Saat Indonesia masih terdiri dari beberapa kerajaan, sering terjadi pertempuran baik perang antar kerajaan maupun pemberontakan di dalam sebuah kerajaan. Salah satunya adalah Perang Bubat, yaitu pertempuran hebat antara Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Pajajaran karena kesalahpahaman antara Raja Lingga Buana, Hayam Wuruk, dan Gajah Mada.
Singkat cerita, Hayam Wuruk berniat untuk menikahi putri Raja Lingga Buana, Dyah Pitaloka Citraresmi. Untuk pernikahan tersebut, Kerajaan Pajajaran melakukan perjalanan menuju Majapahit. Di tengah perjalanan, rombongan mereka dihentikan oleh Gajah Mada yang mengira mereka bertujuan untuk menaklukkan Majapahit. Pertempuran pun tak terhidarkan. Perang ini mengakibatkan seluruh anggota keluarga Kerajaan Pajajaran tewas di medan tempur.
Meski hanya dijelaskan sekilas dalam pelajaran sejarah, Perang Bubat memiliki dampak besar, lebih dari yang pernah kita bayangkan. Bisa jadi hidup kita sebagai bangsa Indonesia tidak akan seperti yang kita jalani saat ini seandainya peristiwa bersejarah itu tidak pernah ada. Kira-kira apa saja sih yang akan terjadi seandainya Perang Bubat hanyalah mitos atau legenda belaka?
Kematian seluruh anggota Kerajaan Pajajaran menyimpan luka yang mendalam pada diri masyarakat Sunda. Akibatnya, mereka melarang anak cucu mereka menikahi orang Jawa. Mitos tersebut masih terus terngiang hingga sekarang. Sampai ada yang berkata rumah tangga pernikahan orang Sunda-Jawa tidak akan harmonis.
Berkat serangan mereka terhadap rombongan Kerajaan Pajajaran, Gajah Mada dan Hayam Wuruk menjadi sosok yang tidak disukai masyarakat Sunda. Majapahit juga bukanlah kerajaan yang terlihat keren bagi mereka. Karena itu masyarakat tidak ingin ada nama-nama tersebut di kota-kota mereka. Jika berkunjung ke Bandung, kalian tidak akan menemukan Gajah Mada, Hayam Wuruk, atau Majapahit.
Banyak yang mendengar tentang Sumpah Palapa, tapi tidak banyak yang tahu jika Sumpah ini tidak pernah dipenuhi. Ya, Gajah Mada memang berhasil menaklukkan seluruh Nusantara terkecuali tanah Sunda. Kerajaan Pajajaran sangat keukeuh tidak mau bertekuk lutut kepada Kerajaan Majapahit.
Selama ini Madakaripura dikenal sebagai air terjun pertapaan Gajah Mada. Patih Majapahit itu sempat beristirahat sementara setelah melakukan kesalahan fatal dengan membantai pasukan kerajaan Sunda yang datang ke Majapahit dengan niat baik. Di air terjun itulah ia beristirahat dan melakukan pertapaan hingga kemudian diperintahkan untuk kembali menjadi patih kerajaan.
Raja Lingga Buana, pemimpin kerajaan Pajajaran yang gugur dalam perang Bubat senantiasa dipuja oleh masyarakat sunda. Keberaniannya dalam melawan pasukan Majapahit dihargai dengan julukan Prabu Wangi, artinya raja yang harum namanya. Putra Lingga Buana yang saat itu tidak ikut terjun ke medan perang, Wastu Kencana mendapat kehormatan sebagai raja yang bergelar Prabu Siliwangi, artinya keturunan raja yang harum namanya. Sejak itu, keturunan raja Sunda memiliki gelar Prabu Siliwangi.
Nasi telah menjadi bubur, Perang Bubat sudah terjadi dan akibat-akibatnya masih kita rasakan hingga saat ini. Beruntung seiring berjalannya waktu, jarak antara orang Sunda dan Jawa sudah mulai berkurang. Banyak sekali pernikahan yang terjalin di antara dua suku tersebut. Luka yang diakibatkan oleh Perang Bubat rupanya sudah sembuh dan kisah tersebut kini hanyalah sekedar sejarah.
Fenomena viral Arra, bocah lima tahun yang dikenal karena kepandaiannya berbicara dengan gaya dewasa, kembali…
Nama Fedi Nuril akhir-akhir ini kembali dikenal publik. Bukan karena kembali membintangi film dengan tokoh…
Kamis (20/3/2025) pukul 03.00 WIB, saat asyik scrolling media sosial X sambil sahur, mata tertambat…
Dunia aviasi Indonesia bakal semakin berwarna dengan kehadiran burung-burung besi baru. Indonesia Airlines, sebuah perusahaan…
Lagi-lagi rakyat Indonesia dibikin geleng-geleng kepala oleh ulah aparat penegak hukum. Kali ini kasusnya sedang…
Baru-baru ini, dunia hiburan Korea Selatan diguncang oleh skandal yang melibatkan aktor papan atas, Kim…