in

Resmi Pensiun, Inilah Momen-momen yang Tidak Terlupakan dari Butet di Jagat Bulutangkis

Ajang Indonesia Master 2019 yang berakhir beberapa waktu yang lalu, tentunya tidak hanya menjadi panggung aksi para pemain bulutangkis Indonesia dan Luar Negeri saja. Lebih dari hal itu, ada sebuah kisah haru dan akhir dari seorang Liliyana Natsir. Pasangan Tontowi Ahmad itu memutuskan untuk gantung Raket setelah 24 tahun bergelut di olahraga ini.

Dalam kurun waktu panjang tersebut, perempuan kerap disapa Butet tersebut bisa dikatakan bukanlah pebulutangkis yang biasa-biasa saja. Banyak kejuaraan penting berhasil direngkuhnya. Bahkan sebelum Kevin Sanjaya dan Marcus Gideon melejit, Liliyana dan pasangannya yang terlebih dahulu meraih beberapa trofi di kejuaraan bulutangkis dunia. Tidak percaya? Berikut momen-momen emas tidak terlupakan dari atlet asal Manado tersebut  di olahraga tepuk kok tersebut.

Menggondol juara All England sebanyak tiga kali beruntun

Gelar All England 2013 [Sumber Gambar]
Berbicara ajang All England dan ganda campuran Indonesia, tentunya Owi Butet menjadi pasangan kelas tersebut yang hebat beberapa tahun ini. Hal ini lantaran setelah gelar ganda Christian Hadinata dan Imelda Wiguna, baru mereka lah yang sukses merengkuh gelar lagi di nomor campuran turnamen itu. Dan hebatnya lagi, ketika berlaga di sana Liliyana dan Tontowi berhasil meraih hattrick juara All England pada tahun 2012, 2013, dan 2014. Capaian yang untuk saat ini masih sulit disamai atau diungguli oleh pasangan ganda campuran tanah air lain.

Mempersembahkan emas dari ajang Olimpiade Rio Brazil

Owi Butet emas Olimpiade [Sumber Gambar]

Momen lain yang pastinya akan terkenang terus, dari seorang Liliyana adalah saat perempuan berambut cepak itu berlaga di olimpiade. Terkhusus pada ajang tersebut tahun 2016, saat itu Butet sukses merengkuh gelar tertinggi dengan mendapatkan medali emas. Kesuksesannya tersebut diperoleh setelah menaklukkan pasangan pebulutangkis asal Malaysia, Chan Peng Soon/Goh Liu Ying, lewat pertandingan dua gim dengan skor 21-14, 21-12. Bagi Liliyana gelar ini tak ubahnya seperti sebuah jawaban atas perjuangan yang selama di Olimpiade 2008 dan 2014 selalu gagal meraih juara.

Rebut medali emas di kejuaraan Junior Asia

Aksi Butet di lapangan [Sumber Gambar]
Salah satu momen yang tidak terlupakan lain dari perempuan lahir di Manado ini, adalah ketika ia tampil di ajang kejuaraan junior Asia. Berduet dengan Markis Kido, ajang pertamanya setelah gabung Pelatnas Cipayung ini berujung pada prestasi membanggakan. Kido dan Liliyana sukses mendapatkan emas setelah pada partai puncak berhasil mengandaskan pasangan China Cao Chen/Rong Lu. Usut punya usut, gelar tingkat Asia itu direngkuh ketika usia Butet masih berkisar di angka 17-an. Kalau kalian di umur tersebut prestasi apa sukses di raih?

Duetnya bersama dengan Nova Widianto

Liliyana dan Nova Widianto [Sumber Gambar]
Selain duet dengan Markis Kido atau Tontowi Ahmad, dara berusia 33 tahun ini juga sempat meraih prestasi hebat ketika berpasangan dengan Nova Widianto. Mulai duet pada tahun 2004, mereka berdua sukses mencatatkan beberapa gelar, mulai dari tingkat Asia Tenggara sampai Dunia. Salah satunya adalah ketika pada tahun 2005 meraih gelar juara dunia di di Anaheim, California, Amerika Serikat. Dari penelusuran penulis, selama mereka berpasangan 6 trofi kejuaraan bergengsi berhasil diraih.

Gagal mempersembahkan medali emas Asian Games 2018 untuk Indonesia

Owi Butet Asian Games 2018 [Sumber Gambar]
Seperti halnya para atlet yang naik turun prestasinya, dalam kariernya di jagat bulutangkis Liliyana juga sempat menggoreskan cerita sedih. Salah satunya adalah ketika dirinya gagal mempersembahkan emas di Asian Games 2018. Kala itu dirinya gagal menuju babak ke final setelah di partai semifinal tumbang atas pebulutangkis China. Meski kekalahan demi kekalahan tidak pernah dalam perjalanan kariernya, tapi perempuan 33 ini mengaku selalu menolak untuk menyerah. Menurutnya kekalahan bukanlah sebuah hal yang memalukan, tapi yang memalukan adalah bila menyerah, ujarnya kala sampaikan perpisahan pada 27 Januari 2018.

BACA JUGA: Di Tengah Kekacuan, Beginilah Kado Manis Dari Tim Bulu Tangkis Untuk Soeharto

Dari sekian momen-momen tadi mana yang menjadi favoritemu sobat? Kalau aku sih yang ketika Butet meraih emas Olimpiade. Tapi, apapun itu, sebagai insan bola nasional wajib hukumnya mengapresiasi perjuangan dan prestasi bulutangkis Liliyana selama ini. Dan dari kami Boombastis, tiga kata untuk dirinya yaitu, Terima kasih, Butet!

Written by Galih

Galih R Prasetyo,Lahir di Kediri, Anak pertama dari dua bersaudara. Bergabung dengan Boombastis.com pada tahun 2017,Merupakan salah satu Penulis Konten di sana. Lulusan Pendidikan Geografi Universitas Negeri Malang. Awalnya ingin menjadi pemain Sepak Bola tapi waktu dan ruang justru mengantarkan Ke Profesinya sekarang. Mencintai sepak
bola dan semua isinya. Tukang analisis Receh dari pergolakan masyarakat Indonesia.

Leave a Reply

5 Aksi Mengharukan Pasca Banjir Bandang Sulawesi Selatan

Anisha Dasuki dan Para Reporter TV Cantik yang Seringkali Menarik Perhatian Netizen