Semua orang pasti tidak ada yang ingin cepat-cepat meninggalkan dunia ini. Karena pasti kita semua sudah merasakan betapa serunya kehidupan dengan segala cerita dan juga orang-orang sekitar yang selalu menemani. Itulah mengapa banyak orang yang akan berusaha sekuat tenaga untuk tetap bertahan hidup, khususnya untuk mereka yang mengidap penyakit tertentu. Separah apapun penyakitnya pasti kita akan berusaha mencari penyembuhnya.
Namun hal yang berbeda dirasakan oleh seorang pria bernama Berlin Silalahi. Laki-laki yang menjadi salah satu korban tsunami di Aceh itu malah ingin dibantu mengakhiri hidupnya dengan cara meminta disuntik mati. Keputusan tersebut sebenarnya bukanlah hal yang dia inginkan, karena diapun beranggapan bahwa mana ada manusia yang ingin meninggal. Tapi keadaanlah yang sudah membuat Berlin ingin pergi dari dunia ini.
Berlin mengidap radang tulang
Berbicara mengenai kehidupan memang sulit mencari yang sempurna. Karena pasti ada yang namanya naik turun atau perputaran roda dalam keseharian kita. Dan dari situlah sebenarnya kita bisa lebih belajar memaknai hidup. Namun sepertinya lelaki ini benar-benar merasa lelah dan tak tahu lagi harus berbuat apa. Sudah empat tahun pria ini merasa tubuhnya kaku dan juga lumpuh karena divonis menderita radang tulang. Dulunya pria ini masih bisa duduk dalam waktu lama namun sekarang yang dapat dia lakukan hanyalah terbaring lemah.
Berlin makan dari belas kasihan orang lain
Bagi orang yang mampu mungkin mereka bisa dengan rutin melakukan proses penyembuhan secara medis agar penyakit semacam radang tulang ini bisa sembuh. Namun untuk Berlin hal tersebut dirasa sangat berat. Istrinya selama ini hanyalah seorang ibu rumah tangga, jadi dalam keadaan sekarang keluarga Berlin tidak memiliki pendapatan. Semua upaya medis sampai pengobatan tradisional sudah mereka lakukan sampai kondisi di mana saat ini mereka tak lagi punya uang untuk bolak-balik periksa ke rumah sakit.
Istri Berlin sudah ikhlas
Bila Berlin berpikiran bahwa mana ada orang yang mau mati di dunia ini, maka Ratnawati selaku istri Berlin juga berpikir bahwa tidak ada istri yang rela ditinggalkan suami apalagi saat anak-anak masih kecil. Tapi apa daya kini sang istri mengaku sudah bisa menerima keputusan sang suami. Awalnya Ratnawati sempat mengatakan pada Berlin untuk tidak mengambil jalan pendek tersebut. Namun sang suami ternyata memang benar-benar sudah tidak sanggup menahan beban hidup serta penyakit yang dideritanya.
Indonesia sebenarnya tak mengenal suntik mati
Berbicara mengenai suntik mati, mungkin hal ini jadi sesuatu yang baru untuk banyak orang ya. Karena memang hal yang satu ini memang tidak pernah diberlakukan di Indonesia. Meskipun di beberapa negara di barat telah memasukkannya dalam undang-undang. Itulah kenapa saat pengajuan permintaan suntik mati ini dilayangkan pada Pengadilan Negeri Banda Aceh, banyak yang menyangsikannya. Menurut salah satu pakar hukum pidana, hukuman mati dengan cara disengaja bisa digolongkan sebagai pembunuhan. Meskipun itu adalah kehendak dan pilihan seseorang.
Kasus Berlin memang bagaikan buah simalakama. Di satu sisi bila permintaan suntik mati tak dikabulkan maka kita akan terus membuat pria ini merasa kesakitan, sensara, dan lebih putus asa. Namun di sisi lain jika permintaannya dikabulkan, itu tentu saja sudah melanggar kode etik dalam segi hukum, medis, maupun agama. Banyak yang berpendapat bahwa alangkah lebih baiknya bila Berlin bisa lebih berikhtiar agar diberi kemudahan untuk menjalani hidupnya serta keluar dari permasalahan yang membelitnya. Karena seperti janji Tuhan, bahwa manusia tidak akan diberi masalah yang tidak ada penyelesaiannya.