Yos Sudarso [Image Source]
Indonesia punya banyak sekali bandara dari ujung Barat hingga Timur Nusantara. Dengan menyebar sejumlah bandara di berbagai lokasi, harapannya masyarakat bisa melakukan perjalanan ke berbagai wilayah Indonesia dengan lebih gampang.
Kadang saat mendengar atau menyebutkan namanya, kebanyakan orang sering lupa bahwa itu bukan cuma sekadar nama bandara. Tapi penamaan tersebut diambil dari para pahlawan yang berjasa bagi negara. Yuk kembali mengenali siapa saja mereka dan apa jasanya untuk Indonesia.
Nama bandara Tjilik Riwut yang ada di Palangkaraya ini diambil dari nama seorang Gubernur Kalimantan Tengah yang pertama. Ia adalah sosok yang sangat mencintai alam dan menjunjung tinggi budaya leluhur. Meski merupakan seorang putra Dayak sejati, perjuangannya untuk Indonesia melewati batas-batas kesukuan dan mampu menjadi pejuang bangsa sejati.
Selanjutnya ada bandara internasional Juanda yang diambil dari nama Ir. Raden Haji Juanda Kartawijaya. Ia adalah Perdana Menteri Indonesia yang ke-10 sekaligus juga yang terakhir. Selanjutnya, Juanda menjabat sebagai Menteri Keuangan Indonesia dalam Kabinet Kerja I.
I Gusti Ngurah Rai adalah nama seorang pejuang Indonesia yang namanya diabadikan menjadi nama bandara di Bali. Pahlawan yang berasal dari pulau dewata ini paling terkenal dengan pertempuran Puputan Margarana.
Kekalahan Belanda ini ternyata membuat mereka kembali menyerang dengan pasukan yang lebih besar. I Gusti Ngurah Rai dan pasukannya terus terdesak hingga ke Margarana. Saat itulah pasukan terakhirnya tetap terus berjuang habis-habisan dan kejadian ini kemudian diabadikan dengan istilah Puputan Margarana atau perang habis-habisan di daerah Margarana.
Yosaphat Sudarso atau lebih dikenal dengan nama Yos Sudarso adalah seorang komodor yang meninggal dunia dalam pertempuran di Laut Arafura. Ia bertanggung jawab untuk operasi di lautan pada masa operasi Trikora.
Abdul Halim Perdanakusuma adalah seorang pahlawan nasional Indonesia yang lahir di Sampang, Madura. Ia meninggal di usia yang masih muda yaitu 25 tahun saat menjalankan tugas untuk negara pada masa perang Indonesia-Belanda.
Tim penyelamat menemukan jasad Halim, tapi rekannya Iswahyudi tidak diketahui nasibnya. Meski bangkai pesawat ditemukan, namun berbagai perlengkapan senjata api yang telah dibeli tidak berhasil ditemukan dan entah ke mana rimbanya.
Untuk menghormati jasa-jasanya, mereka kini telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional. Tidak hanya itu saja, nama mereka juga diabadikan agar kita masyarakat Indonesia tidak lupa akan sejarah. Bukankah Bung Karno pernah mengatakan, “Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah”.
Fenomena viral Arra, bocah lima tahun yang dikenal karena kepandaiannya berbicara dengan gaya dewasa, kembali…
Nama Fedi Nuril akhir-akhir ini kembali dikenal publik. Bukan karena kembali membintangi film dengan tokoh…
Kamis (20/3/2025) pukul 03.00 WIB, saat asyik scrolling media sosial X sambil sahur, mata tertambat…
Dunia aviasi Indonesia bakal semakin berwarna dengan kehadiran burung-burung besi baru. Indonesia Airlines, sebuah perusahaan…
Lagi-lagi rakyat Indonesia dibikin geleng-geleng kepala oleh ulah aparat penegak hukum. Kali ini kasusnya sedang…
Baru-baru ini, dunia hiburan Korea Selatan diguncang oleh skandal yang melibatkan aktor papan atas, Kim…