in

Bukan dengan Modal Mahal, Logo Kabupaten Jombang Justru Datang dari Uang 10 ribu

Sebagai salah satu wilayah yang berada di Provinsi Jawa Timur, Kabupaten Jombang bisa dikatakan merupakan daerah berhias kisah-kisah menarik. Seperti salah satunya adalah tempat berdirinya pesantren termasyur yang telah lahirkan cendiakawan-cendiakawan muslim hebat yakni Tebu Ireng. Selain itu juga menjadi salah satu wilayah digunakan tempat peristirahatan terakhir Presiden ke tiga Indonesia yakni Gus Dur.

Bila kalian berpikir Kabupaten Jombang hanya ada kisah-kisah tadi saja, tentu merupakan hal yang keliru. Pasalnya, daerah tersebut juga mempunyai kisah unik lain tentang logo. Usut punya usut lambang wilayah mereka datang dari uang 10 ribu rupiah. Meski begitu, namun tidaklah mempengaruhi indahnya logo Kabupaten Jombang. Tenang-tenang jangan tercengang gitu sobat? Mending buktikan sendiri lewat ulasan berikut ini.

Kisah 10 ribu logo Jombang berangkat dari sayembara

Hadirnya cerita unik di balik logo Jombang tersebut terjadi pada tahun 1971 yang lalu. Saat itu pemimpin wilayah tersebut yakni Ismail, mengadakan sayembara pembuatan logo daerahnya yang berhadiah 10 ribu rupiah. Jumlah yang untuk sekarang sangat minim tersebut, ternyata mampu menyedot banyak partisipan.

Uang sepuluh ribu [Sumber Gambar]
Singkat cerita, setelah alami seleksi yang ketat dan lalui persetujuan Kementerian Dalam Negeri, desain logo milik pria asal Nganjuk menjadi pemenangnya. Alhasil, ia berhak dengan hadiah dengan jumlah tadi dan namanya dikenang hingga dalam sejarah wilayah tersebut.

Arti lambang Kabupaten Jombang

Seperti halnya lambang-lambang yang kerap digunakan membentuk suatu identitas, logo Jombang buatan Mulyono ini bisa dikatakan juga menyimpan arti filosofi mendalam. Bahkan dari penelusuran penulis desainnya menggambarkan berbagai unsur itu, pembuatannya berangkat dari realita ada.

Penampakan logo Kabupaten Jombang [Sumber Gambar]

Menurut pria asal Nganjuk tersebut yang dikutip Boombastis dari JawaPos.com, Mulyono mengaku kalau logo buatannya tidak sekedar formalitas saja, tapi lebih dari itu merupakan pengejawentahan dari sifat, watak, kepribadian, dan cita cita suatu daerah. Seperti salah satu contohnya, penggunaan padi dan kapas pada logo buatannya menggambarkan kemakmuran.

Di balik cerita kemenangan Mulyono

Seperti telah diungkap tadi, pria asal Nganjuk lah yang pada akhirnya menjadi pemenang dalam sayembara logo Kabupaten Jombang. Di balik capaian bagus Mulyono itu, ternyata ada banyak keberuntungan yang memuluskan langkahnya menjadi juara.

Pembuat Logo [Sumber Gambar]
Kemujuran nasib yang diperolehnya lantaran, ketika itu karyanya menjadi satu-satunya yang disetujui Kementerian Dalam Negeri, meski sebetulnya hanya menjadi nomor ketiga dipemilihan awal. Dilansir Boombastis dari JawaPos.com, logo yang menjadi juara tidak disetujui Kemendagri, lantaran dianggap mirip dengan desain milik Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Beberapa waktu lalu penempatan logo buatannya sempat memicu polemik

Beberapa waktu yang lalu, tepatnya Desember 2018 sempat terjadi polemik di wilayah Jombang terkait logo buatan Mulyono. Dilansir laman kabarjombang.com, pemicu dari permasalahan tersebut adalah peletakan lambang Kabupaten Jombang yang berada di bak kontrol drainese Jalan Wahid Hasyim daerah tersebut.

Ilustrasi Logo Jombang di jalanan [Sumber Gambar]
Dengan posisi itu menurut beberapa warga di logo Jombang yang sakral dan bernilai filosofi tinggi berpotensi untuk diinjak-injak. Kalau dipikir-pikir penempatan tersebut bisa dikatakan memang kurang sesuai, tapi apa dilakukan oleh pemerintah Jombang dengan hal tersebut, tentu sudah dipikirkan matang-matang. Kalau menurutmu bagaimana sobat Boombastis?

BACA JUGA: 4 Lambang Unik Klub Sepak Bola Dunia yang Siap Membuat Kita Gagal Paham

Begitulah sobat Boombastis kisah uang sepuluh ribu di balik logo Jombang. Meski sekarang angka tersebut terlihat minim, tapi tentunya di tahun 70-an jumlah tersebut bisa masuk kategori lumayan. Selain itu dari penelusuran yang dilakukan penulis uang tersebut juga digunakan Mulyono untuk ibadah haji.

Written by Galih

Galih R Prasetyo,Lahir di Kediri, Anak pertama dari dua bersaudara. Bergabung dengan Boombastis.com pada tahun 2017,Merupakan salah satu Penulis Konten di sana. Lulusan Pendidikan Geografi Universitas Negeri Malang. Awalnya ingin menjadi pemain Sepak Bola tapi waktu dan ruang justru mengantarkan Ke Profesinya sekarang. Mencintai sepak
bola dan semua isinya. Tukang analisis Receh dari pergolakan masyarakat Indonesia.

Leave a Reply

Ini Dampak dari Naik Turunnya Harga Tiket Pesawat Terbang, Netizen Sampai Bikin Petisi

Mirisnya Realita Politik Masa Kini, dari Perang Mulut Hingga Bongkar Makam Karena Beda Pilihan