in

Mengenal Port Moresby, Kota ‘Paling Berbahaya’ yang Bertetangga Dengan Indonesia

Bagi sebagian orang Indonesia, meninggalkan kota kelahiran dan pindah ke luar negeri mungkin pernah menjadi impian, disamping anggapan lebih modern, luar negeri juga bisa menjanjikan kehidupan yang lebih layak. Contoh sederhananya saja para TKI dan TKW yang rela meninggalkan negara asal demi menjadi pekerja dan asisten rumah tangga di negara orang.

Namun, bagi para penduduk Port Moresby mungkin mereka lebih ingin meninggalkan negara mereka dan pindah ke tempat yang lebih aman. Bagaimana tidak, setiap hari mereka harus hidup dihantui bayang ketakutan, bahkan resiko untuk dibunuh bisa datang setiap saat. Bertetangga dengan negara kita Indonesia, inilah fakta Port Moresby, Ibukota  Papua New Guinea yang mendapat julukan sebagai Kota paling berbahaya sedunia.

1. Pengamanan hotel melebihi ketatnya penjara Nusakambangan

Kamu pasti tau penjara Nusakambangan bukan? Lapas dengan super ketat dengan pengamanan internal dan eksternal untuk para terorisme dan pelaku kejahatan narkoba di Cilacap Indonesia. Nusakambangan mungkin tidak ada apa-apanya dibanding dengan pengamanan hotel di Port Moresby ini. Hotel di Port Moresby dilindungi oleh tembok tinggi dan kawat berduri juga mengelilinginya, pintu masuk hotel tertutup rapat, jangan harap ada receptionist ramah seperti di Indonesia.

Hotel Port Moresby [Image source]
Bukan cuma itu saja, tepat dipintu lobi, kita akan disambut deretan sekuriti lengkap dengan senjata yang siap siaga di tangan, hingga memasuki lift kita harus punya kunci akses khusus. Keluar hotelpun nggak boleh berjalan kaki, namun harus dengan taksi resmi dari hotel. Bayangkan saja, bagaimana ketatnya kota ini kalau hotel saja sudah seperti adegan di film action?

2. Pembunuhan dan begal adalah hal biasa karena Gangster ada di mana-mana

Tingginya tingkat kriminal yang ada di kota ini tidak terlepas dari para gangster dan preman yang menguasai jalanan, bahkan beberapa kelompok mempunyai daerah kekuasaan khusus yang tidak boleh dikuasai oleh gangster lain. Tak heran, konflik antar para gangster juga adalah hal yang biasa terjadi dan mewarnai dunia hitam di Port Moresby.

gangster port Moresby [Image source]
Dilansir dari tribunwow.com, Kip Koboni, Bomai, Mafia, dan 585, adalah beberapa kelompok raskol (begal) yang paling ditakuti di kota ini. Kelompok gangster ini juga bisa melakukan segala aksi kriminal tanpa pandang bulu dari mencuri, menggarong, membegal, membajak kendaraan, hingga memperkosa dan melukai korban. Bahkan, 2016 lalu ada seorang WNI yang bekerja di Vanimo ditembak oleh sekelompok perampok saat berbelanja di sebuah mini market.

3. Sekuriti adalah pekerjaan idaman dengan gaji paling menjanjikan

Kalau di Indonesia, security, satpam, atau penjaga keamanan bukanlah pekerjaan idaman dengan gaji menjanjikan. Namun, beda lagi ceritanya di Port Moresby, penduduk tidak hanya membeli kebutuhan hidup saja, tapi juga rasa aman dengan memiliki pelindung pribadi alias sekurity.

Menjadi sekuriti adalah pekerjaan menjanjikan [Image source]
Makanya tak heran jika menjadi sekuriti di kota ini adalah pekerjaan paling menguntungkan. Di kota dengan tingkat kriminal tinggi, setiap detik nyawa bisa melayang membuat orang rela kemana-mana harus dikawal ketat bak pejabat tanah air dengan sekuriti bersenjata lengkap.

4. Kota Multietnis dengan tingkat penganguran tinggi mencapai 60%

Jakarta yang katanya dengan tingkat persentase pengangguran tinggi ternyata tidak ada apa-apanya jika di bandingkan dengan Ibukota Papua New Guinea ini. Di Jakarta ada 5,7 persen penduduk yang berlabel ‘jobless’ alias pengangguran. Berbeda dengan penduduk Ibukota Papua New Guinea ini, karena alasan keamanan, hampir 60 persen penduduk Port Moresby adalah pengangguran, bayangkan saja bagaimana mengerikannya kota ini!

Penduduk miskin Port Moresby [Image source]
Sebagai negara multietnis, pendatang malah lebih banyak bekerja di sini, terlebih di kawasan bandara Jackson International Airport, hampir 90 persen pekerja adalah pendatang asing. Karena tingginya tingkat pengangguran tak heran Port Moresby menjadi  kota yang miskin, kemiskinan dan penganguran inilah yang menjadi pemicu munculnya berbagai geng raskol (begal).

5. Jangan harap bisa liburan di sini, keindahan kota hanya bisa dilihat melalui kaca jendela kamar

Karena alasan keamanan, tidak banyak orang yang mau keluar rumah atau apartemen untuk sekedar menghabiskan liburan mereka. Menurut penuturan salah satu receptionist hotel, selama 6 bulan bekerja di Port Moresby ia tak terlalu familiar tentang kota ini. Receptionist asal Filipina itu tak pernah berlibur, ia cuma hidup di antara hotel dan di asrama karyawan saja.

Keindahan salah satu sudut kota [Image source]
Seorang sopir taksi bernama Raja juga punya pengakuan yang sama, dirinya hanya bepergian dari tempat tinggal ke kantor setiap hari dan selalu pulang kerja sebelum matahari tenggelam. Mahalnya rasa aman membuat penduduk kota ini hanya mampu melihat keindahan Port Moresby dari balik kendaraan atau bangunan yang sudah dilengkapi segala macam pengaman.

Waw! Bisa membayangkan bagaimana sepinya jalanan di kota negara tetangga kita ini? Kita harus sangat bersyukur sebagai warga yang tinggal di negara Indonesia yang aman tentram, walaupun sibuk bekerja, masih bisa liburan dengan aman. Tak butuh sewa sekuriti segala hanya untuk pergi ke pusat perbelanjaan atau taman kota.

Written by Ayu

Ayu Lestari, bergabung di Boombastis.com sejak 2017. Seorang ambivert yang jatuh cinta pada tulisan, karena menurutnya dalam menulis tak akan ada puisi yang sumbang dan akan membuat seseorang abadi dalam ingatan. Selain menulis, perempuan kelahiran Palembang ini juga gemar menyanyi, walaupun suaranya tak bisa disetarakan dengan Siti Nurhalizah. Bermimpi bisa melihat setiap pelosok indah Indonesia. Penyuka hujan, senja, puisi dan ungu.

Leave a Reply

Tajir tapi Dermawan, 5 Negara Ini Jadi Sasaran Bill Gates ‘Hambur-hamburkan’ Uangnya

9 Artis Ini Sok-sokan Update Status Bahasa Inggris, Alhasil Panen Hujatan dari Netizen