Pemerintah akan mencanangkan konversi atau penggantian energi dari LPG ke listrik. Konversi energi ini bukan pertama kali dilakukan pemerintah. Pada 2007, pemerintah mengganti kompor minyak tanah menjadi kompor LPG. Masyarakat tidak mampu diberi kompor satu tungku dan LPG 3 kilogram bersubsidi. Alasan mengganti minyak tanah adalah untuk menghemat anggaran publik dan mengurangi tingkat polusi. Sampai saat ini, LPG 3 kilogram masih disubsidi walau penggunaannya bergeser. Orang mampu pun banyak yang membeli LPG 3 kilogram.
Berbeda alasan dengan konversi dari minyak tanah ke LPG, konversi kali ini dikarenakan PLN kelebihan pasokan listrik. Bagaimana bisa kelebihan pasokan dan bagaimana hubungannya dengan konversi ke kompor listrik? Simak ulasan Boombastis.com selengkapnya di bawah ini.
PLN beli listrik ke pihak swasta
Konversi ke kompor listrik agar PLN tidak rugi
Sampai akhir tahun ini, PLN kelebihan pasokan listrik 6 sampai 7 Giga Watt (GW) di seluruh Indonesia, terutama Pulau Jawa. Kelebihan 1 GW saja, PLN merugi sekitar Rp3 triliun per tahun. Bahkan, PLN diperkirakan kelebihan pasokan listrik sebesar 41 GW pada 2030. Apalagi, bakal ada penerapan energi baru terbarukan (EBT). Energi tersebut berasal dari alam dan bebas digunakan, serta mampu diperbarui terus-menerus.
Uji coba kompor listrik di Solo dan Denpasar
Pemerintah sudah mulai melakukan uji coba penggunaan kompor listrik di Solo dan Denpasar selama tiga bulan ini. Mereka membagikan paket kompor listrik kepada 1.000 warga di masing-masing kota. Penerima adalah mereka yang termasuk warga tidak mampu dengan kapasitas listrik 450-900 VA dan UMKM. Warga yang menerima kompor listrik dari pemerintah akan disubsidi listriknya. Paket listrik yang diberikan pemerintah berupa kompor listrik dua tungku 800 Watt, satu alat masak, dan satu MCB (miniature circuit breaker) alias saklar listrik. Satu paket kompor listrik bernilai Rp1,8 juta.
Pengalaman warga yang pakai kompor listrik
Setelah menggunakan kompor listrik dari pemerintah, salah satu warga Solo bernama Supriyani mengaku listrik di rumahnya sering mati atau jeglek. Hal itu terjadi pada sebulan awal saat kompor listrik dinyalakan bersamaan dengan magic com dan pompa air. Tegangan listrik di rumah Supriyani sebesar 900 VA. Kemudian, PLN pun memperbaiki saluran listrik sehingga sekarang bisa menyalakan kompor listrik dengan alat lainnya.
Namun, ada juga warga yang memilih tetap menggunakan kompor gas. Teddy, warga Solo yang punya usaha angkringan, mengaku kurang puas dengan hasil masakan menggunakan kompor listrik. Menurutnya, hasil gorengan menggunakan kompor kurang garing. Sehingga, Teddy pun menggunakan kompor listrik hanya untuk membuat mi instan atau menggoreng telur.
Pro kontra konversi ke kompor listrik
BACA JUGA: Kisah Dusun Terpencil yang Sukses Hasilkan Listrik dari Sungai hingga jadi Percontohan Negara ASEAN
Sampai saat ini, belum ada kejelasan regulasi terkait kompor listrik karena mungkin programnya masih ‘digodok’. Semoga saja konversi kompor listrik ini membantu masyarakat Indonesia, bukan malah merugikan.