Keberadaan tentara Jepang di bumi Indonesia, banyak membawa kisah patriotik sekaligus keharuan. Boleh jadi mereka merupakan penjajah yang harus ditumpas oleh pejuang republik. Tapi di sisi lain, para prajurit Dai Nippon tersebut ternyata malah membelot dari negaranya dan memilih berjuang hingga akhir hayat membela kemerdekaan NKRI. Alhasil, namanya pun menjadi harum dikenang sebagai pahalwan.
Saat posisi tentara Jepang semakin terjepit oleh pasukan sekutu, banyak rekan-rekannya sesama prajurit kebingungan. Darat, laut dan udara, telah dikuasai sepenuhnya oleh musuh. Shigeru muda pun semakin merasa kalut setelah beberapa rekannya melakukan aksi Harakiri agar mati secara terhormat. Sempat ingin bunuh diri, ia pun memutuskan membantu Indonesia hingga kisahnya tercatat dalam tinta emas sejarah.
Keluar dari militer Jepang dan bantu perjuangan Indonesia
Lahir pada 26 September 1919 di Furano, Hokkaido, Shigeru Ono merupakan serdadu Tentara Ke-16 Angkatan Darat Jepang yang ditempatkan di Pulau Jawa. Saat itu, balatentara Dai Nippon tengah dihinggapi ketakutan yang luar biasa. Mereka terjepit oleh pihak Sekutu yang telah sepenuhnya menguasai medan pertempuran. Ono muda yang saat itu masih aktif berdinas, hanya memiliki dua pilihan; kembali ke Jepang atau bertahan di Indonesia.
Latih pemuda Indonesia dan menulis buku taktik militer
Sumbangsih Ono dalam revolusi kemerdekaan Indonesia sangatlah besar. Sebelum pindah ke Yogyakarta, dirinya sempat melatih kemiliteran pada pemuda Indonesia. Di kota Gudeg tersebut, Ono ditugaskan oleh Markas Besar Tentara untuk untuk membuat buku rangkuman tentang taktik perang dan menerjemahkannya ke bahasa Indonesia.
Bentuk tentara khusus Jepang yang setia pada Indonesia
Ketika perjanjian Renville ditandatangani, munculah maklumat untuk menangkapi semua eks serdadu Jepang yang masih berkeliaran di Indonesia. Kemudian, sebanyak 28 serdadu eks tentara Jepang yang hadir, lalu membentuk Pasukan Gerilya Istimewa (PGI) pada 24 Juli 1948. Tugas mereka tergolong riskan dan penuh risiko karena saat itu merupakan cease fire atau gencatan senjata.
Pensiun dan bekerja serabutan demi menyambung hidup
Pada akhir 1949 setelah perang revolusi usai, Ono memilih untuk menetap di Batu, Malang, Jawa Timur. Bertani apel dan bercocok tanam menjadi kesibukan barunya. Ia juga telah menikah dengan Darkasih dan dikaruniai 9 anak, 14 cucu dan 10 cicit. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, Ono sempat berganti-ganti pekerjaan. Asalkan halal, ia tak malu menekuninya.
Cukup mengejutkan ya Sahabat Boombastis. Tentara Jepang yang dianggap sebagai penjajah oleh rakyat Indonesia, ternyata ikut memberikan tenaganya demi meraih kemerdekaan. Seperti kisah Shigeru Rahmat Ono di atas, kesetiannya pada Indoneia, mengalahkan ego dirinya sebagai orang Jepang. Selamat jalan sang samurai terakhir.