Kehidupan pasca SMA bisa dibilang merupakan awal mula yang sebenarnya dalam proses pencarian jati diri kita. Ada yang memilih untuk langsung melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi dan ada pula yang memutuskan untuk bekerja terlebih dahulu mengumpulkan pundi-pundi rupiah sebelum kemudian mendaftarkan diri ke universitas impian.
Banyak dari muda-mudi tersebut yang rela meninggalkan kampung halamannya untuk kemudian merantau ke kota besar yang menawarkan kualitas pendidikan atau kesempatan yang lebih baik ketimbang di daerah asal mereka. Sebagai tempat tinggal sementara selama mereka di sana, terpilihlah kos-kosan. Bagi para calon penerus bangsa ini kosan sudah seperti rumah kedua.
Akan tetapi tak semua orang suka dengan kehidupan kosan yang akrab seperti itu. Banyak dari mereka yang lebih memilih untuk mengurung diri di kamar masing-masing dan mengurangi aktivitas sosial dengan tetangga kosan yang lain. Mereka baru melangkahkan kaki keluar pintu kamar hanya ketika jam masuk kuliah tiba atau pergi ke suatu tempat bersama teman di luar lingkaran kosan tersebut.
Fokus dengan tugas-tugas kuliah, benci dengan kebisingan, hingga tak mau menyusahkan penghuni lain menjadi alasan klasik mengapa mereka begitu enggan untuk bersosialisasi diri. Padahal selayaknya kehidupan bermasyarakat, tetangga kosan adalah orang pertama yang mengulurkan bantuan kepada kita. Alih-alih orang tua atau saudara yang berada jauh di kampung halaman, mereka pula yang dapat dimintai pertolongan manakala terjadi hal-hal yang di luar dugaan.
Lebih dari sepekan lalu terjadi peristiwa menggemparkan yang barangkali dapat menjadi contoh sempurna bahwa saling mengasingkan diri dan menjaga jarak dari penghuni kos yang lain dapat berakibat sangat fatal.
Tragis, meninggalnya perempuan yang baru menginjak usia 21 tahun ini baru diketahui setelah tiga hari perkiraan kematiannya. Berawal dari kegelisahan orang tuanya yang berada jauh di Tapanuli, Sumatera Utara, yang meminta pengelola kosan untuk mengecek kabar putri mereka yang sudah tiga hari lamanya tak memberi kabar dan sulit dihubungi.
Karena sang pemilik tak juga keluar setelah kamarnya diketuk berkali-kali, salah satu dari mereka kemudian mengintip ke dalam lewat kisi-kisi di atas jendela kamar. Alangkah terkejutnya ia ketika melihat sesosok mayat, yang tak lain adalah Sartika, telah terbujur kaku tak bernyawa. Bau tak sedap menyeruak dari lubang ventilasi. Berdasarkan pemeriksaan polisi, diduga remaja muda ini meninggal akibat sakit. Benar saja, ternyata orang tuanya mengatakan bahwa Sartika punya riwayat penyakit maag kronis.
Peristiwa tragis ini bisa dijadikan pelajaran yang teramat berharga bagi kamu yang saat ini masih menjalani kehidupan kosan. Bahwa menjalin komunikasi yang baik dan akrab dengan penghuni yang lain adalah suatu keharusan. Kehidupan kosan bisa jadi gambaran bagaimana sepak terjang kamu ketika terjun ke masyarakat setelah berumah tangga nantinya.
Tapi, dari sudut pandang yang lain hal ini malah akan berdampak negatif bagi penghuninya. Orang jadi semakin ogah untuk sekadar bertatap muka atau bertamu ke kamar lain. “Semua fasilitas udah ada kok di kamar kita, kenapa mesti repot-repot minta ke orang lain?” Begitu kira-kira anggapan bebal yang ada di benak kaum anti-sosial ini. Padahal, ada banyak hal esensial yang jelas mustahil mereka dapatkan dari beragam fasilitas bintang lima tersebut.
Ambil contoh kisah Sartika ini. Seandainya Sartika minimal mengenal akrab tetangga di kanan-kiri kosannya, ia yang mungkin sudah pingsan selama beberapa jam akibat maagnya yang kambuh dan tak keluar kamar ketika pintunya diketuk atau ponselnya dihubungi berkali-kali mungkin masih bisa mendapat pertolongan.
Tak ada maksud keji untuk menyalahkan salah satu pihak atas meninggalnya Sartika. Namun, skenario terselamatkannya mahasiswi berprestasi alumni SMA 1 Tarutung ini sangat masuk akal terjadi apabila semua penghuni kosan memiliki rasa kepedulian, kepekaan, serta rasa saling perhatian dengan penghuni kosan yang lain.
Sekali lagi, semoga kita dapat memetik hikmah dari peristiwa memilukan ini. Bolehlah kamu merasa sungkan ketika ingin meminta bantuan pada penghuni kosan lain atau takut dicap suka mencampuri urusan mereka. Tapi, mari kita mengingat kembali bahwa manusia terlahir dengan kodrat sebagai makhluk sosial. Jika bukan kepada mereka kita meminta bantuan, siapa lagi yang bisa menolong kita?
Fenomena viral Arra, bocah lima tahun yang dikenal karena kepandaiannya berbicara dengan gaya dewasa, kembali…
Nama Fedi Nuril akhir-akhir ini kembali dikenal publik. Bukan karena kembali membintangi film dengan tokoh…
Kamis (20/3/2025) pukul 03.00 WIB, saat asyik scrolling media sosial X sambil sahur, mata tertambat…
Dunia aviasi Indonesia bakal semakin berwarna dengan kehadiran burung-burung besi baru. Indonesia Airlines, sebuah perusahaan…
Lagi-lagi rakyat Indonesia dibikin geleng-geleng kepala oleh ulah aparat penegak hukum. Kali ini kasusnya sedang…
Baru-baru ini, dunia hiburan Korea Selatan diguncang oleh skandal yang melibatkan aktor papan atas, Kim…