Baru-baru ini hal tidak mengenakan tengah menerjang para pecinta sepak bola nasional, terkhusus untuk mereka yang menyukai Timnas junior. Pasalnya, pada Minggu (24/03/19), Garuda Muda harus rela mengubur dalam-dalam tampil di Piala Asia 2020. Sekaligus, sedikit memperpanjang rekor buruk Indra Sjafri pasca mempersembahkan sebuah gelar juara. Indonesia sendiri sebetulnya tampil di ajang kualifikasi tersebut bukanlah dengan skuad biasa-biasa saja.
Tambahan Egy Maulana dan Saddil Ramdani bisa dikatakan membuat tim tersebut tambah hebat lagi. Namun, layaknya pepatah ‘untung tidak dapat diraih, malang tak dapat ditolak’, dua kekalahan beruntun, membuat anak asuh Indra Sjafri hanya akan berlomba dengan Brunei untuk terhindar dari posisi dasar klasemen. Meski pedih, tapi ada beberapa pelajaran lho bisa dipetik dari hasil nestapa tersebut. Apakah itu? Simak analisis crew Boombastis berikut ini untuk mengetahuinya.
Bukan sebuah rahasia lagi, kalau hal ini banyak menjadi dalil di balik kegagalan Timnas. Yaa, seperti kita ketahui pasca mereka meraih gelar juara AFF U-22, euforia besar langsung menyambut mereka. Mulai dari diarak sampai dibawa ke acara ini itu. Pokoknya layaknya seperti sudah memenangkan Piala Dunia. Kendati apresiasi itu adalah hal perlu, tapi kalau berlebihan jatuhnya bisa menjadi racin yang siap memakan sebuah kejayaan.
Tidak berhenti di hal pertama tadi saja. Bila kalian melihat dua laga yang mengubur mimpi Timnas, variasi taktik untuk merubah keadaan bisa dikatakan sangatlah minim. Di mana, anak asuh Indra Sjafri selalu kesulitan lepas dari sebuah taktik lawan. Meski pada laga ke dua kontra Vietnam pertahanan mereka bagus, tapi lagi-lagi gagal memasuki bola ke gawang lawan.
Selain kedua hal tadi, pelajaran yang bisa petik dari hasil minor ini adalah sedikit gambaran kalau sepak bola Indonesia semakin tertinggal dari ‘penguasa’ Asia Tenggara macam Vietnam dan Thailand. Bahkan bila dilihat peringkat FIFA, Indonesia berada jauh dibelakang kedua negara ini.
Memetik hikmah dari apa yang dirasakan Egy Maulan Vikri dan kawan-kawan, agaknya kurang lengkap bila tidak meneropong juga hal ini. Walaupun laman sosial media PSSI selalu peduli dan penuh semangat sebelum Tim Merah Putih berlaga, tapi dukungan itu jauh dari kata cukup. Maksudnya, sebuah prestasi butuh dari sekedar senyum-senyum manis federasi.
Lalu juga ada Jerman sebelum raih gelar Piala Dunia 2014, mereka merombak sistem sepak bola dari tingkat paling bawah. Dari kedua hal ini, pastinya bobroknya federasi punya dampak yang luas. Lantas bagaimana dong? Sekali lagi, tidak perlu dijelaskan seharusnya bisa mengetahui jawabannya.
BACA JUGA: Diguyur Uang Melimpah, Ini Lho 4 Hal Edan Bisa Didapatkan dengan Total Bonus Timnas U-22
Berkaca dari hasil ajang kualifikasi tersebut tentu sangatlah menyedihkan. Apalagi capaian tersebut diraih ketika Timnas sudah berada di jalur bagus usai meraih gelar juara AFF. Besar harapan kekalahan ini bisa jadikan pelajaran dan meningkatkan kesadaran, kalau sebuah prestasi tidak akan diraih secara instan. Ingat Thailand dan Vietnam memulainya dengan reformasi besar-besaran.
Fenomena viral Arra, bocah lima tahun yang dikenal karena kepandaiannya berbicara dengan gaya dewasa, kembali…
Nama Fedi Nuril akhir-akhir ini kembali dikenal publik. Bukan karena kembali membintangi film dengan tokoh…
Kamis (20/3/2025) pukul 03.00 WIB, saat asyik scrolling media sosial X sambil sahur, mata tertambat…
Dunia aviasi Indonesia bakal semakin berwarna dengan kehadiran burung-burung besi baru. Indonesia Airlines, sebuah perusahaan…
Lagi-lagi rakyat Indonesia dibikin geleng-geleng kepala oleh ulah aparat penegak hukum. Kali ini kasusnya sedang…
Baru-baru ini, dunia hiburan Korea Selatan diguncang oleh skandal yang melibatkan aktor papan atas, Kim…