Anak Pesantren
Sebagai seorang Muslim, sudah menjadi hal yang wajib hukumnya untuk mempelajari ilmu agama. Ibarat ingin mendirikan sebuah rumah, kita butuh yang namanya bahan bangunan. Nah, bahan bangunan dari sebuah rumah itu dianalogikan sebagai agama. Tanpanya, tentu tidak akan berdiri sebuah bangunan. Mungkin kita punya tanah, tapi hidup di atas tanah takkan pernah lebih seenak tinggal di dalam rumah. Benar begitu, bukan?
Cara orang-orang mempelajari ilmu agama pun macam-macam. Ada yang cukup dengan mendatangkan seorang guru, membaca, atau cara lain yang banyak dipilih yakni nyantri alias mondok di pesantren. Menjadi santri sendiri banyak suka dukanya. Sukanya mungkin kita jadi banyak teman, kenal sama kyai atau ustad kondang, bisa belajar ilmu agama secara mendalam dan sebagainya. Dukanya tentu banyak sekali, dan semuanya cukup menguji mental dan fisik.
Berikut adalah beberapa hal duka atau bisa dibilang penderitaan yang dialami oleh mereka yang nyantri. Anak santri pasti sudah kenyang dengan semua ini.
Berpisah dengan orangtua kadang jadi hal yang tidak mengenakkan hati. Apalagi bagi yang sudah menganggap orangtua seperti teman atau sahabat. Namun sudah menjadi risiko nyantri kalau harus berpisah dengan mereka, ayah dan ibu.
Biasanya jika di rumah kita bisa tidur pulas sampai kadang lupa sholat subuh, di pesantren hal tersebut takkan pernah terjadi. Jangankan meninggalkan sholat subuh, kita bahkan akan dibangunkan tengah malam hampir tiap hari. Tujuannya adalah untuk melaksanakan sholat malam.
Nyantri artinya kita harus siap untuk hidup mandiri. Nyuci sendiri, bersihkan kasur sendiri, pokoknya apa-apa selalu dilakukan sendiri. Bagi yang sebelumnya sudah mandiri, tentu hidup seperti ini takkan pernah jadi masalah. Tapi, bagi yang manja ketika di rumah, nyantri akan sangat menyiksanya.
Tak semua orangtua mampu mengirim anaknya untuk mondok di pesantren besar dan mahal. Sebagian hanya sanggup mengirim anak-anaknya ke pesantren yang ada di pelosok-pelosok. Kalau pesantren besar sih kita tak perlu bicara penderitaan karena mereka sudah nyaman. Yang prihatin adalah mereka yang mondok di tempat yang bersahaja.
Di pondok ada sebuah sistem kepemilikan yang unik, di mana milikku ya milikmu dan milikmu adalah milikku. Makanya, sudah tak heran lagi kalau di pesantren pinjam meminjam barang pribadi adalah hal yang lumrah. Ada juga sih yang pelit dan individualis, tapi biasanya yang seperti ini bakal dijauhi teman seangkatan.
Ada sebuah jargon unik yang populer di kalangan santri. Bunyinya kira-kira seperti ini, “Belum jadi santri kalau tidak pernah gatal-gatal.” Memang lucu kedengarannya, tapi ini fakta. Penyakit kulit sudah seperti ospek yang harus dilewati oleh setiap santri.
Senioritas memang sepertinya tak bisa lepas dari institusi apa pun, bahkan termasuk pesantren. Ya, di pesantren kita sudah pasti punya kakak tingkat, dan seperti kakak tingkat biasanya, kadang mereka merasa superior. Mereka tidak nyiksa sih, hanya saja seringkali memanfaatkan adik-adik tingkatnya.
Nyantri memang banyak banget penderitaan. Namun ini sebenarnya semacam gemblengan mental sebelum akhirnya lulus dan mengemban misi dakwah sebagai dai. Sejatinya, belajar memang butuh perjuangan. Jika sekolah yang hanya untuk kepentingan duniawi kita bisa sering dibuat susah. Apalagi ilmu agama yang jadi bekal kita untuk hidup di akhirat nanti.
Fenomena viral Arra, bocah lima tahun yang dikenal karena kepandaiannya berbicara dengan gaya dewasa, kembali…
Nama Fedi Nuril akhir-akhir ini kembali dikenal publik. Bukan karena kembali membintangi film dengan tokoh…
Kamis (20/3/2025) pukul 03.00 WIB, saat asyik scrolling media sosial X sambil sahur, mata tertambat…
Dunia aviasi Indonesia bakal semakin berwarna dengan kehadiran burung-burung besi baru. Indonesia Airlines, sebuah perusahaan…
Lagi-lagi rakyat Indonesia dibikin geleng-geleng kepala oleh ulah aparat penegak hukum. Kali ini kasusnya sedang…
Baru-baru ini, dunia hiburan Korea Selatan diguncang oleh skandal yang melibatkan aktor papan atas, Kim…