Pulau Bali adalah pulau yang menjadi kebanggaan bangsa Indonesia. Pulau yang sangat indah ini terkenal di seluruh penjuru dunia. Malah tidak jarang, orang yang ada di luar Indonesia menyangka bahwa Bali adalah ibukota dari Indonesia.
Kecantikan Pulau Dewata menarik banyak wisatawan asing. Negara kita mendapat banyak penghasilan dan devisa dari kegiatan pariwasata tersebut. Namun, keuntungan itu tidak datang sendiri. Di balik berjayanya Bali sebagai pulau wisata, ada beberapa potret hitam yang tersembunyi di baliknya.
1. Menjadi Tempat Paling Berbahaya Bagi Anak
Terbongkarnya kasus Angeline, membuat mata masyarakat terbuka bahwa kekerasan anak terjadi merata di seluruh Indonesia. Jika kita kilas balik lagi, beberapa data menunjukkan bahwa Bali adalah salah satu tempat yang paling berbahaya bagi anak. Bali menempati posisi ketiga setelah Batam dan Jakarta sebagai tempat yang berisiko terhadap keselamatan anak.
2. Ritual Keagamaan Tidak Lagi Khidmat
Selain panorama alam yang sangat memesona, Bali juga dikenal dengan kebudayaan warganya yang unik dan kompleks. Secara garis besar, upacara-upacara yang digelar di Bali merupakan upacara keagamaan. Beberapa diantaranya berupa festival, namun tidak sedikit berupa upacara sakral yang harus dilakukan dengan khidmat.
3. Pihak Asing Menjadi Pengelola Toko dan Hotel Terbesar di Bali
Geliat pariwisata di Bali berperan sangat besar dalam mengokohkah perekonomian warga sekitar. Industri kerajinan tangan, perhotelan hingga kuliner menjadi bergairah karena kedatangan turis dari seluruh penjuru dunia. Hal ini merupakan berkah bagi warga Bali.
4. Lingkungan yang Mulai Tidak Asri
Selama berpuluh-puluh tahun, masyarakat Bali berhasil mempertahankan keasrian dan kebersihan lingkungan mereka. Ini juga yang membuat para turis betah berlama-lama di Pulau dengan sejuta keindahan pantai tersebut. Namun, beberapa tahun terakhir, keasrian tersebut terkikis.
5. Rentan Terkena “Serangan” Budaya Asing
Interaksi antara warga Bali dengan masyarakat dari berbagai penjuru dunia tentu tidak dapat dielakkan. Dalam proses tersebut, saling mempengaruhi budaya juga tidak dapat dihindarkan. Hal ini adalah hal yang positif, karena kita memang harus belajar tentang budaya dan kehidupan di negara lain.
Kita harus menyadari, untuk setiap keuntungan yang kita dapatkan, terdapat resiko yang harus kita antisipasi. Sebelum hal-hal di atas merajalela dan merugikan kita, tidak ada salahnya untuk memperbaiki diri dan sistem di sekitar kita. Bali adalah milik dan tanggung jawab kita bersama.
Tentu ada jalan tengah yang bisa membuat geliat pariwisata tetap meriah dan kearifan lokal tetap terjaga. Tentu ada jalan tengah bagi pembangunan secara fisik dan pembangunan secara budaya. Ini tugas utama kita sebagai anak bangsa. (HLH)