Jika di Jepang ada Geisha, maka di Korea mengenal Kisaeng. Sekilas keduanya memang mirip, sama-sama bekerja sebagai penghibur. Namun ada beberapa hal yang membedakan antara Geisha dengan Kisaeng.

BACA JUGA:5 Negara Asia ini Dikenal Dunia Sebagai Penghasil Banyak Wanita Cantik

Kisaeng bisa juga disebut dengan gisaeng atau ginyeo. Kisaeng merupakan sebutan untuk para wanita yang bekerja sebagai penghibur di Korea pada masa Dinasti Goryeo dan Dinasti Joseoan.

Pekerjaan Kisaeng

Kisaeng bekerja untuk menghibur raja dan bangsawan dan memiliki status legal dari pemerintah. Sama seperti Geisha, Kisaeng juga sangat terlatih dalam bidang seni. Tapi disamping itu mereka juga mengerjakan hal umum lain seperti tenaga kesehatan. Pada masa dinasti Goryeo dan Joseon, wanita dari kelas bangsawan tidak boleh diperiksa oleh seorang dokter pria. Karena itulah Kisaeng dilatih untuk memberikan perawatan terhadap wanita kelas bangsawan.

Pakaian Kisaeng [Image Source]
Pakaian Kisaeng [Image Source]
Kisaeng juga memiliki peranan penting dalam konsep budaya tradisional Korea. Beberapa cerita paling tua dan populer seperti Chunhyangjeon menceritakan tentang seorang kisaeng sebagai tokoh utama. Meski nama asli kisaeng sering kali terlupakan, beberapa dari mereka masih diingat karena karya, kemampuan, atau kesetiaan mereka.

Status Sosial

Berbeda dengan Geisha yang dihormati dan dianggap berasal dari kelas atas, kisaeng justru memegang status cheonmin. Cheonmin adalah kelas terendah dalam masyarakat setara dengan tukang daging dan budak. Karena kelas sosial bersifat turunan, maka anak dari para kisaeng juga berstatus cheonmin dan putri mereka otomatis juga jadi kisaeng. Para kisaeng di setiap distrik dicatat dan terdaftar dalam pemerintah, sama seperti sistem pencatatan budak.

Ibu dan anak kisaeng [Image Source]
Ibu dan anak kisaeng [Image Source]
Mereka hanya bisa dibebaskan dari posisinya jika ia membayar uang dalam jumlah besar kepada pemerintah. Ini hanya bisa dilakukan jika kisaeng tersebut punya patron yang kaya raya dan biasanya berasal dari pegawai pemerintahan atau bangsawan. Kisaeng yang terikat dengan pegawai pemerintahan disebut gwan-gi dan status mereka dianggap berbeda dari budak biasa meski secara teknis sebenarnya juga masih cheonmin. Dalam beberapa kasus, ada juga kisaeng yang berasal dari kelas bangsawan. Mereka ini dijadikan kisaeng sebagai hukuman karena melanggar norma sopan santun.

Rentang Karir Kisaeng

Karir seorang kisaeng sangat pendek dan biasanya hanya sampai usia 16 atau 17 tahun. Hanya sedikit yang bisa bertahan sampai 22 tahun. Karena itulah pelatihan kisaeng dimulai di usia 8 tahun. Pemerintah memberikan peraturan ketat bahwa kisaeng harus pensiun di usia 50 tahun.

Kisaeng yang siap akan tampil [Image Source]
Kisaeng yang siap akan tampil [Image Source]
Jika mereka ingin tetap hidup berkecukupan pilihannya hanya dengan menjadi simpanan seorang patron. Itu juga kalau ia dibeli oleh patron tersebut dari negara. Di masa dinasti Joseon, hanya sedikit sekali pria yang mampu membeli seorang kisaeng. Sehingga kebanyakan mantan kisaeng akhirnya bekerja di bar.

Tiga Tingkatan Kisaeng

Di masa akhir periode Joseon, kisaeng terbagi menjadi tiga tingkatan yang berbeda. Tingkat tertinggi adalah haengsu yang tugasnya menyanyi dan menari di acara pesta para bangsawan. Mereka tidak boleh melanjutkan karirnya sebagai penghibur setelah berusia 30 tahun meski masih boleh bekerja di bagian lain seperti membuat baju dan obat.

Kisaeng berlatih musik [Image Source]
Kisaeng berlatih musik [Image Source]
Kisaeng kelas terendah disebut samsu. Mereka ini dilarang menampilkan tarian dan nyanyian dari kelas haengsu. Sistem pembagian kelas-kelas ini pada akhirnya dihapuskan di akhir abad ke-19.

Peran Kisaeng dalam Politik

Kisaeng tidak hanya semata-mata sebagai penghibur. Karena mereka sering dipekerjakan untuk menghibur tamu dari negeri atau kerajaan tetangga atau karena memiliki tempat usaha dan penginapan, kisaeng adalah sosok yang paling tahu tentang kejadian penting.

Sekolah kisaeng [Image Source]
Sekolah kisaeng [Image Source]
Dengan berkedok menghibur para jendral perang, kisaeng bisa mendapatkan informasi penting yang menguntungkan Korea. Non-gae adalah salah seorang kisaeng yang diingat karena keberaniannya membunuh jendral perang Jepang. Beberapa kisaeng lain juga ikut serta dalam perang kemerdekaan Korea dari penjajahan Jepang.

BACA JUGA: Mengenang Tragedi Sampit, Konflik Berdarah Paling Mencekam yang Pernah Terjadi di Tanah Kalimantan

Sekilas Kisaeng memang mirip dengan Geisha dalam hal kemampuan seni. Mereka sama-sama dilatih dengan ketat dalam hal tarian, lagu, puisi, dan berbagai bidang seni lainnya. Hanya saja, jika geisha adalah berasal dari kelas terpandang, kisaeng justru berasal dari kelas rendah.