Tidak ada yang lebih nyaman dari pada bersantai sambil minum kopi atau makan coklat sembari bermain gadget kesayangan di atas karpet yang empuk. Berasa seperti di surga deh. Tapi, tahu kah kamu kalau semua kenyamanan yang kita nikmati tersebut ternyata adalah hasil jerih payah para buruh miskin yang hidupnya jauh dari kata nyaman. Bahkan mereka harus bekerja setidaknya 18 jam per hari, belum lagi para buruh ini juga kerap mendapatkan perlakuan buruk. Namun kenyataan yang paling mencengangkan adalah kebanyakan dari pekerja ini masih berusia anak-anak.
Fakta yang terjadi memang lah demikian. Mereka dituntut untuk memenuhi kuota-kuota produksi yang hasilnya dinikmati oleh seluruh dunia. Namun tidak ada apresiasi yang mereka dapatkan, justru tekanan untuk bisa bekerja lebih banyak dan lebih lama. Faktanya tidak banyak orang yang tahu tentang perbudakan modern ini. Nah, berikut adalah deretan produksi yang dibuat oleh mereka para buruh yang mungkin tengah kamu nikmati saat ini.
Siapa sih yang tidak menyukai coklat? Sensasinya yang lumer di mulut itu memang tidak bisa ditolak oleh siapa pun. Tapi, tahu kah kamu jika sebenarnya ada penderitaan di setiap gigit yang kamu nikmati pelan-pelan itu?
Mereka kerap diperlakukan sama seperti pekerja dewasa. Misalnya memanen kokoa di areal yang sangat luas sampai membawa berkarung-karung biji coklat untuk dikumpulkan di tempat yang ditentukan. Bahkan kebanyakan anak-anak ini memang sengaja dijual untuk bekerja di perkebunan. Sebagian lagi adalah mereka yang diculik untuk kemudian dipaksa menghabiskan hidupnya di sini.
Permintaan kopi akan tetap besar selama coffee shop, bar dan resto di dunia ini tetap buka. Hal ini membuat para pemilik perkebunan kopi mau tidak mau harus tetap memompa angka produksi mereka untuk bisa memenuhi kebutuhan pasar. Sayang dalam praktiknya seringkali melibatkan anak-anak.
Perkebunan tembakau juga jadi salah satu yang dilaporkan telah mempekerjakan para pekerja di bawah umur. Tapi umumnya kasusnya cukup berbeda dengan yang dialami oleh para anak-anak korban kerja paksa di Pantai Gading. Bocah yang bekerja di kebun tembakau umumnya bekerja bersama orangtua mereka.
Fakta mencengangkan lainnya adalah cukup banyak negara yang masih terus mempekerjakan keluarga termasuk anak-anaknya. Di antaranya adalah Brasil, Argentina, Meksiko, beberapa negara Afrika dan juga Indonesia.
Perusahaan karpet juga dilaporkan telah mempekerjakan anak-anak dengan paksa. Fenomena ini banyak ditemukan di negara-negara Asia, misalnya Pakistan, India dan juga beberapa negara di timur tengah. Anak-anak berusia antara 4-14 tahun dipaksa menenun hampir selama 18 jam per hari.
Pernah menonton sebuah film berjudul Blood Diamond yang dibintangi Leonardo DiCaprio? Di sana kamu akan menemukan potret mengerikan para pencari berlian dalam melakukan kesehariannya. Mereka dipaksa untuk tenggelam dalam sungai-sungai berpasir sambil membawa nampan berlubang untuk mencari berlian dari tumpukan pasir yang menggunung.
Jadi jangan bangga ketika memakai berlian. Bisa jadi itu adalah buah kerja keras dan penyiksaan anak-anak tersebut. Anyway, fenomena ini terjadi di beberapa negara di Afrika.
Liberia memimpin dunia dalam hal produksi karet. Tapi prestasi ini sangat timpang melihat proses awalnya yang jauh dari kata manusiawi. Diketahui para pengusaha karet tersebut menggunakan para tahanan perang, tawanan dan juga anak-anak sejak tahun 2006. Para tahanan perang dan sandera sendiri dihasilkan dari perang saudara yang seringkali menimpa negara Afrika ini.
Bahkan untuk sesuatu yang sangat familiar seperti gadget, ternyata ada cerita buruk di belakangnya. Perusahaan terkenal seperti Apple dan Foxconn, diketahui telah melakukan eksploitasi berlebihan kepada para pekerjanya. Para buruh ini kemudian harus bekerja 100 jam per minggu untuk memenuhi kuota yang ditargetkan.
Setelah tahu deretan fakta mengerikan di atas, apa yang seharusnya kita lakukan? Gampangnya, kita tidak usah membeli deretan produk-produk di atas. Tapi, sayangnya kita sudah sangat ketergantungan, sehingga sangat mustahil untuk bisa menghindari produk-produk ini.
Solusi alternatifnya, lebih selektif ketika membeli produk. Lihat kemasan, perusahaan dan juga negara pembuat. Jangan sampai aktivitas belanja kita membuat para buruh ini dipaksa bekerja makin keras lagi.
Fenomena viral Arra, bocah lima tahun yang dikenal karena kepandaiannya berbicara dengan gaya dewasa, kembali…
Nama Fedi Nuril akhir-akhir ini kembali dikenal publik. Bukan karena kembali membintangi film dengan tokoh…
Kamis (20/3/2025) pukul 03.00 WIB, saat asyik scrolling media sosial X sambil sahur, mata tertambat…
Dunia aviasi Indonesia bakal semakin berwarna dengan kehadiran burung-burung besi baru. Indonesia Airlines, sebuah perusahaan…
Lagi-lagi rakyat Indonesia dibikin geleng-geleng kepala oleh ulah aparat penegak hukum. Kali ini kasusnya sedang…
Baru-baru ini, dunia hiburan Korea Selatan diguncang oleh skandal yang melibatkan aktor papan atas, Kim…