Beberapa waktu lalu, di berbagai media di Tanah Air sampai dengan di banyak akun jejaring sosial mengulas tentang seseorang bernama Muhammad Kusrin yang ditangkap pihak kepolisian karena merakit TV sendiri. Kusrin sendiri adalah seorang lulusan Sekolah Dasar yang memiliki kelihaian yang didapatnya secara otodidak. Dia mampu merakit TV dan beberapa barang bekas lain yang sudah tidak terpakai atau rusak menjadi sebuah TV yang siap pakai.
Dia menjual barang-barang ciptaannya tersebut dengan harga sangat murah, yaitu hanya sekitar Rp 350 ribu per unitnya. Sayangnya, dia harus berhadapan dengan pihak berwajib, serta terancam hukuman 6 bulan penjara dan denda Rp 2,5 juta karena melanggar hukum perdagangan yaitu produknya tidak memiliki label SNI atau Standar Nasional Indonesia.
Walaupun terjadi pro dan kontra di berbagai media sosial, ada yang menyebutkan memang pantas Kusrin menerima hukuman karena produk-produknya masih menggunakan merk dagang perusahaan lain. Ada pula yang menyayangkan sikap pengadilan yang langsung memberikan vonis, serta menghancurkan semua ciptaan Kusrin tersebut. Menjadi satu hal yang miris sekali ketika di banyak negara, orang seperti Kusrin justru akan ‘diselamatkan’ atau mendapatkan apresiasi karena kepintaran dan kreativitasnya, tetapi di negeri sendiri, dia malah dihukum dan produknya tidak dihargai.
Selain Kusrin, ada banyak sekali orang-orang Indonesia yang karyanya justru lebih dihargai dan terkenal di luar negeri dibanding di negeri sendiri. Berikut daftar orang Indonesia beserta produk ciptaannya atau karyanya yang lebih dihargai di negara orang ketimbang di negaranya sendiri.
1. Dr Khoirul Anwar
Bernama lengkap Eng. Khoirul Anwar, pria kelahiran Kediri pada tahun 1978 ini merupakan salah satu orang dengan otak yang cukup pintar di Negeri Sakura, Jepang. Ciptaannya yang cukup terkenal adalah teknologi broadband yang menjadi cikal bakal lahirnya generasi mobile, 4G LTE, yang sekarang sudah banyak dikembangkan dan dipakai di berbagai negara di dunia.
Kini hasil karya pria yang merupakan lulusan dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Nara Institute of Science and Technology (NAIST), Jepang ini telah dia patenkan atas namanya sendiri dan sangat bermanfaat bagi dunia mobile dunia.
2. Warsito P Taruno
Warsito P Taruno adalah seorang pria yang menempuh 3 pendidikan tingkat lanjutnya (S1-S3) di Negeri Matahari Terbit, Jepang. Ilmu yang dia dapatkan di Jurusan Teknik Kimia, Teknik Elektro dan beberapa risetnya di Amerika Serikat serta saat menjadi dosen Fisika Medis di Universitas Indonesia, Warsito berhasil menciptakan satu alat yang dirasa akan sangat berguna bagi dunia kesehatan.
Karya ciptanya tersebut berupa teknologi berbasis energi rendah yang dipadukan dengan teknologi terapi kanker. Hasil yang dia dapat sungguh menakjubkan. Setelah mengujicobakan karyanya itu di Lab in Vitro, produk ciptaannya tersebut berhasil menjadi sarana untuk memerangi kanker dari tubuh seorang penderita.
Tidak patah semangat, dia mencoba mencari izin serupa di negara lain, yaitu Jepang. Tanpa diduga, justru pemerintah Jepang menghargai hasil karyanya dan secara regular memesan produk buatannya tersebut karena menurut hasil uji coba di negara tersebut, karya Warsito lebih efektif untuk memerangi kanker dibandingkan dengan peralatan sejenis ciptaan negara lain.
3. Randall Hartolaksono
Siapa sangka hasil olah pikiran dan kreativitas dari seorang pria kelahiran Surabaya pada tanggal 16 Maret 1956 ini justru digunakan oleh banyak perusahaan otomotif dunia. Randall Hartolaksono adalah seorang lulusan dari University of London, jurusan Teknik Mesin yang berhasil menggunakan sampah makanan menjadi obyek yang sangat penting.
Sampah makanan yang dimaksud adalah kulit singkong yang sering dibuang orang karena dirasa tidak memiliki fungsi, akhirnya diubah oleh pria yang dikenal dengan nama Hart ini menjadi salah satu bahan anti-api dan anti-panas yang digunakan dalam beberapa produk mobil dunia, seperti Ford sampai Petronas.
Dengan ulet, Hart terus mengembangkan penelitian-penelitian lanjutan yang tak satupun lisensi atau sertifikat uji standarnya didapat dari Indonesia atau negara kelahirannya sendiri.
4. Ricky Elson
Tentunya Anda pernah mendengar bahwa dulu sempat ada penciptaan mobil sport hasil karya anak bangsa bernama Selo, bukan? Nah, setelah dibuat dalam bentuk ‘beta,’ mobil hasil karya Ricky Elson atau pakar mesin lokal ini ditolak oleh pemerintah Indonesia karena menganggapnya tidak lolos uji emisi. Ketika pemerintah Indonesia menolak Selo karena menganggap tidak ramah lingkungan, pemerintah Malaysia justru tertarik dan meminang produk buatan Ricky tersebut untuk dikembangkan lebih lanjut.
Pada akhirnya, Ricky mengiyakan tawaran dari pihak Malaysia untuk mengembangkan Selo lebih lanjut karena tidak ada titik temu dan pembicaraan serius dari pemerintah Indonesia.
