Bila melihat tanggalnya yang jatuh pada 17 April 2019, pastinya dari sekarang Pemilihan Umum atau juga dikenal pemilu hanya tinggal menghitung jari saja. Bahkan, gaungnya kini lambat laun mulai terasa dimana-mana. Mulai dari semakin banyak baliho memarken wajah Caleg sampai terjadinya kampaye-kampaye di sejumlah wilayah tanah air.
Bisa dikatakan, selain mempertontonkan sebuah sistem bernama demokrasi, ajang ini juga mempertontonkan bagaimana negara membebaskan seorang individu menggunakan suaranya. Malahan di tanah Papua sana, sebagian wilayah menggunakan sebuah alat tradisional untuk menyelenggarakan pemilu. Seperti apakah itu? Mari simak ulasan berikut ini untuk mengetahuinya
Alat tradisional yang digunakan untuk pemilu bernama noken
Mungkin untuk sebagian orang noken bukanlah sebuah hal tabu. Apalagi kalau berhubungan dengan listrik rumah, pasti menjadi sebuah hal yang sangat tidak asing. Kembali tentang hal tersebut, noken sebetulnya merupakan sebuah tas khas Papua yang terbuat dari benang akar pepohonan. Lalu apa hubungannya dengan pemilu?
Deretan wilayah-wilayah ini yang mengunakan sistem tersebut
Walaupun unik, namun usut punya usut tidak semua wilayah di sana menggunakan hal tersebut. Tercatat hanya beberapa daerah yang ada di Pegunungan Tengah yang tetap memilih noken untuk pemilu. Dilansir Boombastis dari CNNIndonesia wilayah-wilayah tersebut adalah Kabupaten Jayawijaya, Lainnya Jaya, Tolikara, Nduga, Mamberamo Tengah, Puncak, Puncak Jaya, Paniai, Deiyai, Dogiai, Yahukimo dan Kab.Intan Jay.
Meski unik, tapi juga memicu polemik
Seperti telah dijelaskan tadi tentang bagaimana sistem juga bisa memicu polemik. Menurut Direktur Eksekutif Perludem Titi Anggraini yang dikutip dari laman IDNTimes, sistem ini sedikit menghilangkan nilai dari pemilu yakni bebas dan rahasia. Berkat kondisi tersebut berpeluang memicu sebuah kecurangan dalam ajang pesta demokrasi itu.
Kearifan ini perlahan mulai dikurangi
Meski dalam perjalanannya disahkan oleh Makamah Konstitusi sebagai sebuah sistem kearifan lokal, namun mulai banyak ditinggalkan. Menurut Komisioner KPU Papua, Tarwinto, noken memang jumlahnya mulai dikurangi untuk wilayah Papua yang hetrogen. Sedangkan, daerah yang homogen tetap menggunakannya.
BACA JUGA: Diikuti Mantan Koruptor, Inilah Deretan Caleg di Pemilu 2019 yang Sempat Mencuri Uang Negara
Berkaca dari kisah noken tadi, agaknya hal tersebut adalah sedikit gambaran tentang bagaimana ajang pemilu di Indonesia menyimpan nilai kearifan. Besar harapan kontes politik ini satu ini bisa berjalan dengan damai dan lancar di tahun ini.