Bagi mereka yang pernah menunaikan ibadah Haji maupun Umrah di Tanah Suci, keberadaan air zam-zam menjadi salah satu barang penting yang biasanya dibawa pulang sebagai oleh-oleh. Tak heran jika banyak masyarakat dari seluruh dunia, menjadikan air zam-zam sebagai barang utama yang diincar. Termasuk jamaah dari Indonesia.

Meski kerap diminum oleh jutaan umat manusia yang berkunjung ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah Haji maupun Umrah, sumur zam-zam tak pernah sekalipun dikabarkan kehabisan air. Selain dari kondisi alam, pemerintah Arab Saudi ternyata juga menggunakan serangkaian teknologi untuk menjaga ketersediaan airnya.

Sumber yang tak pernah kering karena selalu digantikan dengan air yang baru

Rahasia mengapa air zam-zam tak pernah habis ternyata berasal dari letaknya yang terhubung kepada sumber air tanah yang senantiasa terbarukan. Hal ini diungkap oleh seorang profesor geologi dan sumber daya air dari Institut Riset Afrika, Abbas Sharaqi, yang telah meneliti hal tersebut.

“Air zam-zam adalah air terbarukan. Sumber air berasal dari hujan di Mekah. Mekah adalah daerah pegunungan dan salah satu lembah berisi lembah Ibrahim yang menahan sumur zam-zam di daerah dataran rendah, ” ucap Sharaqi yang dikutip dari Egypttoday.com (16/08/2018).

Ditunjang oleh kondisi alamiah yang ada pada sumur zam-zam

Selain penelitian yang dilakukan oleh Sharaqi, riset serupa juga dikerjakan oleh para peneliti dari universitas di Pakistan dan Jepang. Menurut mereka, ada sebuah endapan sungai dengan tebal 13,5 meter yang berasal dari curah hujan di pegunungan. Air itulah yang kemudian mengalir sehingga membentuk endapan.

Meski demikian, proses terjadinya endapan tersebut diperkirakan memakan waktu hingga jutaan tahun lamanya sehingga terbentuk. Ada pula lapisan batu diorit setebal 17 meter yang terdapat dibagian paling bawah. Jika diukur secara keseluruhan, sumur zam-zam memiliki kedalaman sepanjang 30, 5 meter. Riset ini kemudian dipublikasikan di jurnal International Journal of Food Properties pada 2013 silam.

Dikelola dengan cermat oleh Arab Saudi dengan teknologi modern

Agar distribusinya bisa dibagikan secara merata – terutama mengantisipasi peningkatan permintaan saat bulan Ramadan dan Dzulhijah, Badan Survei Geologi Arab Saudi (SGS) mengatur hal tersebut dengan penggunaan teknologi modern. Untuk pengawasan dan pengaturan, mereka memasang alat seperti multi-parameter real-time, yang mampu menampilkan nilai potensial redoks (Eh), suhu, rekaman digital level air, konduktivitas listrik, pH air, dan lainnya.

Berkat teknologi tersebut, pihak SGS bisa memantau dengan mudah tanpa harus ke lokasi. Kegiatan pemompaan juga disesuaikan dengan bulan-bulan yang ada, seperti pada musim haji misalnya. Sembari dilakukan, mereka terus memantau debit air yang ada. Memastikan antara pasokan kebutuhan bagi umat dan tingkat keterisian air sejalan dengan yang ditetapkan. Oleh SGS pula, debit tahunan dari sumur Air Zam-zam dibatasi sekitar 500.000 meter kubik.

BACA JUGA: Menilik Rahasia Lantai Masjidil Haram yang Tetap Dingin Meski Berada di Wilayah Gurun

Seperti yang kita tahu, sumur Zam-zam tak lepas dari kisah dalam Al-Qur’an ketika Siti Hajar, harus berlari antara Bukit Shofa dan Marwah demi mendapatkan air bagi anaknya, Ismail, hingga menemukan sumber air yang kini menjadi sumur zam-zam. Itu artinya, air zam-zam telah dikonsumsi sejak zaman Nabi Ismail hingga oleh jutaan umat Islam di seluruh dunia saat ini.