Menikah itu bukan hal yang sulit, tapi juga menjadi hal yang rumit. Mau nikah ya nikah saja, bukan begitu? Tapi memang ada tradisi dalam pernikahan yang belum-belum sudah menantang nyali pelakunya. Yang maharnya begitu mahal lah, yang harus menculik dulu agar bisa dapat restu calon mertua dan sebagainya. Mungkin ini yang bikin beberapa orang enggan nikah cepat-cepat sehingga angka jomblo di dunia meningkat. #eh
Ya, sebenarnya faktanya tak selalu se-ngenes itu. Di antara tradisi pernikahan tradisional yang unik di Indonesia, memang ada syarat atau ketentuan pernikahan yang tidak lazim. Mulai dari cara persiapan, proses hingga adat yang harus dipatuhi sebelum dan sesudah masa pernikahan. Saat membacanya mungkin bikin kamu mengernyitkan dahi, tapi sebenarnya ada nilai filosofis di dalamnya.
Menahan buang air kecil selama 3 hari 3 malam bukanlah tindakan yang mudah bagi kita. Rasanya mustahil jika harus menahan buang air kecil selama itu. Tapi kenyataannya, tradisi pernikahan dengan menahan buang air kecil ini memang ada di Tarakan, Kalimantan.
Setelah ke Kalimantan, sekarang kita beralih ke Gunung Kidul, Yogyakarta. Di wilayah ini, adat tradisi pernikahan biasa disebut dengan tradisi Kromojati. Dilihat dari sebutan nama tradisi pernikahan ini, proses pernikahan memang menggunakan Pohon Jati. Kok bisa ya?
Masih di sekitar Yogyakarta yang kental dengan adat istiadatnya. Di sini, ada juga tradisi pernikahan selain Kromojati yaitu tradisi nyantri.Bukan bermaksud menyuruh pengantin menjadi santri di pondok pesantren ya! Yang dimaksud tradisi nyantri ialah sang mempelai pria diharuskan menginap di wilayah kediaman pengantin wanita selama dua atau tiga hari. Tradisi ini dilakukan menjelang pernikahan.
Satu lagi tradisi yang tidak lazim di Banyuwangi adalah Kawin Colong. Tradisi pernikahan yang dijalankan Suku Osing ini terbilang unik sekali. Menurut sejarahnya, Kawin Colong ada sejak adanya ketidaksetujuan dari orang tua pihak perempuan. Kedua pasangan yang saling mencintai ini akhirnya sepakat melakukan tradisi Kawin Colong.
Nah, tradisi pernikahan tidak lazim selanjutnya ada di Minang yaitu Malam Bainai. Perayaan malam ini diperuntukkan bagi pengantin perempuan, Suku Minang menyebutnya dengan Anak Daro. Uniknya, Kuku-kuku Anak Daro akan dihiasi dengan pacar merah yang terbuat dari tumbukan halus daun inai dan dioleskan pada kuku pengantin. Hampir mirip dengan adat pernikahan khas Timur Tengah.
Masih lebih ribet pernikahan jaman nenek moyang dibandingkan jaman sekarang. Masyarakat kekinian cukup ke KUA dan bayar WO (wedding organizer) sudah bisa gelar pernikahan sesuai budget. Meski begitu ya masih ada sebagian tradisi yang dibawa dan hal tersebut sebenarnya memiliki tujuan yang baik. Mengajarkan pengantin tentang keberanian untuk berkomitmen, tanggung jawab dan memegang nilai hubungan cinta itu sendiri sebagaimana diajarkan oleh leluhurnya.
Fenomena viral Arra, bocah lima tahun yang dikenal karena kepandaiannya berbicara dengan gaya dewasa, kembali…
Nama Fedi Nuril akhir-akhir ini kembali dikenal publik. Bukan karena kembali membintangi film dengan tokoh…
Kamis (20/3/2025) pukul 03.00 WIB, saat asyik scrolling media sosial X sambil sahur, mata tertambat…
Dunia aviasi Indonesia bakal semakin berwarna dengan kehadiran burung-burung besi baru. Indonesia Airlines, sebuah perusahaan…
Lagi-lagi rakyat Indonesia dibikin geleng-geleng kepala oleh ulah aparat penegak hukum. Kali ini kasusnya sedang…
Baru-baru ini, dunia hiburan Korea Selatan diguncang oleh skandal yang melibatkan aktor papan atas, Kim…