Beberapa hari yang lalu, Menteri Pertahanan Ryamizad Ryacudu mengatakan jika fenomena LGBT ada hubungannya dengan perang proksi (proxy war). Isu itu sengaja dibesar-besarkan agar negeri ini jadi gaduh lalu terjadi banyak konflik di berbagai sisi. Ryamizard juga menambahkan jika perang proksi jauh lebih berbahaya dari perang konvensional. Pasalnya saat perang ini terjadi, lawan tak diketahui siapa. Tahu-tahu sudah masuk dan mulai menguasai dengan diam-diam.
Perang proksi sendiri adalah perang yang dilakukan oleh dua negara atau lebih namun tak ingin terlibat langsung. Mereka menggunakan negara lain dengan memberikan dana atau lembaga, dan isu sosial yang sengaja di-blow up. Perang proksi ini bisa dibilang perang murah meriah karena tak harus menggunakan alutsista. Namun efeknya bisa lebih mengerikan, bahkan bisa mencuci otak.
1. Penuh Sumber Daya Alam
Indonesia memiliki banyak sekali sumber daya alam yang diminati oleh banyak negara di dunia. Sayangnya di era modern seperti sekarang, perang secara langsung sangat tidak mungkin. Kerugian yang didapatkan akan besar dan “nama baik” dari negara itu akan tercoreng di dunia internasional. Akhirnya, dengan berbagai trik, perang proksi dilancarkan ke Indonesia untuk menguasai beberapa sektor penting tanpa harus menggunakan alutsista.
Indonesia sebenarnya sudah berusaha untuk lepas dari cengkeraman perang proksi ini. Gerakan Non Blok adalah salah satu wujudnya. Dengan tidak memihak salah satu blok, maka tidak akan ada negara yang sengaja menunggangi Indonesia untuk kepentingan-kepentingan mereka.
2. Persatuan dan Kesatuan di Indonesia yang Masih Sering Goyah
Memiliki banyak ras, suku, dan agama bisa menjadi bumerang bagi Indonesia. Pasalnya perbedaan pada sudut pandang kerap menjadi pemicu konflik yang perlahan-lahan bisa membesar. Kita mungkin memiliki Bhinneka Tunggal Ika, namun untuk mewujudkan cita-cita itu bisa dibilang sangat sulit. Bahkan butuh perjuangan yang tak sedikit.
3. Mudah Diiming-Imingi Kekuasaan
Banyak sekali masyarakat di Indonesia yang hidup dalam kesusahan. Kemiskinan di mana-mana terutama di daerah-daerah yang menghasilkan sumber daya alam besar. Dari sini, negara atau kelompok tertentu masuk dan membuat sebuah organisasi pembebasan atau milisi. Mereka memberi iming-iming kehidupan yang layak hingga membuat mereka jadi semangat melakukan pemberontakan.
4. Masyarakat Indonesia Mudah Terprovokasi
Satu keburukan yang tidak kita mungkiri lagi dari Indonesia. Bangsa ini mudah sekali diprovokasi dengan isu-isu tertentu. Tak sekali dua kali bangsa ini heboh dengan isu-isu yang sebenarnya palsu dan tak layak diperbincangkan. Perkembangan media sosial di Indonesia juga menjadi pemicu mengapa isu-isu yang memancing perpecahan begitu mudah untuk dibiakkan di Indonesia.
5. Pusat Kekuatan Asia Tenggara
Indonesia adalah negara yang tak boleh disepelekan begitu saja. Untuk masalah ekonomi negeri ini sudah mulai bangkit, bahkan krisis besar di masa lalu bisa dilalui dengan baik. Selanjutnya negeri ini juga memiliki kekuatan militer yang sangat kuat, terutama di kawasan Asia Tenggara. Hal ini membuat beberapa negara jadi gerah dan ingin membuat Indonesia jadi hancur bagaimana pun caranya.
Inilah lima alasan mengapa negara lain ingin melakukan perang proksi di Indonesia. Dengan memerhatikan lima alasan di atas, sudah sepantasnya Indonesia mulai waspada. Terutama masyarakatnya yang mudah jadi “baper” begitu melihat isu-isu tertentu.