Berbicara prestasi sepak bola Indonesia, tentu negara kita kalah jauh bila dibandingkan dengan Italia. Bahkan bila diberi waktu untuk mengejar capaian-capaian bagus Gli Azzurri, kemungkinan besar Tim Merah putih memerlukan waktu yang sangatlah lama. Apalagi dalam treck recond-nya, Tim Garuda acap kali kesulitan untuk jadi terbaik di Asia Tenggara. Meski level kita masih terlampau jauh, namun sebetulnya ada kesamaan kedua negara itu.
Persamaannya sendiri terletak pada beberapa hal tentang kompetisi sepak bolanya. Tim Italia dan Indonesia sama-sama pernah bangkrut, menggunakan stadion milik pemerintah, dan alami kasus pengaturan skor. Khusus untuk hal terakhir itu, baik di negeri pizza atau tanah air kasus tersebut sama-sama menggegerkan publik. Dan kabarnya caranya ada indikasi kemiripan. Apakah hal tersebut benar? Temukan jawabannya di ulasan berikut ini.
Di Italia sendiri praktek semacam ini banyak terjadi, kompetisi-kompetisi kasta bawah. Pada umumnya masalah krisis financial klub liga rendah menjadi peluang empuk untuk disusupi hal ini. Selain itu jarangnya disorot media juga menjadikan pertimbangan lain untuk lakukan match fixing. Salah satu tim Seri B diduga melakukan ini adalah kesebelasan legenda Parma.
Selain pemain, wasit yang memimpin jalannya pertandingan juga dilibatkan untuk hasilkan skor sesuai keinginan oknum. Contohnya adalah, saat direktur umum Juventus, Luciano Moggi dan Antonio Giraudo melakukan percakapan dengan beberapa pejabat dari sepak bola Italia untuk mempengaruhi penunjukan wasit.
Menurut mantan runner Bambang Suryo, ungkapnya cara pengaturan skor adalah dengan mendekati pihak manajemen klub, kalau tidak bisa maka nahkoda kesebelasan yang dituju, dan bila hal itu tetap gagal lagi baru pemain dijadikan sasaran terlibat hal ini. Ujarnya yang dilansir Boombatis dari laman Bola.com, melakukan praktek ini dengan pemain menjadi hal paling sering berhasil.
Selain pemain, pengadil lapangan juga menjadi sasaran dalam praktek ini di Indonesia. Dilansir laman Metrotvnews.com, mantan wasit Liga Super Indonesia di musim 2014, Solihin mengaku pernah disogok oleh sejumlah klub untuk membantu sebuah tim meraih kemenangan.Tuturnya bonus yang diberikan kepada orang mau melakukan selalu bertambah menjelang laga berlangsung.
BACA JUGA: Mengenang SEA Games Manila, Ketika Kesuksesan Pemberantasan Mafia Bola Berujung Juara
Walaupun mempunyai kemiripan dalam proses pelaksanaannya, namun di Italia polisi dilibatkan secara aktif dalam mengusut hal-hal semacam ini. Jadi, tidak mudah untuk federasi sepak bola negeri pizza menciduk insan bola melakukan hal tersebut. Mungkin hal itu juga bisa ditirukan oleh PSSI.
Fenomena viral Arra, bocah lima tahun yang dikenal karena kepandaiannya berbicara dengan gaya dewasa, kembali…
Nama Fedi Nuril akhir-akhir ini kembali dikenal publik. Bukan karena kembali membintangi film dengan tokoh…
Kamis (20/3/2025) pukul 03.00 WIB, saat asyik scrolling media sosial X sambil sahur, mata tertambat…
Dunia aviasi Indonesia bakal semakin berwarna dengan kehadiran burung-burung besi baru. Indonesia Airlines, sebuah perusahaan…
Lagi-lagi rakyat Indonesia dibikin geleng-geleng kepala oleh ulah aparat penegak hukum. Kali ini kasusnya sedang…
Baru-baru ini, dunia hiburan Korea Selatan diguncang oleh skandal yang melibatkan aktor papan atas, Kim…