Hidup sebagai seorang santri memang ada plus minus tersendiri. Namanya juga santri, segala aktivitas pasti serba harus antre, belum lagi anak yang tinggal di pondok pesantren tersebut harus membiasakan hidup bersama orang lain. Segala kebiasaan buruk yang selama ini dilakukan perlahan harus ditinggalkan. Jika tidak mau bernasib malang seperti salah seorang santri di Pondok Pesantren Nurul Ikhlas, Padang Panjang, Sumatera Barat ini.
Adalah Robi Alhalim, yang akhirnya meninggal karena dikeroyok oleh 19 rekannya sesama santri di pondok pesantren. Miris sih, namun kisah ini mungkin bisa menjadi pembelajaran untuk para santri di manapun kalian berada. Karena, hal seperti ini bukan pertama terjadi, melainkan sudah beberapa kali.
Meninggal karena dikeroyok oleh sesama rekan santri
Robi Alhalim, seperti dikutip dari cnnindonesia.com, mendapat penganiayaan karena dirinya diduga mengambil barang milik santri lain tanpa izin. Korban memang sudah beberapa kali mencuri barang milik temannya seperti ponsel, pengeras suara dan lain-lain. Teman-temannya sudah tau apa yang dilakukan oleh Robi, setiap ketahuan ia selalu saja meminta maaf, namun lagi-lagi kembali mencuri. Karena kesal dan jengkel, para pelaku yang berjumlah belasan orang mengeroyok Robi.
Dianiaya teman karena terduga mencuri uang
Masih perihal pencurian, kejadian ini juga baru terjadi pada 5 Februari lalu. Di mana seorang santri di sebuah Ponpes di Siman, Kecamatan Sekaran, Kabupaten Lamongan, menjadi korban penganiayaan oleh temannya sesama santri. Anak lelaki berinisial ABF tersebut disebutkan mencuri sejumlah uang, padahal menurut ibunya ABF sudah diberikan uang jajan lebih dari cukup. Mengenai penganiayaan ini, ABF mendapat perlakuan yang cukup serius.
Santri meminta pindah sekolah sebelum meninggal
Kasus yang ke tiga ini terjadi pada seorang santri asal pesantren Raudhatul Ulum, yang berada di kawasan Kecamatan Sakatiga Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan ( Sumsel) bernama Finanda Juni Harta pada Oktober 2018 lalu. Finanda meninggal dunia karena dugaan penganiayaan yang masih tidak diketahui dilakukan oleh siapa. Hal tersebut mulai terasa janggal saat keluarga membawa jenazahnya ke kampung halaman untuk dimakamkan. Finanda yang tak pernah punya riwayat sakit apapun saat itu dikatakan meninggal karena sakit.
Gara-gara sendal jepit, senior aniaya adik kelasnya
Masalah yang terakhir yang terjadi pada tahun 2015 ini tak kalah sepele, hanya karena sendal jepit. Ada Sahirul Amin (15) Santri Pondok Pesantren Jamiatul Ulum, di Kecamatan Sekupang, Kota Batam. Melansir swarakepri.com, korban yang baru duduk di bangku kelas 1 pesantren ini dirawat di RSBP Batam setelah mendapatkan tindak kekerasan oleh seniornya berinisial MZ(14) yang duduk di bangku kelas 3.
BACA JUGA: 7 Penderitaan ini Hanya Dirasakan Mereka yang Jadi Anak Pesantren
Masalah di atas bisa dikatakan hal yang sering sekali terjadi di kalangan santri, ya Namanya juga hidup bareng-bareng. Semoga saja ke depan, pondok pesantren semakin bisa memberikan pengertian bagaimana seharusnya menjadi seorang santri yang benar-benar santri. Cukuplah hal menyedihkan di atas menjadi masa lalu dan pembelajaran untuk kita semua.