Sejak hadirnya jejaring media sosial semacam facebook dan twitter, apalagi sekarang muncul Instagram, gaya komunikasi pun berubah. Siapa pun bisa ngomong dan mengomentari cuitan siapa saja. Tidak terkecuali tokoh publik. Bahkan bisa mengkritiknya langsung.
Bagi tokoh publik, kehadiran media sosial macam facebook dan twitter juga merubah ruang komunikasi mereka. Awalnya setiap ingin berkomentar, tokoh publik, baik itu selebritis atau bahkan kepala negara perlu menggelar acara semacam jumpa pers, kini tak diperlukan lagi. Mereka bisa mencuit di twitter, atau bicara di akun facebooknya.
Jadi tak usah lagi susah payah mengumpulkan atau mengundang awak media hanya untuk sekedar komentarnya dapat dimuat di media. Cukup mencuit di twitter, atau menulis di facebook, media akan langsung menyambar.
Di Indonesia, mantan Presiden SBY, adalah tokoh yang lumayan aktif mencuit di twitter. Bahkan SBY, marah-marah pun lewat twitter. Terlebih waktu menjelang pemungutan suara Pilkada DKI Jakarta, SBY begitu rajin mencuit. Ya, maklum anaknya, Agus Harimurti sedang manggung berebut tiket gubernur. Selain SBY, Presiden RI sekarang, Jokowi, juga aktif menuliskan cuitan-cuitannya di twitter dan akun facebooknya.
Tokoh tenar itu adalah Lance Armstrong, pembalap sepeda dunia, peraih 7 gelar ajang balap sepeda paling bergengsi di dunia, Tour de France. Hebatnya, tujuh gelar juara yang diraih pemilik nama lengkap Lance Edward Gunderson itu direngkuh secara berturut-turut dari tahun 1999 hingga 2005.
Tapi gara-gara lebih memilih twitter untuk bicara, Armstrong dimusuhi para wartawan. Ceritanya begini. Suatu saat, Amstrong hendak diwawancarai awak media. Namun ia kemudian menolaknya. Dan menyarankan para awak media mengutip saja apa yang ia cuitkan di akun twitternya.
Tentu saja, saran Armstrong itu membuat para awak media ‘marah’. Mereka menganggap Armstrong sombong tak mau lagi diwawancarai langsung. Para awak media juga menganggap saran tersebut ‘meremehkan’ kerja para jurnalis. Mereka pun akhirnya ramai-ramai memboikot Armstrong . Ramai-ramai, mereka tak mau lagi menulis segala berita tentang pembalap sepeda kelahiran Plano, Texas, Amerika Serikat, 18 September 1971 itu.
Jelas saja, jawaban sang pembalap membuat para wartawan marah. Mereka pun memboikot Armstrong. Pihak manajemen Armstrong coba menengahi untuk meredakan amarah para jurnalis. Mereka secara resmi meminta maaf.
Tentu kisah diboikotnya Armstrong oleh media, harus jadi pelajaran bagi siapa pun yang sedang jadi tokoh publik. Tidak bisa kemudian, hanya karena sudah ada twitter, lantas menolak untuk diwawancarai. Apalagi jika si tokoh publik itu memang berhadapan langsung dengan para jurnalis.