Beberapa bulan yang lalu, jagad berita di Indonesia dihebohkan dengan berita kontroversional yang penuh pro dan kontra tentang pembacaan Al-Qur’an Surat An-Najm ayat 1-5 oleh Muhammad Yaser Arafat, Qari’ asal Medan, yang menggunakan langgam Jawa, pada acara peringatan Isra’ Mi’raj di Istana Negara. Acara yang dihadiri oleh banyak tamu kenegaraan, dan juga ada Presiden Joko Widodo serta Menteri Agama Lukman Hakim ini, menemui pula banyak kesalahan dalam alur pelaksanaannya.
Seperti MC yang salah membacakan tanggal dan tahun Hijriyah, dan kemudian oleh beberapa pihak kesalahan-kesalahan tersebut kemudian dikaitkan dengan pembacaan Al-Qur’an dengan menggunakan langgam Jawa yang jelas tidak sesuai dengan etika memperlakukan kitab suci umat Islam tersebut, sehingga mungkin Allah tak ridho dengan berlangsungnya acara tersebut. Dan menurut beberapa ulama yang hadir, pembacaan tersebut banyak ditemukan salah dalam tajwid dan tahsinnya. Wallahu’alam bisshowab.
Terlepas dari persoalan kontroversional pembacaan Al-Qur’an dengan langgam Jawa tersebut, sebenarnya bagaimana sih etika yang harus kita jaga dan lakukan dalam memperlakukan kitab suci Al-Qur’an? Tentunya kita sebagai umat muslim harus tahu dan bisa menerapkannya bukan? Apalagi dalam membacanya, sebab keridho-an Allah akan tercurah kepada kita jika kita juga meminta keridho-anNya tersebut dengan etika yang benar pula.
Nah, berikut adalah 5 adab atau etika yang harus kita lakukan saat membaca Al-Qur’an:
1. Niat Sebelum Membaca
Dalam hadits Arba’in pertama disebutkan, “Dari Amirul Mu’minin, Abu Hafsh Umar bin Al Khattab ra. berkata, Saya mendengar Rasulullaah SAW bersabda, Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Barang siapa hijrahnya karena (mendapatkan keridhaan) Allah dan RasulNya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan RasulNya. Dan barangsiapa hijrahnya karena dunia yang diinginkannya atau wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya (akan dinilai sebagaimana) yang dia niatkan.” (HR. Bukhari-Muslim).
Maka, sebelum membaca Al-Qur’an, niatkan dengan tulus kita beribadah kepada Allah untuk mengharap keridhaan dariNya semata, bukan sebagai ajang pamer atau gaya-gayaan di depan orang banyak.
2. Meminta Perlindungan Allah SWT
Setelah meniatkan dengan penuh ketulusan dan keikhlasan untuk mengharapkan ridha Allah SWT, maka selanjutnya adalah dengan meminta perlindungan kepada Allah SWT. Perlindungan dari segala godaan syetan yang terkutuk, perlindungan dari rusaknya niat sebelum, pada saat, atau sesudah membaca Al-Qur’an, serta perlindungan dari hal-hal yang nampak maupun yang ghoib yang tak dapat kita duga dan sangka sebelumnya.
3. Membaca Dengan Tartil
Dalam membaca Al-Qur’an sunnah hukumnya dilakukan dengan tartil, atau dengan kondisi tenang dan sesuai dengan tajwid. Bahkan melagukan Al-Qur’an itu disunnahkan agar kita bisa merasakan betapa indahnya ayat-ayat cinta yang Allah turunkan sebagai pedoman hidup kita tersebut. Akan tetapi yang harus diingat adalah, bahwa melagukan Al-Qur’an tak sembarang melagukan dengan nada atau lagu-lagu yang sembarangan pula, sehingga menjadikan kita lebih terfokus pada lagu atau nadanya, dan lupa pada ketenangan diri, serta parahnya lupa pada tajwidnya.
Jika memang ingin melagukan Al-Qur’an hendaknya sesuai dengan tahsinnya juga. Apa itu tahsin? Akan dijelaskan di poin berikutnya.
4. Mengindahkan Suara Dengan Tahsin
Tahsin adalah membaca Al-Qur’an dengan indah sesuai dengan tajwid dan makhraj (bunyi huruf Al-Qur’an). Karena setiap huruf hijaiyah (huruf Arab yang ada dalam Al-Qur’an) memiliki nada atau intonasi bacaan yang berbeda-beda dan jika salah membacanya bisa salah pula artinya. Pun dengan kata per kata dalam Al-Qur’an, yang mungkin bunyinya hampir mirip, namun jika salah membacanya juga bisa salah pula artinya. Sehingga memang kita wajib berhati-hati dalam membacanya.
Bahkan banyak orang merasakan keharuan yang mendalam setelah membaca Al-Qur’an sesuai dengan tajwid atau tahsinnya. Mereka bisa merasakan betapa indahnya Kalam Allah tersebut, dan merasakan Allah begitu dekat dan sangat dekat dengan kita tanpa ada jarak sedikitpun. Jika tak percaya, coba kita dengarkan murrotal Al-Qur’an yang biasa dibaca secara indah, dengan tahsin dan tajwid yang benar, oleh para Syaikh dari Arab atau Indonesia yang membacanya dengan penuh kekusyu’an dan keikhlasan, bisa dipastikan hati kita akan ikut terharu dan merasakan dahsyatnya Kuasa Allah SWT.
5. Jangan Mengganggu Orang Lain
Membaca Al-Qur’an memang disunnahkan untuk mengeraskannya, sehingga kita bisa lebih konsentrasi setelah mendengar suara kita sendiri, dan merasakan lebih kusyu’ dalam menghayatinya. Namun jika terlalu keras sehingga mengganggu orang lain yang mungkin sedang tidur atau sedang sholat dan beribadah yang lain, maka hal tersebut sangat tidak dianjurkan.
Itulah kelima adab atau etika saat membaca kitab suci Al-Qur’an yang wajib kita ketahui dan perhatikan. Dewasa ini banyak yang ingin belajar memperindah dan membenarkan bacaan Al-Qur’annya, karena sadar bahwa membaca dan membenarkan bacaan Al-Qur’an bisa semakin membuat kita kusyu’ dan memahami apa yang kita baca tersebut. Jadi, tak perlu takut atau malu untuk belajar membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar, karena Allah menyukai para pembelajar yang terus belajar dan mengajarkan kebaikan. (sof).