Kasus insiden di Asrama Mahasiswa Papua (AMP) berupa ujaran bernada rasial memang mengejutkan banyak pihak. Bak bola panas yang bergulir, kejadian tersebut dinilai sangat menyinggung masyarakat dari bumi Cendrawasih tersebut. Ya, rasisme memang begitu menakutkan bagi Indonesia yang penduduknya sangat beragam. Di masa lalu, Jenderal Oerip Soemohardjo adalah orang yang tegas dengan masalah tersebut.

Dikenal sebagai pendiri TNI di sekitar tahun 1945, ia juga dikenal sebagai sosok dengan caranya sendiri, melawan politik rasial yang dilakukan oleh kolonialis Belanda. Saat itu, bangsa kulit putih yang menjajah Indonesia memang terlihat sangat superior di banding penduduk lokal yang notabene adalah bumiputera. Praktik berbau rasisme pun seolah dipandang sebagai sesuatu yang sangat biasa untuk dilakukan.

Oerip Soemohardjo melarang adanya kereta api rasis

Sebagai Letnan muda di Tentara Kerajaan Hindia Belanda alias Koninklijk Nederlandsch Indische Leger (KNIL), sejak 1914, Oerip Soemohardjo melihat sendiri bagaimana sikap rasis yang ada saat dirinya berdinas di Balikpapan. Di kota tersebut, terdapat kereta api khusus untuk mengangkut pegawai perusahaan minyak dari kota ke pedalaman. Jelas, penumpangnya adalah orang-orang Belanda dari kalangan kulit putih.

Oerip Soemohardjo bersama dengan Jenderal Sudirman [sumber gambar]
Rohmah Soemohardjo-Soebroto, istri dari Oerip Soemohardjo, dalam bukunya Oerip Soemohardjo: Letnan Jenderal TNI (22 Pebruari 1893-17 November 1948) (1973:45-46), (1973:45-46) bercerita, Letnan Oerip yang mencoba naik ke dalam dan ditegur oleh masinis. Alhasil, ia pun melarang kereta api kecil itu berangkat karena dirinya menganggap bahwa keamanan daerah tersebut merupakan kewenangan dirinya. Meski diadukan kepada petinggi militer KNIL di Jawa, tindakan Oerip ternyata dibenarkan. Sejak saat itu, kereta api itu pun akhirnya mengangkut penumpang baik kulit putih dan kulit coklat.

Enggan menghadiri acara peringatan ulang tahun Ratu Belanda

Perlawanan lain yang ditunjukkan oleh Letnan Oerip muda juga terjadi di Banjarmasin. Sesuai tradisi, hari kelahiran Ratu Wilhelmina selalu diperingati pada tanggal 31 Agustus harus diperingati oleh pegawai dan tentara Hindia Belanda itu. Tak terkecuali Oerip yang merupakan perwira KNIL. Saat itu, acara kerap dilaksanakan di di tempat ekslusif yang disebut Kamar Bola (disebut juga Societeit), yang hanya bisa dimasuki orang-orang Eropa saja.

Enggan hadiri acara peringatan ulang tahun Ratu Belanda [sumber gambar]
Bukan apa-apa, tulisan Verboden voor honden en inlander (dilarang masuk untuk anjing dan pribumi) adalah penyebabnya. Oerip, meski dirinya seorang bumiputera, kadang disamakan statusnya dengan orang-orang Eropa karena pangkat yang dimiliki. Alhasil, ia pun memilih melawan dengan tak ikut menghadiri acara tersebut. Sederhana saja, “Saya bukan anggota Kamar Bola, karena hanya orang Eropa yang boleh menjadi anggota,” jawab Oerip, seperti dicatat Rochmah (1973:46) yang dikutip dari Tirto.

BACA JUGA: Mengenang Urip Sumoharjo, Sesepuh Tentara Indonesia yang Mulai Dilupakan

Baik di masa lalu hingga saat ini, rasisme telah menjadi salah satu bentuk diskriminasi yang sering terjadi di Indonesia. Kisah di atas, menjadi bukti bahwa tindakan rasis adalah sebuah bentuk penghinaan terhadap harga diri yang harus dilawan. Terlebih di era Indonesia modern, hal tersebut juga bisa mengancam keutuhan bangsa yang telah susah payah dibangun dengan keragaman etnis dan budayanya.