Awal 2017 lalu, ada manusia kayu bernama Sulami yang viral dibicarakan di media sosial. Perempuan asal Sragen ini memiliki tubuh yang keras dan kaku layaknya kayu, penyakit ini disebut dokter sebagai kelainan di mana organ lunak seperti otot bisa berubah dan mengeras seperti tulang.

Ternyata bukan hanya Sulami saja, di Kayong Utara, Kalimantan Barat hal serupa dialami oleh seorang lelaki usia 56 tahun. Dialah Mas Tazul Munir, yang sudah tergolek lemah berpuluh tahun melawan penyakit ‘Manusia kayu’nya. Untuk lebih lengkapnya, berikut ini kisah Mas Tazul Munir yang berhasil Boombastis rangkum.

Awal munculnya penyakit pada tahun 1994

Sakit yang diderita oleh Munir bukanlah tanpa sebab, pria yang kini hanya bisa terbaring ini dulunya sempat menjalani kehidupan yang normal. Namun, setelah menikah di usia 18 tahun, dia mulai bekerja banting tulang dan menjadi kuli pikul di pelabuhan. Mas Munir juga menceritakan jika semasa bekerja menjadi sopir bus dirinya bisa dikatakan pria nakal yang suka mabuk-mabukan dan pulang malam.

Mas Tazul Munir yang terkapar sakit [Image source]
Ketika suatu malam ia pulang sekitar pukul 12, di tengah perjalanan ia menabrak seekor Anjing hingga mati, sementara dirinya sendiri terpental jauh dan harus masuk rumah sakit. Sejak kejadian malam itu, jangankan untuk berjalan normal, menolehkan kepala pun ia tidak bisa. Dokter momvonis bahwa ia menderita komplikasi penyakit rematik, radang persendian, dan asam urat. Namun, kenyataannya Mas Munir tak pernah sembuh dari penyakitnya, bahkan setelah mendatangi kurang lebih 80 paranormal di sejumlah daerah di Indonesia, penyakitnya tetap tidak bisa disembuhkan.

Pernah mati suri dan alami berbagai hal mistis

Walaupun sudah berulang kali berobat dan sempat sembuh, Munir akhirnya harus tetap terbaring di atas kasur. Segala aktivitas dibantu oleh sang istri, mulai dari makan, mandi, hingga buang air. Hal-hal yang tak masuk akalpun sering terjadi padanya. Munir mengaku kalau ia seperti dipatuk oleh burung, namun saat mau ditangkap, semuanya nihil. Tidak hanya itu saja, ia pernah bermimpi naik gunung dan bermimpi terperosok ke dalam lubang ular.

Mas Tazul Munir sering alami hal mistis [Image source]
Dibantu oleh seorang bersorban di dalam mimpinya ia melafalkan ayat kursi untuk mengusir ular-ular tersebut. Anehnya, ketika bangun, Mas Munir yang sebelumnya tak hafal ayat kursi bisa lancar dan hafal ayat tersebut. Hal yang tak kalah mengejutkan adalah pengakuan kalau dirinya pernah mati suri pada 2012, namun ia kembali bangun saat hendak di sholatkan di masjid kampungnya.

Bisa sembuhkan penyakit dan mendapat bantuan pemerintah

Semenjak serangkaian mistis dan mati suri yang ia alami, Mas Munir mengaku ia mendapat hidayah dan bisa menyembuhkan penyakit. Sampai saat ini, Mas Munir terkenal bisa menyembuhkan penyakit seperti keputihan, meramal jodoh, bahkan membantu orang yang ingin punya anak. Saat ini, Mas Munir hanya mendapat tunjangan Rp. 200 ribu per bulan dari pemerintah Kayong Utara.

Dibantu pemerintah Rp. 200 ribu per bulan [Image source]
Bantuan tersebut tentu saja terbilang sangat sedikit dan tidak mencukupi hidup Mas Munir dan keluarganya. Menurut Sofian Rifaldo, sosok yang membuat Mas Munir viral lantaran unggahan facebooknya, Mas Munir saat ini sangat membutuhkan uluran tangan karena dirinya sudah tak mampu bekerja lagi.

Ingin bertemu gubernur Pontianak

38 tahun hidup di atas tempat tidur, ternyata pria yang tak bisa lepas dari tongkat dan kacamata ini masih punya keinginan besar, ia ingin sekali bisa bertemu dengan PJ (Penjabat) gubernur Kalimantan Barat, Sutarmidji. Ketika ditanya alasan untuk bertemu, ia mengungkapkan sederhana saja, ingin mengetahui visi dan misi sang gubernur.

Melalui video berdurasi singkat, ia juga mengatakan jika gubernur itu harus tau dan mendengar aspirasi rakyat serta turun ke lapangan sebagai tindakan real. Tak peduli sukunya apa, yang perdulikan rakyat itulah yang pantas kita pilih. Apakah ini sindiran?

Si ‘Manusia kayu’ Mas Tazul Munir adalah satu dari sekian saudara kita yang perlu dibantu. Saat ini bantuan dari pemerintah Rp. 200 ribu per bulan mungkin masih belum mencukupi kebutuhan pria yang sudah lansia ini, mengingat tak ada hal yang bisa ia lakukan selain terkapar lemas di atas tempat tidur. Semoga dengan tulisan ini, ada yang tergerak untuk mengulurkan tangan dan meringankan beban keluarganya.