Indonesia di era 60an, mungkin tak banyak hal yang kita ketahui di zaman tersebut. Tapi siapa sangka bahwa Angkatan Udara Indonesia di era tersebut memiliki sejarah yang luar biasa. TNI-AU saat itu bisa dibilang gemilang, mengalahkan Tiongkok bahkan Australia. Kenapa bisa begitu? Tak lain adalah karena di awal era 60an, Indonesia telah memiliki pesawat pembom paling mutakhir saat itu. Namanya adalah TU-16, sebuah pesawat yang dibeli karena didasari terbatasnya kemampuan B-25 serta demi kepuasan ambisi politik.
Pada tahun 1961, AURI memiliki 25 unit pesawat bomber varian Tu-16KS-1. Tujuan dari pembelian pesawat pembom tersebut tak lain adalah untuk mempersiapkan diri dalam Operasi Trikora tahun 1962 yang bertujuan untuk merebut kembali Irian Barat dari tangan Belanda. Rencananya pesawat tersebut akan difungsikan untuk menyerang Hr. Ms. Karel Doorman (kapal induk Angkatan Laut Belanda yang pada masa itu tengah berlayar dekat Irian Barat dan menggunakan rudal anti-kapal AS-1 Kennel). Hanya saja kemudian, pada tahun 1969 semua unit TU-16 tak lagi diterbangkan. Ada banyak kisah yang menarik terkait pesawat TU-16 ini. Yuk, kita kulik lagi lebih jauh.
Proses Pembelian Pesawat TU-16 Tak Berjalan Mulus
Di penghujung 50an, Indonesia mengajukan permintaan untuk membeli TU-16. Hanya saja Duta Besar Rusia untuk Indonesia saat itu, Zhukov memaparkan kalau TU-16 masih dalam tahap pengembangan yang artinya belum siap dijual. Namun, Bung Karno terus mendesak. Desakan Bung Karno saat itu juga dipengaruhi oleh Letkol Salatun (saat itu sekretaris Dewan Penerbangan/Sekretaris Gabungan Kepala-Kepala Staf). Letkol Salatun yang mengemukakan ide pembelian TU-16 kepada Suryadarma tahun 1957.
TU-16 Dibeli Atas Dasar Kebutuhan Pesawat Pembom Jarak Jauh
Seperti yang sudah disebutkan di atas, maksud dari pembelian TU-16 ini adalah untuk mendukung upaya operasi pembebasan Irian Barat. Operasi militer besar-besaran dilakukan dengan melibatkan tiga angkatan. Untuk Angkatan Udara, dibutuhkan pesawat pembom dan tempur.
Senjata Rudal Kennel Pernah Diujicobakan
TU-16 ini dirancang untuk menjadi serba bisa. Dalam arti, pesawat ini dibuat agar bisa difungsikan jadi mata-mata, pengumpul data elektronik intelijen, perang elektronik, dan juga patroli maritim. Senjata rudal Kennel sendiri memang tak pernah ditembakkan hanya pernah diujicobakan.
Pada Awalnya Belanda Tak Percaya Kalau Indonesia Punya Pesawat Pembom Ini
Memang pada awalnya Belanda tak percaya kalau Indonesia punay pesawat pembom strategis ini. Namun, Belanda kemudian mendapat info dari Amerika. Amerika melalui penerbangan U2 Dragon Lady (sebuah pesawat mata-mata) yang diterbangkan dari Jepang berhasil mendapat potret akan deretan TU-16 ini. Dari situlah, akhirnya Belanda tahu kalau Indonesia memiliki pesawat yang dalam tugasnya (yang dilengkapi rudal Kennel) akan menenggelamkan kapal induk Karel Doorman.
TU-16 Merupakan Pembom Paling Maju Pada Zamannya
Apa sajakah kehebatan TU-16 ini? Pertama jelas karena TU-16 merupakan pembom (bomber) paling maju pada zaman tersebut. Pesawat ini dilengkapi elektronik yang sangat canggih. Selain itu, badan pesawatnya juga kokoh. Bayangkan saja, badan pesawat tak mempan dibelah dengan menggunakan kapak yang terbesar sekalipun. Butuh las besar untuk bisa membelahnya. Karena bahan campurannya lebih banyak magnesium daripada aluminium, jangan harap kita bisa membongkar sambungan antara sayap dan mesinnya dengan mudah.
Penerbangan Perpisahan TU-16 Terjadi pada Bulan Oktober 1970
Pergulatan politik yang pelik saat itu membuat pengadaan suku cadang sangat rumit. Memang persediaan suku cadang TU-16 ada di Rusia dan itu memadai. Tapi tak bisa didapat dengan mudah. Nasib TU-16 makin tak jelas terlebih setelah terjadi pergolakan G30S/PKI. Bahkan AURI sempat berupaya untuk menjual armada TU-16 kepada Mesir tapi pada akhirnya tak terlaksana.
Tu-16, terlepas dari kaitannya dengan komunis sehingga dipensiunkan, tapi pesawat ini pernah memberikan kenangan indah. Keberadaannya dulu membuat Indonesia sangat ditakuti dan jadi momok untuk negara-negara besar. Indonesia pernah hebat di masa lalu, maka harusnya kita bisa mengulangi hal yang sama sekarang.