5. Arfi’an Fuadi dan M Arie Kurniawan
Arfi’an Fuadi adalah seseorang dengan memiliki bakat luar biasa dan hanya memiliki ijazah SMK jurusan Mekanik Otomotif di SMK Negeri 7 Semarang yang pernah ditolak untuk dapat masuk ke jurusan Teknik Elektro, Universitas Diponegoro karena dianggap tidak sesuai antara ijazahnya dengan jurusan yang diinginkan.
Tentu saja, penolakan tersebut membuat Arfi kecewa dan menyurutkan niatnya untuk meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Untuk mengobati rasa kecewa tersebut, Arfi beserta adiknya dan M Arie Kurniawan mencoba-coba untuk berkiprah dalam dunia desain, sembari menjadi tukang serabutan sebagai tukang cetak foto, mekanik di bengkel, kuli pasir, pencuci motor sampai dengan penjual susu kelilinga karena mereka berdua adalah tulang punggung keluarga.
Tanpa disadari kemauan keras dan perjuangan mereka membuahkan hasil, tercatat ada banyak prestasi yang mereka dapatkan dari ke-otodidakannya tersebut. Mereka yang kini telah memiliki 2 karyawan tambahan untuk berbagai proyek, pernah menjadi juara kompetisi 3 dimensi, 3D Design Enginereeng, untuk kategori Jet Engine Bracket (penggantung mein untuk pesawat jet) yang diselenggarakan oleh General Electric (GE) di Amerika Serikat dan mengalahkan lebih dari 700 peserta dari 56 negara.
Tidak hanya itu saja, mereka juga pernah mengalahkan doktor serta mahasiswa S3 di luar negeri pada kompetisi CAD (Computer Aided Design). Kini usahanya yang mereka namakan D-Tech Engineering Salatiga tersebut sangat dikenal di berbagai negara di dunia dan memiliki segudang client yang memesang hasil rancangan dari mereka.
6. Muhammad Nurhuda
Jika dilihat sekilas, memang produk ciptaan Muhammad Nurhuda ini nampak biasa dan masih seperti kompor minyak pada umumnya, namun siapa tahu bahwa justru hasil karyanya itu laris manis di banyak negara, khususnya Norwegia.
Nurhuda adalah seorang dosen Fakultas MIPA di Universitas Brawijaya Malang yang berhasil menciptakan kompor yang hemat bahan bakar dan ramah lingkungan karena berbasis biomassa yang emisi gas buangnya jauh di bawag ambang batas yang ditetapkan Badan Kesehatan Dunia (WHO).
Tidak patah semangat, Nurhuda mencoba untuk memasarkan ke luar negeri dan ternyata peminat dari produknya tersebut justru melampaui ekspektasi.
Negara-negara pasar kompor biomassa ciptaan Nurhuda ini adalah mulai dari India, Meksiko, peru, Timor Leste, Kamboja sampai di benua Afrika. Bahkan produknya tersebut sudah diproduksi secara massal di Norwegia.
7. Yogi Erlangga
Mungkin tidak banyak orang yang suka akan pelajaran satu ini, matematika, namun bagi Yogi Erlangga, pelajaran tersebut justru sangat menarik sehingga dia sampai meneruskan pendidikannya dan meraih gelar doktor di Universitas Teknologi Delft, Belanda dan dinobatkan sebagai doktor matematika terapan termuda (31 tahun).
Berbekal ilmu dan pendidikan yang dia dalami, Yogi melakukan sejumlah riset dengan mengambil sample penelitian dalam hal efisiensi penggunaan minyak. Dalam penelitiannya tersebut, Yogi berhasil memecahkan permasalahan yang selama bertahun-tahun coba dicari rumusnya dalam pencarian minyak secara cepat dan efisien. Yogi menggunakan unsur gelombang, pemetaan dan penghitungan secara detail dan sistematis dalam penelitiannya tersebut.
Dalam blog pribadinya, Yogi menuliskan bahwa di tahun 1970, Indonesia, Malaysia, Korea Selatan dan Cina adalah negara yang sama dan tidak memiliki sesuatu yang dibanggakan. “Di tahun 1970, Indonesia, Malaysia, Korea, Cina were nothing. Tahun 1980, Korea became something, Tahun 1990, Malaysia started to be something. Sekarang Cina is everything. Sayangnya, we’re still nothing.”
Selain orang-orang ‘jenius’ di atas, jika ingin dibahas lebih tuntas, masih banyak lagi para inventor seperti mereka yang justru karya dan buah pikirannya lebih berharga atau dihargai di negara lain ketimbang di Indonesia atau negaranya sendiri. Seperti contohnya Rini Triyani Sugianto yang menjadi salah satu animator di film layar lebar terkenal, Avangers: Age of Ultrons sampai dengan The Hobbit: An Unexpected Journey. Josaphat Tetuko Sri Sumantyo pencipta JX-1 atau drone terbesar se-Asia, Jim Geovedi, pakar IT yang pernah mengguncang dunia teknologi karena berhasil membelokkan satelit, sampai dengan Endri Rachman pencipta UAV yang lisensinya dibeli Malaysia.
Mungkin bagi Anda yang sampai sekarang masih mengagung-agungkan produk luar negeri dan memandang sebelah mata produk lokal, maka perlu diingat bahwa Indonesia memiliki segudang talenta yang tak kalah hebat dari manapun dan hal tersebut sudah cukup terbukti, bahkan produk atau karya mereka sangat populer. Sayangnya, kejelian pemerintah Indonesia kurang begitu tajam dalam mengetahui orang-orang pintar semacam mereka, untuk lebih ‘dirawat’ agar dapat membantu negara sendiri dalam berkiprah di kancah global.