Mindset kebanyakan orang tentang profesi buruh adalah mereka para pekerja kasar yang gajinya tak seberapa dan hidupnya susah. Ya, mungkin itu dulu, namun kini setelah undang-undang dan kebijakan pemerintah mengangkat kaum buruh, mereka sudah bisa dibilang makmur dan sederajat dengan profesi lainnya, terutama soal pendapatan. Namun yang bikin heran, selalu saja para buruh mengeluh soal gaji kurang dan menganggap dirinya tak pernah sejahtera.
Seperti beberapa waktu lalu, solidaritas buruh melakukan demonstrasi besar-besaran yang tujuannya untuk mengangkat kaum buruh dengan wacana kenaikan upah. Pertanyaannya, apakah pemerintah harus serta merta merealisasikan tuntutan tersebut? Sepertinya harus dipikirkan lagi. Buruh sekarang sebenarnya sudah jauh lebih makmur dari pada kebanyakan orang.
Berikut adalah fakta-fakta kenapa pemerintah harus berpikir ulang berkali-kali kalau ingin benar-benar menaikkan gaji buruh.
Kalau buruh zaman dulu mungkin digambarkan sangat sederhana dan bersahaja. Kalau sekarang ini, mereka sudah naik level. Salah satu buktinya adalah tunggangan mereka yang sudah lebih berkelas, bahkan bisa dibilang terlalu mahal untuk orang-orang kebanyakan.
Gadget sudah barang wajibnya banyak orang sekarang. Jadi pemandangan yang aneh justru kalau ada yang tak menggenggam smartphone berlayar sentuh itu. Termasuk buruh, mereka juga memiliki benda ini. Namun bedanya dari orang kebanyakan, gadget mereka lebih sangar.
Jujur saja, buruh sama sekali tak miskin. Mereka kini memenuhi rumah-rumahnya dengan barang-barang mewah. Walaupun mereka mengatakan membeli benda-benda mahal tersebut secara kredit alias hutang.
Hedonisme di kalangan buruh bukan jadi hal baru. Ya, kini mereka sudah hidup dengan sangat jumawa. Tak lagi terbebani dengan kebutuhan fundamental yang harus ditebus, para buruh bisa bersenang-senang dengan uang mereka yang bisa dibilang cukup banyak.
Masih berhubungan dengan gaya hidup hedonisme buruh, banyak dari mereka yang bahkan punya kartu kredit sekarang ini. Lagi-lagi hal ini jadi sesuatu yang ganjil di mana tak semua orang bahkan berani mengajukan formulir kartu kredit untuk kemudahan belanja mereka. Hal ini bisa jadi indikasi kalau nasib buruh sudah tidak miris seperti yang mereka gaung-gaungkan saat demo.
Buruh mungkin tidak punya latar pendidikan yang tinggi, namun gaji mereka hampir menyaingi bahkan lebih tinggi dari pada pekerja terpelajar. Tentu saja ini ironis pula. Bukankah seharusnya tingkat pendidikan juga memengaruhi pendapatan? Jika semua dipukul rata bahkan yang pendidikan rendah gajinya tinggi, maka buat apa kuliah? Mending jadi buruh, gaji besar, uang kuliah pun bisa dipakai untuk yang lain.
Buruh memang tidak semua seperti ini. Ada pula mereka yang benar-benar bekerja giat namun memang pendapatannya tak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Yang seperti ini memang harus dibantu oleh pemerintah lewat perusahaan tempat mereka bekerja. Justru para buruh yang bekerja sungguh-sungguh tersebut jarang sekali melakukan protes-protes. Mengingat inilah satu-satunya pekerjaan yang bisa mereka dapatkan. Begitu perusahaan ngambek lalu pergi atau berhenti beroperasi, maka mereka sendiri yang akan susah nantinya.
Fenomena viral Arra, bocah lima tahun yang dikenal karena kepandaiannya berbicara dengan gaya dewasa, kembali…
Nama Fedi Nuril akhir-akhir ini kembali dikenal publik. Bukan karena kembali membintangi film dengan tokoh…
Kamis (20/3/2025) pukul 03.00 WIB, saat asyik scrolling media sosial X sambil sahur, mata tertambat…
Dunia aviasi Indonesia bakal semakin berwarna dengan kehadiran burung-burung besi baru. Indonesia Airlines, sebuah perusahaan…
Lagi-lagi rakyat Indonesia dibikin geleng-geleng kepala oleh ulah aparat penegak hukum. Kali ini kasusnya sedang…
Baru-baru ini, dunia hiburan Korea Selatan diguncang oleh skandal yang melibatkan aktor papan atas, Kim…