Kasih ibu sepanjang masa. Agaknya, petikan sebuah lagu tersebut seakan menyiratkan makna terdalam dari kasih sayang seorang ibu terhadap buah hatinya. Barisan bait dari lagu itulah yang cocok disematkan pada sosok Paidi, figur pria perantauan yang berprofesi sebagai tukang kebun yang telah lama terpisah dari kehangatan dan kasih sayang sang ibunda tercinta.
Tak kepalang tanggung, dirinya yang memutuskan menjadi perantauan di tanah seberang tersebut, baru bertemu oleh sang ibu setelah terpisah selama 38 tahun lamanya. Namun ternyata takdir berkata lain. Lewat kebaikan majikan dimana Paidi bekerja, ia akhirnya bisa kembali bertemu dan merasakan hangatnya pelukan sang ibu yang telah lama dirindukannya. Seperti apa kisah harunya? simak ulasan berikut.
Merantau demi lepas dari jerat kemiskinan
Seperti kisah yang berulang kali terjadi di negeri yang kaya ini, memilih mengadu nasib sebagai perantauan menjadi sebuah keputusan hidup yang terpaksa harus dijalani. Karena daerah asal tak lagi ramah memberikan hasilnya sebagai bekal untuk bertahan hidup, mencari nafkah di daerah luar pun terpaksa dijalani, meski dengan resiko meninggalkan keluarga.
Tukang kebun yang hidup terlunta-lunta dan menumpang di tanah orang
Tak mudah bagi Paidi untuk bertahan hidup di negeri orang. Selain tak pernah mengenyam pendidikan secara formal, ia juga nyaris tidak punya keterampilan khusus untuk bertahan di tanah rantau. Alhasil, dirinya yang saat itu bekerja sebagai tukang kebun, tak punya cukup bekal ekonomi dan hidup sebatang kara di negeri orang.
Masa lalunya yang terkuak oleh sang majikan
Sebagai pemilik kebun dimana tempat Paidi bekerja, Muzamil saat itu tidak begitu mengetahui tentang sosok tukang kebunnya barunya tersebut. Setelah bertemu dengan dirinya pada 18 Agustus, Muzamil kaget setelah mendengar penuturan polos Paidi. Saat itu, Paidi berkisah bahwa ia sudah berada di Bengkulu sejak 1981.
Momen haru setelah 38 tahun terpisah
Demi mempertemukan Paidi dengan ibunya, Muzamil menghubungi salah seorang kerabatnya yang juga kebetulan tinggal di Wonogiri, daerah yang sama tempat keluarga Paidi tinggal. Selang tiga hari berlalu, dirinya berhasil menemukan alamat keluarga Paidi di Desa Puloharjo, Kec. Eromako, Wonogori. Beberapa minggu berselang, Muzamil pun akhirnya berhasil membawa Paidi pulang ke desanya.
Akhirnya, setelah menanti kepastian selama 38 tahun, Paidi bisa bertemu kembali dengan sang Ibu. Suasana haru pun menyeruak, manakala suara tangis pecah dari kedua orang yang selama ini terpisah selama puluhan tahun lamanya. Sambil berpelukan, Paidi pun hanya bisa terdiam membisu, kaget sekaligus tak percaya dengan pertemuan tersebut. Hanya linangan airmatanya yang mengalir, sebagai tanda syukur dirinya bisa berkumpul kembali dengan sang ibu dan keluarganya.
Ingin terus berbakti kepada sang ibunda tercinta
Saat pertemuan haru tersebut, keluarga Paidi telah menyiapkan semacam tumpeng dengan sajian lauk ayam sebagai ungkapan rasa syukur atas momen bersejarah tersebut. Tak hanya itu, acara syukuran tersebut juga turut mengundang teman-teman Paidi, dan dihadiri oleh 50 orang tetangganya selama tiga hari.
Bagaimanapun juga, kasih seorang ibu terhadap anaknya, tak akan pernah lekang dan padam meski terpisah selama puluhan tahun lamanya. Ungkapan sederhana ini dibuktikan oleh kisah Paidi yang akhirnya dapat bertemu sang Ibu setelah 38 tahun lamanya terpisah. Lewat sekelumit kisah ini pula, kita bisa merasakan, betapa kasih sayang seorang Ibu, tak akan pernah lekang meski terpisah jarak dan waktu.