Belum usai soal penerapan sistem zonasi yang banyak membuat siswa dan wali murid kelimpungan, kini muncul perkara lain yang tak kalah mengejutkannya. Dikutip dari kastara.id, hal ini bermula saat seorang praktisi pendidikan yang bernama Setyono Djuandi Darmono meminta Presiden Jokowi menghapus mata pelajaran pendidikan agama di sekolah.
Alhasil, hal tersebut langsung menjadi perdebatan dan menimbulkan polemik bagi banyak pihak. Padahal, pendidikan agama sedari dulu telah menjadi bagian yang tak terpisahkan sebagai salah satu mata pelajaran. Buntut dari pernyataan dari Darmono di atas, banyak pihak yang merasa keberatan dengan hal tersebut.
Alasan dibalik pernyataan praktisi pendidikan soal penghapusan mata pelajaran agama
Heboh pernyataan Praktisi Pendidikan Setyono Djuandi Darmono yang mengatakan bahwa pendidikan agama tidak perlu diajarkan di sekolah, menuai kontroversi. Ternyata, ada alasan di balik maksud dari pria yang juga merupakan pendiri sekaligus Chairman daripada Jababeka Group tersebut. Dilansir dari jpnn.com, ia menilai bahwa pelajaran agama yang masuk kurikulum pendidikan agama menjadi biang perpecahan yang ditanamkan pada siswa.
Menjadi polemik dan ramai-ramai ditolak oleh banyak pihak
Alhasil apa yang dikatakan oleh Darmono tersebut menuai kontroversi di tengah-tengah masyarakat. Tak urung, Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin pun angkat bicara mengenai hal tersebut. Dikutip dari kastara.id, dirinya menegaskan, pendidikan agama tidak bisa dipisahkan dengan kehidupan bangsa dan negara. Menurut Lukman, Mengamalkan ajaran agama pada hakikatnya merupakan wujud pengamalan sebagai warga negara.
Klarifikasi dari pihak Jababeka terkait pernyataan Darmono soal penghapusan agama
Buntut dari polemik yang ada, pihak Jababeka kemudian memberikan klarifikasinya lewat Desk Komunikasi Jababeka Ardiyansyah Djafar dalam pernyataannya yang dikutip dari hidayatullah.com. “Pertama, SD Darmono sangat peduli pada pendidikan karakter berbasis agama yang mempunyai akar kuat dan sudah mentradisi di Nusantara. Yang dia soroti dan prihatinkan adalah mengapa identitas agama ketika dikaitkan dengan politik malah mendorong munculnya konflik dan polarisasi sosial. Kedua, Hendaknya pelajaran agama itu lebih menekankan character building dan kemajuan bangsa. Terlebih lagi Indonesia dikenal sebagai bangsa yang religius.
BACA JUGA: Kafir Diganti Menjadi non-Muslim dan Bagaimana Kita Seharusnya Menyikapi
Melihat banyaknya penolakan yang ada, jelas sudah bahwa masyarakat masih menginginkan pelajaran agama menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sistem pendidikan di Indonesia. Entah apa jadinya jika siswa tak mendapatkan pendidikan agama di sekolahnya. Gimana menurutmu Sahabat Boombastis?