in

Medi Bustomi, Pria yang Berjalan Mundur Hingga ke Istana Negara untuk Rayakan HUT RI ke 74

Menyambut Hari Kemerdekaan Indonesia, setiap tahun pasti ada saja seseorang yang melakukan atraksi tertentu. Kali ini, ada Medi Bustomi (43), seorang pria asal Desa Dono, Kecamatan Sendang, Kabupaten Tulunganggung, yang nekat menempuh perjalanan jauh ke Jakarta dengan cara berjalan mundur.

Mungkin, bagi orang yang melihat memang agak ‘aneh’. Namun, bukan tanpa alasan Medi melakukan hal tersebut. Ada tujuan tertentu yang ia sudah tulis, sehingga ia berani berjalan mundur ratusan kilometer menuju ibukota. Yuk, simak fakta-faktanya di bawah ini.

Seorang pecinta alam

Medi Bustomi [sumber gambar]
Medi adalah ayah sekaligus seorang pecinta alam. Ia sudah memulai perjalanannya sejak tanggal 18 Juli lalu. Sebagai bekal di jalan, Medi membawa 8 kilogram bekal dan uang 300 ribu rupiah di dalam ranselnya. Untuk mengantisipasi agar tidak menabrak, ia memasang kaca spion di ranselnya, sehingga ia terus bisa melihat apa yang ada di belakangnya. Perjalanan Tulungagung-Jakarta sendiri, jika ditempuh dengan kendaraan beroda empat bisa mencapai 10 jam, bayangkan saja betapa capeknya ia yang harus berjalan kaki, sambil mundur pula. Hebat kan?

Di balik aksi berjalan mundur, ini yang ingin ia sampaikan

Medi mengatakan bahwa berjalan mundur berarti melihat sejenak ke belakang mengingat jasa para pahlawan yang telah memperjuangkan negara Indonesia sekian majunya ini, dan mengapresiasi pemerintahan Jokowi, seperti dilansir dari laman Vice.com. Medi memperkirakan kalau perjalanannya kali ini ditempuh dalam waktu satu bulan –atau paling lambat 40 hari. Sehingga bisa datang tepat waktu ke tempat tujuan. Di Jakarta nantinya, Medi berharap bisa ikut merayakan upacara 17 Agustus di Istana negara.

Kepedulian terhadap lingkungan

Berjalan mundur Medi Bustomi [sumber gambar]
Nah, selain melihat ke belakang tentang perjuangan para pahlawan, setelah sampai di Istana Negara, ia ingin bertemu dengan presiden Joko Widodo dan meminta sesuatu kepada beliau. Bukan uang apalagi sepeda ya, Medi hanya ingin meminta bibit tanaman, yang nantinya bisa ia tanam di kaki Gunung Wilis saat perjalanan pulang. Hal tersebut merupakan simbol sang Presiden terhadap lingkungan. Ia berharap aksinya ini bisa menginspirasi para generasi muda untuk melakukan hal yang sama yaitu mencintai lingkungan. Karena, lingkungan dan alam adalah warisan paling berharga, yang kelak juga akan dirasakan oleh anak cucu kita.

Bukan pertama kalinya Medi melakukan ini

Daerah Gunung Wilis [sumber gambar]
Jika ada yang aneh terhadap aksi Medi ini, maka ini bukanlah pertama kalinya ia berjalan mundur untuk sebuah tujuan. Sebelumnya, ia sudah berjalan mundur melewati berbagai jalur dan daerah di Indonesia. Melansir Vice.com, Sejak 2016, lelaki ini sudah tujuh kali menempuh perjalanan jarak jauh dengan berjalan mundur, demi mengkampanyekan pelestarian lingkungan. Medi sempat jalan kaki ke Gunung Wilis yang terletak 73 kilometer dari kampung halamannya, dan Kalimantan yang berjarak 800 kilometer jauhnya.

Berjalan mundur juga ternyata baik untuk kesehatan

Manfaat berjalan mundur [sumber gambar]
Nah, terlepas dari Medi yang melakukan aksi jalan mundur sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan, berjalan mundur ternyata baik untuk kesehatan, loh. Melansir laman hellosehat.com, berjalan mundur bisa Membakar kalori lebih banyak, Meningkatkan fungsi otak, Meningkatkan denyut jantung, serta dapat mengurangi nyeri lutut anterior.

BACA JUGA: Ngayal Ketemu Presiden, Pembaca Boombastis Ingin Sampaikan 6 Hal Ini Pada Jokowi

Nah, kalau kamu mungkin bertemu dengan Pak Medi, maka kalian juga bisa memberi support berupa tumpangan atau mungkin uang sebagai bekal perjalanannya. Tak harus berjalan mundur kok, kamu bisa melakukan berbagai macam aksi sebagai bentuk cinta akan lingkungan. Yuk, save the earth!!!

Written by Ayu

Ayu Lestari, bergabung di Boombastis.com sejak 2017. Seorang ambivert yang jatuh cinta pada tulisan, karena menurutnya dalam menulis tak akan ada puisi yang sumbang dan akan membuat seseorang abadi dalam ingatan. Selain menulis, perempuan kelahiran Palembang ini juga gemar menyanyi, walaupun suaranya tak bisa disetarakan dengan Siti Nurhalizah. Bermimpi bisa melihat setiap pelosok indah Indonesia. Penyuka hujan, senja, puisi dan ungu.

Leave a Reply

Di Balik Wacana Pemerintah RI Datangkan Rektor Asing Untuk Pimpin Kampus Dalam Negeri

Pergi Sekolah, Netizen Fokus dengan Outfit Saaih Halilintar yang Harganya Ratusan Juta