Sepanjang sejarah, ada banyak cerita tentang orang-orang yang memprediksi akan terjadinya sesuatu. Yang namanya prediksi, kadang memang nggak selalu benar terjadi. Tapi ada kemungkinan peringatan yang disampaikan sebenarnya juga berdasarkan pengalaman atau kejadian serupa yang pernah terjadi sebelumnya.
Baca Juga: 5 Fakta Letusan Gunung Krakatau yang Nyaris Bikin Dunia Mengalami Kiamat Kubra
Masalahnya, kadang peringatan seperti ini nggak terlalu diperhatikan dan malah dianggap remeh. Akibatnya kini beberapa masalah dan bencana benar-benar terjadi gara-gara nggak mau sedikit saja memperhatikan peringatan yang sudah diberikan.
Jepang dengan lokasi yang terletak di daerah cincin api memang selalu menjadi langganan gempa bumi. Karena lokasinya yang dikelilingi lautan, maka gempa kadang juga bisa mengakibatkan tsunami. Masalah seperti ini sudah ada sejak ratusan tahun sebelumnya, jadi masyarakat pada masa itu sudah mempersiapkan peringatan untuk anak cucunya kelak lewat beberapa buah prasasti batu.
Global warming sebenarnya bukan masalah yang baru-baru ini saja muncul, tapi sejak dulu sudah disadari. George Perkins Marsh sadar setelah melihat banyaknya batu-bara yang dibakar, rawa yang kering, hutan yang terus ditebang, dan suhu bumi yang terus naik perlahan. Karena itulah dia langsung mengadakan rapat untuk membicarakan temuannya ini pada tahun 1847.
Heine menulis sebuah drama yang berjudul Alamansor pada tahun 1821 yang menceritakan kisah pembakaran buku-buku bernuansa Islam oleh Kristen fundamentalis. Aksi ini kemudian membuat si tokoh dalam cerita berkata, “Jika ada manusia yang membakar buku-buku, mereka juga akan membakar orang-orangnya pula pada akhirnya.” Segera setelahnya, terjadilah genosida massal. Kejadian yang sama ternyata terjadi di Jerman puluhan tahun kemudian.
Kekhawatiran kehilangan privasi di internet itu nggak cuma muncul baru-baru ini saja. Sejak tahun 1970an, rasa takut itu sudah ada, tapi memang nggak sebesar sekarang. Tahun 1975, internet baru berusia beberapa tahun dan namanya masih APARNET. Saat itu fungsinya juga cuma digunakan di bidang komersil dan industri saja. Tapi Tad Szulc sudah melihat kalau APARNET punya potensi memata-matai manusia.
Pintu kokpit pesawat saat ini bisa terkunci dari dalam dan dengan bahan anti peluru, sehingga jika ada ancaman teroris pilot tetap aman. Tapi sayang, desain seperti ini ternyata juga punya kekurangan. Yaitu bagaimana kalau yang mengancam keselamatan pesawat ternyata pilot itu sendiri? Dua bulan sebelumnya, seorang pilot lain bernama Jan Cochret menuliskan kekhawatirannya tentang hal ini. Ia khawatir seorang pilot dengan niat buruk bisa saja memanfaatkannya.
Baca Juga: Inilah 5 Alasan Kenapa Indonesia Masih Berteman dengan Negara Komunis Meski Menolak Marxisme
Pada akhirnya, prediksi yang diugkapkan itu benar-benar terjadi. Sayang kekhawatiran yang diungkapkan tidak dipedulikan akhirnya terjadilah tragedi mengerikan tersebut. Kita memang tidak bisa percaya pada ramalan begitu saja, tapi jika prediksi yang dibuat adalah berdasarkan pengamatan situasi dan sejarah, ada baiknya kita lebih waspada karena mungkin saja tragedi tersebut bisa terjadi.
Fenomena viral Arra, bocah lima tahun yang dikenal karena kepandaiannya berbicara dengan gaya dewasa, kembali…
Nama Fedi Nuril akhir-akhir ini kembali dikenal publik. Bukan karena kembali membintangi film dengan tokoh…
Kamis (20/3/2025) pukul 03.00 WIB, saat asyik scrolling media sosial X sambil sahur, mata tertambat…
Dunia aviasi Indonesia bakal semakin berwarna dengan kehadiran burung-burung besi baru. Indonesia Airlines, sebuah perusahaan…
Lagi-lagi rakyat Indonesia dibikin geleng-geleng kepala oleh ulah aparat penegak hukum. Kali ini kasusnya sedang…
Baru-baru ini, dunia hiburan Korea Selatan diguncang oleh skandal yang melibatkan aktor papan atas, Kim…