in

5 Kisah dari Mereka yang Tetap Berjuang Mencari Nafkah di Tengah Wabah Covid-19

Wabah virus corona (Covid-19) yang terjadi saat ini membuat banyak orang merasakan dampaknya, terutama dari sisi ekonomi. Terlebih, pemerintah juga mengeluarkan kebijakan agar bekerja, belajar, dan beraktivitas dari rumah, di mana tidak semua orang bisa melakukannya.

Beberapa dari mereka bahkan tetap nekat untuk keluar mencari nafkah meski keadaan di luar sedang tak menentu. Terutama bagi para pekerja informal yang mengandalkan pendapatan secara harian. Lantas, seperti apa perjuangan mereka menopang kehidupannya di tengah pandemi Covid-19?

Jadi montir keliling usai kena PHK dari pekerjaan

Mencari nafkah sebagai mekanik keliling [sumber gambar]
Wabah Covid-19 membuat Novianto harus rela menerima pemutusan hubungan kerja (PHK) dari tempatnya mencari nafkah pada April lalu. Meski demikian, dirinya tak menyerah begitu saja. Berbekal peralatan bengkel dan sepeda motor, ia mencari nafkah menjadi mekanik keliling. Menawarkan keahliannya di bidang otomotif bagi mereka yang membutuhkan.

Belasan ibu rumah tangga jadi pengupas bawang

Ilustrasi ibu rumah tangga pengupas bawang [sumber gambar]
Dampak dari wabah Covid-19 juga dirasakan oleh belasan Ibu Rumah Tangga (IRT) di Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan. Demi menjaga agar dapur tetap mengepul, mereka mencoba bertahan dengan bekerja menjadi pengupas bawang dengan upah Rp140 ribu sehari. Pendapatan itu diraih setelah mengupas 20 kilogram bawang merah selama 10 jam beraktivitas.

Supir angkutan umum siap sedia menjemput pelanggan meski sepi penumpang

Suratno setia menanti penumpang di tengah wabah Covid-19 [sumber gambar]
Penerapan PSBB dan sejumlah aturan guna mencegah penyebaran Covid-19 ternyata berdampak pada pendapatan supir angkutan umum. Salah satunya dialami oleh seorang supir bajaj bernama Suratno. Jika kondisi normal dirinya bisa meraup pemasukan sebesar Rp150 ribu, kini ia hanya mendapatkan Rp50 ribu. Padahal, ia telah bersiap sejak pukul 6 pagi hingga 14 siang. Meski demikian, ia tetap berusaha bertahan dan menunggu penumpang meski dalam kondisi yang tak menentu.

Pedagang takjil tetap berjualan di tengah pandemi Covid-19

Ilustrasi pedagang takjil [sumber gambar]
Hal serupa juga dirasakan oleh pedagang makanan dan minuman (takjil) di bulan Ramadan seperti saat ini. Di tengah wabah Covid-19 dan aturan PSBB yang diterapkan pemerintah, mereka tetap keluar dan berjualan. “Biasanya sepi. Ini puasa cuma buka dua jam, alhamdulillah ramai,” ucap salah seorang pedagang bernama Ani, yang dikutip dari CNN Indonesia (25/04/2020).

Perjuangan manusia gerobak bertahan hidup

Ilustrasi manusia gerobak [sumber gambar]
Perjuangan hidup lainnya di tengah wabah Covid-19 juga dialami oleh ‘manusia gerobak’. Mereka yang hidup dan tinggal di dalam gerobak tersebut, kerap muncul saat bulan Ramadan tiba. Untuk menyambung hidup, mereka bekerja dengan memulung botol plastik, kertas bekas, dan aluminium yang kemudian dijual kepada pengepul. Meski tinggal berpindah-pindah, mereka enggan mengemis dan meminta belas kasih orang lain.

BACA JUGA: 10 Potret Perjuangan Keras Driver Ojol Mencari Nafkah Buat Kamu Makin Bersyukur

Menurut Tim Pakar Ekonomi Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Beta Yulianita Gitaharie, masyarakat masih bisa keluar rumah untuk mencari nafkah. Hanya saja mereka harus tetap mematuhi protokol pencegahan Covid-19 seperti menjaga jarak, memakai masker, dan mencuci tangan menggunakan sabun. Mudah-mudahan di tengah pandemi ini semua orang bisa mendapatkan rezeki yang terbaik ya.

Written by Dany

Menyukai dunia teknologi dan fenomena kultur digital pada masyarakat modern. Seorang SEO enthusiast, mendalami dunia blogging dan digital marketing. Hobi di bidang desain grafis dan membaca buku.

Leave a Reply

Sama-sama Bikin Naik Darah, Begini Perbandingan Drama World of The Married dan CHSI

4 Menu Buka yang Bisa Membantu Memperlancar BAB selama Puasa