Seperti namanya, ‘Rumah Sakit’ memang ditujukan bagi mereka yang tengah terbaring sakit tanpa pandang status ataupun materi. Tapi nyatanya, saat ini masih ada beberapa RS yang mengabaikan fungsi utama untuk menolong sesama hanya karena masalah dana. Memang, pemerintah sudah menerapkan asuransi untuk mempermudah masyarakat untuk berobat di rumah sakit atau klinik lainnya.
Mirisnya, program yang dibuat oleh pemerintah tersebut tak banyak membantu masyarakat kecil untuk memperoleh pelayanan yang dibutuhkan. Bahkan, tak sedikit kasus di mana pasien yang sangat membutuhkan justru ditolak dengan ragam alasan klise. Hingga saat ini, tak sedikit nyawa yang harus melayang karena keterlambatan hingga penolakan rumah sakit, berikut ini beberapa contohnya.
Sebagai orangtua, Henny Silalahi dan Rudianto Simanjorang hanya bisa mengenang bayi mereka yang telah pergi. Awalnya, bayi Debora mengalami pilek selama seminggu. Tiga hari sebelum meninggal, Debora juga batuk-batuk. Khawatir karena kondisi bayinya makin parah, akhirnya Rudi dan Henny melarikan Tiara Debora ke rumah sakit untuk melakukan pengecekan.
Tanpa pikir panjang, Rudi segera mengurus administrasi agar putrinya bisa masuk PICU. Di sana, Rudi disodori daftar harga yang harus dibayar, setidaknya sekitar 19.800.000. Tak memiliki uang sejumlah itu, Rudi hanya bisa membayarkan senilai 5 juta. Namun pihak rumah sakit mengembalikan uang tersebut karena dinilai tidak cukup. Meski sudah memohon, namun Debora tetap tidak bisa masuk PICU dan akhirnya meninggal dunia.
Mesiya Rahayu, bayi berusia 15 bulan meninggal setelah ditolak empat rumah sakit di Tangerang. Bayi malang tersebut diketahui mengalami infeksi paru-paru dan terlambat mendapatkan pertolongan. Berawal dari gejala muntah dan sesak napas yang dialami Mesiya, kedua orangtuanya pun membawa bayi tersebut ke klinik setempat. Dari klinik, pasien langsung dirujuk ke RS untuk mendapatkan perawatan. Sampai di rumah sakit, ayah Mesiya mengajukan BPJS, namun tidak diterima karena BPJS yang diajukan merupakan BPJS Ketenagakerjaan.
Muhammad Rizky Akbar, balita berusia 2,9 tahun meninggal pada pertengahan Agustus tahun 2016 lalu. Dan lagi-lagi, penyebab meninggalnya bocah polos tersebut juga karena penolakan dari rumah sakit. Mirisnya, penolakan yang diberikan oleh rumah sakit juga terlalu klise, karena pihak RS tidak menerima BPJS. Awalnya, Rizky mengalami gejala penyakit seperti amandel. Namun, makin hari kondisinya makin memburuk, tubuhnya membiru dan kakinya membengkak.
Abbiyasa mengalami penyumbatan saluran pencernaan yang membuat kondisinya terus melemah. Menurut sang ayah, Edi Karno, putranya membutuhkan fasilitas pediatric intensive care unit (PICU). Namun, saat tengah membutuhkan pertolongan yang darurat, purtanya justru mendapat penolakan beberapa rumah sakit. Namun, demi kesembuhan Abbiyasa, Edi Karno tanpa kenal lelah keliling Jakarta, Depok, dan Bekasi untuk mencari rumah sakit yang bersedia menampung anaknya.
Dari empat kasus di atas, setidaknya kita bisa bercermin betapa mirisnya menjadi orang yang tidak memiliki dana. Dengan meledaknya kisah-kisah miris di atas, semoga pihak rumah sakit di mana pun itu bisa lebih peka dengan kondisi orang-orang yang membutuhkan.
Fenomena viral Arra, bocah lima tahun yang dikenal karena kepandaiannya berbicara dengan gaya dewasa, kembali…
Nama Fedi Nuril akhir-akhir ini kembali dikenal publik. Bukan karena kembali membintangi film dengan tokoh…
Kamis (20/3/2025) pukul 03.00 WIB, saat asyik scrolling media sosial X sambil sahur, mata tertambat…
Dunia aviasi Indonesia bakal semakin berwarna dengan kehadiran burung-burung besi baru. Indonesia Airlines, sebuah perusahaan…
Lagi-lagi rakyat Indonesia dibikin geleng-geleng kepala oleh ulah aparat penegak hukum. Kali ini kasusnya sedang…
Baru-baru ini, dunia hiburan Korea Selatan diguncang oleh skandal yang melibatkan aktor papan atas, Kim…