in

Kisah Haru Pilu Berpulangnya Soekarno yang Menderita Akibat Ulah Pemerintahan Saat itu

Kematian Soekarno

Pada tanggal 21 Juni 1970, ibu pertiwi menitikkan air matanya. Rakyat Indonesia menangis histeris, mengantar kepergian salah satu putra terbaik di negeri ini. Pada hari itu Bapak Insinyur Haji Soekarno mengembuskan nafas terakhirnya.

Kabar ini membuat rakyat begitu terpukul dan berduka. Soekarno menjadi korban dari kebiadaban rezim yang saat itu tengah berkuasa. Dalam ranjang pesakitannya, ia dihajar oleh perlakuan-perlakuan tak manusiawi yang tak sepantasnya diterima oleh sosok mulia seperti dirinya.

Naiknya Soeharto dan Pengusiran dirinya menjadi awal bencana

Semuanya berawal pada tahun 1967, ketika Soeharto ditunjuk sebagai Presiden RI menggantikan Bung Karno. Tak lama setelah itu, beliau kemudian mendapat surat, lebih tepatnya surat perintah, untuk segera meninggalkan istana. Seketika para prajurit yang tengah berada di istana bersikap ketus padanya.

Kematian Soekarno
Soekarno bersama istrinya, Ibu Fatmawati. [Image Source].
Bung Karno langsung menghambur keluar ruang kerjanya mencari anggota keluarga yang lain. Saat itu, yang beliau temukan hanyalah Guruh, putra bungsu dari hasil perkawinannya dengan Ibu Fatmawati. Beruntung, anak-anaknya yang lain saat itu sedang berada di rumah Fatmawati di Kebayoran Baru. Khawatir dengan situasi saat itu, ia pun meminta sopir pribadinya untuk segera mengantar Guruh ke rumah Fatmawati.

Soekarno tak sempat mengemas semua barang-barang pribadinya di istana. Salah satu benda penting yang berhasil beliau bawa adalah bendera pusaka. Beliau kemudian benar-benar pergi pada hari kedua usai surat perintah. Itupun, setelah beberapa prajurit bermuka masam masuk ke ruang kerjanya dan meminta beliau untuk segera enyah.

Soekarno kemudian pulang ke rumah istrinya, Fatmawati. Namun, beberapa hari kemudian, pada suatu malam, ada sebuah truk yang datang ke kediamannya. Mereka secara paksa membawa Soekarno ke Bogor. Diketahui bahwa itu merupakan perintah para perwira yang mendukung Soeharto. Mungkin mereka merasa terusik jika Soekarno masih berada di ibu kota.

Dikerangkeng dan mendapat perawatan tak layak di Wisma Yaso

Setelah dipindahkan ke Bogor, Bung Karno mulai sakit-sakitan. Melihat ayahnya menderita, Rachmawati, salah satu putri Soekaro, memohon agar ayahnya menulis surat kepada Presiden untuk dipindahkan ke Jakarta. Soekarno setuju, dan Rachmawati menulis surat permohonan kepada Pak Harto. Ia kemudian sendirian membawa surat tersebut langsung ke kediaman Soeharto di jalan Cendana, Jakarta Pusat.

Wisma Yaso sekarang [Image Source]

Setelah membaca surat tersebut, Soeharto kemudian menuliskan memo yang memerintahkan anak buahnya agar Bung Karno dibawa ke Wisma Yuso, Jakarta. Namun, sesampainya beliau di sini, bukan perlakuan istimewa yang ia dapat, justru perlakukan kasar dan tak manusiawi dari para prajurit yang menjaganya. Dibentak dan dimarahi sudah jadi makanannya sehari-hari.

Soekarno hanya mendapat kamar yang kotor, bau, jorok, dan jauh dari kata layak. Dokter Soeroyo, yang bertugas merawat beliau tak menjalankan tugasnya dengan baik. Di sana tak disediakan obat khusus untuk sekadar meredakan nyeri yang beliau alami setiap harinya. Bung Karno hanya diberi vitamin dan madu standar yang khasiatnya jelas tak mujarab bagi penyakitnya.

