotan usai menutup sementara kegiatan ibadah umrah dan kunjungan ke situs-situs suci seperti Masjidil Haram di Mekah dan Masjid Nabawi di Madinah, Arab Saudi kembali memantik perhatian dunia setelah ramai adanya dugaan kudeta yang terjadi di tubuh kerajaan.

Dilansir dari CNNIndonesia.com (08/03/2020), tiga anggota kerajaan Arab Saudi dilaporkan telah ditangkap dengan tuduhan merencanakan aksi kudeta terhadap Raja Salman. Alhasil, konflik internal yang terjadi di tubuh kerajaan Arab Saudi ini membuat isu adanya perebutan kekuasaan semakin merebak. Lantas, apakah ini tanda-tanda dari akhir zaman yang kerap disebut-sebut sebelumnya?

Adanya dugaan kudeta menjadi aksi penangkapan keluarga kerajaan

Adanya dugaan kudeta terhadap pemerintahan Raja Salman, menjadi dasar bagi pangeran Mohammed bin Salman (MBS) melakukan penangkapan terhadap keluarga kerajaan yang tertuduh. Sebelumnya, pangeran MBS juga sempat melakukan penahanan besar-besaran terhadap anggota internal kerajaan dalam upaya penegakan antikorupsi pada 2017 silam.

Pangeran Mohammed bin Salman [sumber gambar]
Tercatat, nama-nama berpengaruh seperti mantan kepala intelijen militer, Pangeran Nayef bin Ahmed, Pangeran Ahmed bin Abdulaziz yang merupakan ayah dari Pangeran Nayef, Pangeran Nawaf bin Nayef (sepupu Raja Salman), dan mantan putra mahkota Mohammed bin Nayef. Oleh beberapa pihak, peristiwa ini seakan menjadi tonggak untuk pangeran MBS memperkuat poisinya sebagai penerus takhta kerajaan Arab Saudi.

Dianggap sebagai figur kuat posisi Pangeran Mohammed bin Salman sebagai penerus takhta Kerajaan Arab Saudi

Aksi penangkapan yang terjadi untuk kesekian kalinya ini, menjadikan pangeran MBS sebagai kandidat kuat untuk menduduki takhta sebagai Raja selanjutnya menggantikan sang ayah, Mohammed Salman bin Abdul Aziz. “Dengan ‘pembersihan’ ini, tidak ada saingan yang tersisa untuk menghentikan suksesi putra mahkota,” ucap sumber dari sebuah sumber di pemerintahan Saudi dan pemerintahan negara Barat kepada AFP yang dikutip dari CNNINdonesia.com (08/03/2020).

Adanya peristiwa penangkapan sejumah tokoh penting ini, kemudian memunculkan kembali soal isu dan spekulasi akan adanya perebutan kekuasaan di dalam internal kerajaan. Terlebih, sosok pangeran MBS dikenal getol memperluas pengaruhnya di pemerintahan sejak diangkat sebagai Putera Mahkota pada 2016 silam. Hal ini diwujudkan dalam beragam bentuk kebijakan seperti visi 2030 hingga reformasi besar-besaran demi wajah baru Arab Saudi sebagai negara Islam yang lebih modern dan moderat.

Konflik internal Arab Saudi yang dikisahkan menjadi salah satu tanda-tanda kiamat

Fenomena yang terjadi di Arab Saudi memang kerap jadi sorotan lantaran dikait-kaitkan dengan tanda-tanda kiamat. Selain dari isyarat berupa peristiwa alam, kejadian seperti konflik internal di dalam keluarga kerajaan Arab Saudi juga disebut-sebut sebagai tanda-tanda daripada terjadinya akhir zaman.

Merujuk pada ceramah Ustadz Zulkifli Muhammad Ali Lc MA berjudul “Skenario Perebutan Kekuasaan di Arab Saudi” yang diunggah akun YouTube Ceramah Pendek (16/10/2017), di sana disebutkan ada konflik dari para anggota kerajaan. Kini, hal tersebut tengah berjalan dan dilakukan oleh pangeran MBS terhadap mereka yang dianggap ‘bersalah’ di matanya.

BACA JUGA: 5 Kejadian Heboh di Arab Saudi yang Kerap Dikaitkan dengan Akhir Zaman

Jauh hari sebelum adanya dugaan rencana kudeta yang berujung penangkapan anggota kerajaan, hubungan antara Pangeran Mohammed bin Salman (MBS) selaku putera mahkota dengan Raja Salman bin Abdul Aziz dikabarkan tidak harmonis. Entah apakah konflik yang terjadi saat ini menjadi bagian dari tanda-tanda kiamat tersebut? Hanya Tuhan yang maha tahu.