Di panggung searah Indonesia secara umum, masyarakat awam pasti tidak mengenal sosok pahlawan Usman dan Harun. Namun lain halnya dengan korps Marinir TNI-AL, kedua orang tersebut merupakan sosok yang sangat berjasa besar bagi kesatuan mereka. Termasuk pada Indonesia. Nama mereka pun akhirnya diabadikan pada sebuah kapal jenis Korvet F2000 bernomor lambung 359 yang dinamai KRI Usman Harun.

Saat menyandang baret ungu korps KKO Marini TNI AL, Usman bersama rekannya, Harun, ditugaskan oleh negara untuk menyabotase segala perlengkapan dan instalasi milik negara musuh, yakni Singapura. Ketegangan sempat mewarnai kedua orang tersebut saat menjalankan tugas. Saat misi berhasil dilaksanakan, apa daya mereka tertangkap saat hendak meloloskan diri. Seketika, maut pun membayangi langkah Usman dan kawannya pada saat itu.

Sosok pemuda yang penuh dengan semangat

Dilansir dari tirto.id, Usman Janatin lahir di dusun kecil di Purbalingga, Jawa Tengah pada tanggal 18 Maret 1943. Setelah beranjak dewasa, ia kemudian mendaftarkan diri menjadi seorang TNI. Beruntung, ia berhasi diterima pada tanggal 1 juni 1962 untuk bergabung dengan Korps Komando Operasi (KKO), nama korps marinir TNI Angkatan Laut saat itu.

Sosok muda yang bersemangat membela NKRI [sumber gambar]
Kebetulan, Presiden Soekarno juga tengah menyerukan perang terhadap Persemakmuran Malaya yang beranggotakan Malaysia, Singapura dan wilayah lainnya seperti Kalimantan Utara (Sabah), dan Sarawak. Usman pun akhirnya ikut ambil bagian pada operasi tersebut.

Tawarkan diri menjadi anggota sukarelawan

Usman yang kala itu masih belum genap berusia 25 tahun, merasa terpanggil untuk ikut serta dalam misi yang dikenal sebagai operasi militer Komando Mandala Siaga. Ada dua orang sukarelawan lagi selain Usman, yakni Harun Thohir dan Gani bin Arup.

Ilustrasi KKO [sumber gambar]
Ketiganya disiapkan untuk melakukan tugas khusus dengan arahan komando yang kala itu dipimpin oleh Kepala Staf TNI Angkatan Udara Omar Dhani.. Kelak, tugas yang mereka emban bakal tercatat sebagai salah satu aksi heroik paling bersejarah di dalam korps Marinir TNI-AL.

Tugas berat meledakan gedung dan mengacaukan Singapura

Dilansir dari tirto.id, tugas utama dari ketiga relawan tersebut sejatinya adalah memantik ricuh di Singapura dengan mengeksploitasi perbedaan ras serta merusak instalasi-instalasi penting. Berbekal tas ransel berisikan bahan peledak seberat 12,5 kilogram, pasukan KKO itu bergerak menuju sasaran, yakni sebuah rumah tenaga listrik.

Gedung McDonald House yang dibom Usman dan kawan-kawan [sumber gambar]
Entah mengapa, targetnya ternyata berubah dan akhirnya dipindahkan ke gedung Hong Kong and Shanghai Bank atau MacDonald House di Orchard Road, Central Area, Singapura. Di sanalah para prajurit pemberani itu meletakkan tas ransel yang siap diledakkan. Sambil menahan napas, Usman dan rekan-rekannya menjauh hingga dirasa berada pada jarak aman. Tombol picu pun ditekan tak lama kemudian.

Misi yang sukses dengan Usman dan Harun yang tertangkap

Pada petang hari tanggal 10 Maret 1965, sebuah ledakan besar mengguncang gedung yang berada di kawasan padat masyarakat sipil tersebut. Saking dahsyatnya, bangunan yang didirikan pada 1949 itu luluh lantak hingga hanya tersisa puing-puingnya saja.

Situasi gedung McDonald House usai dibom [sumber gambar]
Menurut buku The Fight Against Terror, 2004:19 yang dikutip dari tirto.id, 3 orang tewas dan tidak kurang dari 33 orang lainnya mengalami luka-luka berat maupun ringan. Usman, Harun dan Gani pun berupaya kabur setelah peristiwa tersebut. Sayang, kedua berhasil ditangkap oleh militer Singapura. Sementara Gani, berhasil lolos entah bagaimana caranya.

Pahlawan Indonesia yang mati di tiang gantungan Singapura

Tak hanya Usman, Harun yang ikut tertangkap pasukan Singapura, akhirnya divonis mati dengan cara digantung. Dilansir dari tirto.id, Indonesia sempat mengirim utusan pada tanggal 15 Oktober 1965 untuk menyelamatkan keduanya dari hukuman.

Nasib Usman dan Harun akhirnya berhenti di tiang gantungan [sumber gambar]
Sayang, upaya tersebut tak membuahkan hasil. Tepat jam 06.00 pagi waktu Singapura, tanggal 17 Oktober 1968, Usman Janatin dan Harun bin Thohir harus meregang nyawa di tiang gantungan penjara Changi. Tubuh mereka yang telah kaku, sesaat dipermainkan angin sebelum diturunkan. Oleh pemerintah, keduanya di anugerahi tanda kehormatan Bintang Sakti dan gelar Pahlawan Nasional.

Meski harus ditebus dengan nyawa, kisah heroik dari Usman dan rekan-rekannya di atas patut kita kenang sebagai sosok yang berjiwa patriot. Begitu pun dengan kita yang hidup di era modern saat ini. Sikap mencintai bangsa perlu ditumbuhkan di tengah-tengah rongrongan isu rasial dan berita hoax yang kerap meracuni pikiran.