Gunung Merapi adalah salah satu pasak lain di Pulau Jawa yang terkenal, karena letusannya yang gahar pada 2010 dan juga karena banyaknya hal mistis yang sering diceritakan oleh banyak pendaki.

Di 2010, Merapi meletus dan memakan cukup banyak korban, salah satunya adalah juru kunci Merapi sendiri, Mbah Maridjan. Setelah Mbah Maridjan tiada, kehidupan di lereng merapi mulai berdenyut kembali. Tak hanya hutannya saja yang mulai menghijau, Merapi kini punya juru kunci baru, Mbah Asih namanya. Kamu pasti belum mengenal beliau kan? Yuk, kita kenalan dulu.

Rumah yang tinggal kenangan dari Mbah Maridjan

Sisa-sisa letusan Merapi membuat warga memanfaatkan hal itu. Bahkan, mereka bisa menghidupi ternak, menanam berbagai macam pohon, mereka semua tumbuh subur. Kenangan tentang Mbah maridjan juga tertinggal di sini. Kalau kalian berkunjung ke Kinaherjo, di sini ada banyak sekali hal yang bisa kalian kunjungi, salah satunya adalah warung kopi dengan desain modern hingga klasik.

Bekas rumah Mbah Maridjan [sumber gambar]
Di tempat ini juga Mbah Maridjan pernah tinggal. Melansir Brilio.net, tempattersebut kini menjelma museum sekaligus tempat wisata bagi pengunjung. Memang menjadi kenangan, namun juga menambah perekonomian warga. Ada yang berdagang, ada yang penawarkan jasa tour guide, bahkan rute persewaan jeep bisa sampai tempat ini.

Mbah Asih sebagai pengganti Mbah Maridjan

Setelah Mbah Maridjan meninggal, anaknya lah yang menggantikan sang ayah menjadi juru kunci gunung api aktif terbesar di dunia tersebut. Namanya Suraksohargo Asihono alias Asih. Orang-orang sering memanggil beliau dengan sebutan Mbah Asih.

Mbah Asih [sumber gambar]
Namanya memang tidak sepopuler sang ayah, namun yang menunjuk ia untuk menjadi juru kunci Merapi adalah Keraton Ngayogyakarto pada bulan April 2011 lalu. Mbah Asih memang tidak lagi tinggal di rumah yang dulu ia tempati dengan ayahnya. Sekarang Mbah Asih tinggal di Huntap, Karangkendal, Umbulharjo.

Ia adalah sosok yang rendah hati

nama Mbah Asih mungkin memang tidak setenar Mbah Maridjan. Namun, ia tetap sosok yang baik dan rendah hati. Karena sifat tersebutlah, tak heran kalau keraton menunjuk dirinya sebagai orang yang bisa ‘menerjemahkan’ geliat sang Merapi. Selain sebagai pemerhati yang menjaga harmoni dengan semua makhluk di gunung tersebut, dirinya juga memiliki tugas menyampaikan informasi kepada masyarakat sebagai sebuah peringatan dini.

Mbah Asih juru kunci Merapi [sumber gambar]
Apalagi sekarang, teknologi sudah membuat manusia semakin canggih dan bisa membaca bahasa alam. Mbah Asih juga mengatakan kalau ia selalu mengingatkan kepada masyarakat untuk selalu waspada dan saling memberi informasi satu sama lain jika menangkap hal yang tak beres.

Sebelum menjadi juru kunci, Mbah Asih memang merupakan Abdi Dalem

Seperti dilansir dari Brilio.net, sebelum dirinya diangkat sebagai juru kunci, sejak tahun 2003 telah mengabdikan diri sebagai Abdi Dalem Keraton. Ia pun direkomendasikan oleh Abdi Dalem Keraton lainnya untuk mengikuti seleksi menjadi juru kunci Gunung Merapi. Untuk menjadi juru kunci pun, ia tak lantas mendapatkan keistimewaan.

Asihono putra Mbah Maridjan [sumber gambar]
Ada beberapa tahapan seleksi sesuai dengan prosedur yang telah ditentukan oleh pihak keraton. Ia juga mengatakan sebenarnya tak harus merupakan keluarga Mbah Maridjan, kalau memang layak bisa lulus. Kebetulan setelah seleksi wawancara, keraton memutuskan ia yang menjadi pengganti ayahnya.

BACA JUGA: Merapi Meletus Kembali, Inilah 4 Lokasi Angker di Sekitar Gunung yang Bikin Merinding

Menjadi juru kunci bukanlah hal yang mudah. Batuk-batuk Merapi 2018 lalu sempat membuat Mbah Asih pasrah dan hanya bisa berdoa. Untung saja, Merapi tidak mengamuk lebih dahsyat lagi. Untuk gaji, per tahunnya Mbah Asih hanya memperoleh sebanyak 350 ribu Rupiah saja. Namun, ia mengatakan kalau dirinya tak memerlukan gaji, tetapi memang merasa terpanggil untuk merawat Merapi.