Tidak hanya pistol dan gas air mata, polisi punya banyak perangkat lain untuk melumpuhkan para penjahat. Salah satu yang paling efektif dan memberikan pengalaman buruk adalah pepper spray. Senjata ini akan membuat mata si target perih luar biasa serta efek kebutaan sekitar 20 menit sehingga memudahkan penangkapan.
Tidak pernah ada riwayat membahayakan, membuat senjata ini juga legal dimiliki tiap-tiap orang di berbagai negara sebagai self defence tool. Tapi, apakah pepper spray benar-benar aman? Pertanyaan ini patut diangkat kembali lantaran sebuah kasus yang terjadi di Amerika beberapa waktu lalu. Seorang tersangka kejahatan bernama Dwayne Ware meninggal dunia, diduga lantaran petugas menyemprotkan gas berisi bubuk cabai dan merica ini ketika ia hendak kabur.
Bagaimana hal ini bisa terjadi? Simak ulasannya berikut.
Belum pernah ada seorang penjahat pun yang terkena pepper spray lalu kemudian meninggal. Namun untuk kasus yang dialami oleh Ware adalah pengecualian.
Polisi cukup berhati-hati dalam mengejar pria 35 tahun ini lantaran ia membawa sebuah senjata. Lalu, sambil mengejar si tersangka polisi menembakkan semprotan pepper spray ke arah pria ini. Namun setelah akan diringkus di semak-semak, nampak Ware bernafas tersengal. Kemudian petugas memanggil ambulance dan pria ini dibawa ke unit darurat DCH Health System.
Ada sekitar 6 petugas yang bertugas melumpuhkannya saat itu dan masih belum dimintai keterangan. Namun dari sebuah penuturan singkat, salah satu polisi hanya menyemprotkan pepper spray tanpa sekalipun mengeluarkan tembakan dan sejenisnya.
Sebenarnya, seberapa bahaya sih untuk manusia ketika terkena pepper spray? Dilansir dari banyak sumber, berikut adalah dampak umum dari alat pertahanan diri tersebut. Batuk, mata kering lalu kemudian berair, sesak nafas, kulit terasa terbakar, dan juga beberapa dampak psikologis seperti khawatir, resah sampai ketakutan. Tidak ada yang benar-benar bahaya dari penggunaan alat ini.