Belakangan masyarakat Indonesia tengah dibikin gaduh dengan pemberitaan soal Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP), yang kemudian berujung kontroversial karena dianggap mengubah kandungan nilai dan isi Pancasila. Di mana Pasal 7 draf RUU termuat konsep Trisila dan Ekasila sebagai bentuk kristalisasi Trisila.

Tentu yang semacam ini mengejutkan, karena Pancasila sudah menjadi dasar negara sejak awal masa kemerdekaan dulu. Soal Pancasila, ada satu kisah miris yang patut juga kita ketahui. Ini adalah tentang Sudharnoto, sang pencipta lagu Garuda Pancasila yang dulu mungkin sering kita nyanyikan saat sekolah. Pria ini pernah dipenjara lantaran dikaitkan dengan G30S/PKI, penyebabnya karena ia adalah seniman Lekra.

patung Garuda lambang nasional Indonesia [sumber gambar]
Perjalanan panjang Sudharnoto di kancah kesenian nasional berawal saat dirinya mengisi siaran musik RRI bersama Orkes Hawaiian Indonesia Muda pimpinan Maladi. Dari sana, pria kelahiran Kendal, Jawa Tengah, pada 24 Oktober 1925 itu kemudian diangkat Kepala Seksi Musik RRI Jakarta.

Latar belakang Sudharnoto sendiri cukup unik. Dikenal sebagai seniman musik di zaman Orde Lama, dirinya merupakan lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Hal ini tak lepas dari kedua orang tua Sudharnoto yang ternyata piawai memainkan beragam alat musik seperti gitar, seruling, dan biola.

Potret Sudharnoto [sumber gambar]
Menurut Hersri Setiawan dalam Kamus Gestok yang dikutip dari Historia menuliskan, Sudharnoto banyak belajar soal musik seperti piano, not balok dan aransemen pada musikus kenamaan pada saat itu, yakni Josh Cleber, Daljono (Pak Dal), Maladi (pendiri RRI dan mantan menteri), Soedjasmin (Orkes Angkatan Kepolisian RI), dan Soetedjo (Orkes ALRI).

Kemampuan Sudharnoto dalam musik pun semakin berkembang hingga kemudian mengisi siaran musik RRI. Dirinya juga didapuk sebagai pengisi acara khusus dengan tajuk “Hammond Organ Sudharnoto”. Pada tahun 1956, Sudharnoto bersama rekannya yang bernama Prahar menciptakan lagu Mars Pancasila dan kemudian menjadi Garuda Pancasila.

Ciptakan lagu Garuda Pancasila [sumber gambar]
Sembari berkarir di bidang musik, Sudharnoto juga aktif di organisasi kebudayaan sebagai anggota Pimpinan Pusat Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Salah satu pencapaian Sudharnoto yang luar biasa adalah saat dirinya mendirikan Ansambel Gembira pada 3 Februari 1952.

Sayang, pecahnya peristiwa G30S/PKI pada 1965 membuat karir Sudharnoto sebagai seniman tersendat. Kiprahnya di Lekra pun terhenti karena organisasi tersebut dicap ‘kiri’ lantaran terkait dengan gerakan komunisme. Ia dipecat dari RRI dan menjadi tahanan politik di Rumah Tahanan Chusus (RTC) Salemba.

Ilustrasi tahanan [sumber gambar]
Bahkan hingga keluar dari tahanan, Sudharnoto sempat menjadi sopir taksi dan penyalur es dari pabrik es Petojo Jakarta. Meski sempat melalui masa-masa sulit, ia berhasil membangun kembali karier bermusiknya yang sempat terhenti. Sejak 1972, Sudharnoto lebih banyak berkecimpung sebagai penata musik untuk film-film nasional.

Tercatat, Sudharnoto berhasil Piala Citra untuk tata musik terbaik pada 1980 lewat film Kabut Sutra Ungu, Dr. Siti Pertiwi Kembali ke Desa, tahun 1983 pada film R.A. Kartini, dan film Amrin Membolos (1996). Pada 11 Januari 2000 di Jakarta, pencipta lagu Garuda Pancasila itu tutup usia.

BACA JUGA: Siapa Sangka Ternyata Lagu Nasional Kita Pernah Dijiplak Lho, Ini Buktinya!

Meski nama Sudharnoto sempat luntur di zaman Orde Baru, lagu Garuda Pancasila ciptaannya tak habis termakan zaman. Bahkan hingga Soeharto lengser dari kekuasaannya pada 1998 silam, Garuda Pancasila telah berkumandang hingga kini dan menjadi salah satu lagu-lagu nasional.