Ibarat roda yang berputar cepat, nasib manusia berada dalam lingkaran tersebut. Ada kalanya roda tersebut membawa nasib baik dengan masa depan yang bagus, namun juga terkadang malah membawa hal sebaliknya, yang sanggup membuat manusia terhempas dalam badai nestapa.
Namun demikian, cobaan hidup tersebut tak selamanya berlaku pada diri seseorang. Asal ada sedikit niat dan usaha keras, roda nasib akan berputar cepat melambungkan dirinya kedalam kehidupan yang lebih baik. Kisah seperti ini sangat melekat erat pada sosok pemuda tangguh satu ini. Sempat terpuruk dalam kekurangan, dirinya justru sukses karena niat tulus dan keinginannya untuk belajar. Seperti apa kisah suksesnya? simak ulasan berikut.
Kebangkrutan ekonomi jadi awal petaka
Lahir dari latar belakang keluarga yang sederhana, pemuda kelahiran Sumedang, 4 Ferbruari 1984 tersebut, sedari kecil telah akrab dengan kemiskinan yang melanda keluarganya. Bukan tanpa alasan. Sang ayah yang pada saat itu merupakan penopang utama perekonomian keluarga, mengalami kebangkrutan pada pekerjaanya di sebuah perusahaan. Untuk mencukupi kebutuhan Peter kecil beserta keluarga lainnya, sang ayah terpaksa bekerja serabutan.
Penghobi fashion yang gigih dalam belajar
Suasana kota Bandung yang saat itu menjadi ikon fashion di Jawa Barat, membentuk karkater Peter muda ikut menggemari tren fashion yang populer pada masa itu. Sewaktu duduk di bangku SMA, dirinya senang mengunjungi tempat-tempat yang menjual pakaian berkualitas yang berharga murah.
Drop out kuliah jadi yang menjadi pijakan awal kesuksesan
Selepas lulus dari SMA, dirinya berniat melanjutkan pendidikan di sebuah perguruan tinggi di Kota Bandung. Biaya masuknya yang sebesar Rp5 juta, dirasakan sangat berat oleh Peter dan keluarganya pada saat itu. Beruntung, sebelum sang kakek wafat, ia telah dibantu secara finansial sebagai bekalnya untuk melanjutkan pendidikan.
Sempat tersandung kasus yang mengasah ketajaman bisnisnya
Berkutat dengan pekerjaan sehari-hari sebagai karyawan produksi celana jeans, membuat naluri bisnis kreatifnya berkembang. Ahasil , dirinya pun nekat mencoba membuat merek fashionnya sendiri yang diberi nama Defence. Namun sayang, bisnis pertamanya tersebut harus terhenti karena produk buatannya tersebut ternyata gagal di pasaran.
Pengalaman yang melambungkan merek fashionnya
Pengalaman jatuh bangun dalam mengembangkan usaha di bidang konveksi tersebut semakin mematangkan jiwa bisnisnya. Bermodal uang tabungan sebesar Rp5 juta, dirinya memproduksi celana jeans sendiri. Diluar dugaan, jeans buatannya ternyata laku keras. Pesanan pun datang bertubi-tubi. Alhasil, Peter harus banting tulang sendirian. Mulai dari mengukur, mengawasi tukang jahit hingga mengantarkan pesanan ke konsumen. semua dilakukannya seorang diri.
Ditempa dengan pengalaman hidup miskin dan kekurangan materi, membuat sosok Peter Firmansyah menjadi pemuda tangguh yang tahan banting. Kegigihan dan kerja kerasnya selama ini, membuahkan hasil yang maksimal. Terbukti dengan semakin dikenalnya brand fashion Peter Says Denim miliknya, membuat kisah perjalanan hidup Peter Firmansyah menjadi contoh nyata, bagaimana merubah kemustahilan dalam hidup menjadi sesuatu yang berguna dan mendatangakan kesuksesan.