Mengetahui bahwa Soekarno hidup menderita di wisma tersebut, sebetulnya banyak orang yang ingin menyelamatkannya. Segerombol rakyat yang tergabung dalam sebuah pasukan khusus berhasil menembus penjagaan wisma tersebut. Akan tetapi, begitu mereka telah sampai di di kamarnya, beliau secara diplomatis menolak pertolongan mereka karena khawatir hal itu akan memancing perang saudara.

Penyakit parahnya telah ia idap sejak tahun 1965

Soekarno telah mengidap sakit ginjal akut sejak tahun 1965, beliau pernah dirawat di Wina, Austria pada tahun 1961 dan 1964. Saat itu, dokter yang menangani beliau menyarankan agar ginjal kiri Soekarno yang bermasalah diangkat. Namun, Soekarno menolak dan lebih memilih pengobatan tradisional.

Kematian Soekarno
Soekarno bersama keluarga besarnya. [Image Source].
Selepas terusir dari istana kepresidenan, ia terpaksa menjalani perawatan Wisma Yaso dan kemudian dipindahkan ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat yang berada di bilangan Gatot Subroto pada masa-masa terakhirnya, dengan status tahanan politik.

Momen-momen pilu pertemuan dua pejuang proklamator dan kematian Soekarno

Sekitar dua hari sebelum wafat, beliau dijenguk oleh sahabat karibnya, Bung Hatta dan sekretaris pribadinya, I Wangsa Widjaja di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat. Padahal saat itu sulit untuk mendapat jam besuk, karena Soeharto sangat membatasi informasi dan akses terhadap kesehatan Soekarno.

Kematian Soekarno
Keranda yang membawa jenazah Soekarno. [Image Source].
Hatta dan Wangsa menangis melihat kondisi beliau yang rapuh dan sakit-sakitan. Sapaan lirih mengalir dari mulut Soekarno ketika ia dijenguk oleh keduanya. Pertemuan kedua pejuang proklamator tersebut penuh keharuan. Tak bisa menyembunyikan kesedihannya, mereka menangis

Ketika itu, para prajurit yang disinyalir merupakan suruhan Soeharto, melakukan penjagaan ketat dan membatasi akses informasi perihal kondisi serta perawatan beliau maupun saat Bung Karno berpulang.

Para wartawan baru mendapat informasi ketika dokter yang menangani beliau angkat bicara. Sayangnya, bukan kabar baik yang diterima oleh para wartawan. Pengumuman yang didapat pada 21 Juni 1970 itu adalah mengenai kepastian Soekarno yang telah wafat dan tak lagi bernyawa.

Permintaan terakhir Soekarno yang tak digubris Soeharto

Soekarno, sebelum kematiannya pernah berujar, bahwa ia ingin dimakamkan di bawah pohon besar, di bawah batu besar, di Istana Batu Tulis, Bogor. Namun, lewat Keppres RI Nomor 44 Tahun 1970, Soeharto memerintahkan agar jenazahnya dimakamkan di kota Blitar, Jawa Timur. Soekarno pun dimakamkan di Blitar, di sebelah makam ibunya.

Kematian Soekarno
Pemakaman Soekarno di Blitar. [Image Source].
Upacara pemakaman Soekarno dipimpin oleh Panglima ABRI Jenderal M Panggabean sebagai inspektur upacara. Tujuh hari setelahnya ditetapkan sebagai masa berkabung oleh pemerintah. Sepanjang dari RSPAD ke bandara, jutaan rakyat berkerumun, menangis histeris, mengantar namun tak merelakan kepergian sang Putra Fajar.

Manusia yang begitu berjasa kepada negaranya itu kini telah tiada. Orang seperti beliau belum tentu ada duanya. Kepergiannya begitu menyesakkan, rakyat menangis berduka dalam waktu yang lama. Namun, seperti itulah sejarah. Ia kejam tak memandang pada luhurnya pengabdian, ia hanya bertekuk lutut pada mereka yang tengah berkuasa.

Leave a Reply

MQ-8C Fire Scout, Drone Canggih Sebesar Helikopter Bikinan Amerika Serikat

8 Fakta Kehebatan Nokia 3310 yang Nggak Dimiliki Handphone Lainnya