Sukarno sebagai Presiden pertama RI memang banyak meninggalkan kesan pada orang-orang yang pernah dekat dengan dirinya. Salah satu dari sekian orang yang beruntung tersebut adalah Ni Luh Putu Sugianitri. Semasa mudanya, wanita asal Bali itu merupakan ajudan Presiden Sukarno.

Jalan berliku ditempuh Nitri semasa mudanya hingga berhasil dipercaya sebagai ajudan dari tokoh yang memiliki pengaruh ke penjuru dunia itu. Dirinya senantiasa berada di dekat Sukarno hingga diberhentikan dari jabatannya sebagai presiden. Seperti apa kisahnya di masa lalu? Simak ulasan berikut ini.

Masuk menjadi anggota Polisi Wanita

Meniti karir sebagai anggota Polwan [sumber gambar]
Nitri mengawali kisahnya dengan masuk sebagai anggota Polisi Wanita (Polwan) saat mendaftar di Bali pada tahun 1964. Saat itu usianya masih 16 tahun dan baru saja tamat SMP. Uniknya, Nitri mencuri umur 2 tahun lebih tua menjadi 18 tahun agar bisa diterima. Dirinya pun berhasil lulus dan menjalani pendidikan di Sukabumi, Jawa Barat. Nitri sendiri kerap diminta untuk tampil menari di acara-acara kepresidenan.

Terpilih sebagai ajudan Presiden Sukarno

Potret Nitri semasa muda saat berfoto bersama Sukarno [sumber gambar]
Nitri berhasil terpilih menjadi ajudan anak-anak Bung Karno setelah pasukan pengawal presiden, Cakra Birawa, dibubarkan dan diganti dengan pengawal Kepolisian. Dari sana, perlahan Nitri dipercaya untuk mengembang tanggung jawab yang lebih besar lagi, yakni menjadi ajudan Sukarno. Ada banyak kisah yang dijalaninya pada saat itu. Terutama soal kegemaran Sukarno akan makanan.

Kerap membelikan Bung Besar kue dan makanan kecil

Nitri saat berada di kediamannya [sumber gambar]
Sebagai seorang ajudan, Nitri kerap ditugasi untuk membeli kue dan makanan kesukaan Sukarno. Beberapa kuliner tersebut bahkan harus dibeli di tempat berbeda sesuai dengan keinginan Bung Besar. Seperti lemper ketan dengan isi opor ayam disuwar-suwir di Cikini, dan Hunkwe yang hanya dibeli di daerah Pecenongan dengan kriteria khusus.

Menjadi saksi keseharian Sukarno setelah tak lagi menjadi Presiden

Nitri sendiri diangkat menjadi ajudan Sukarno setelah peristiwa tragedi tanggal 30 September atau G30S/PKI terjadi. Saat itu, dirinya menjadi saksi usai Sukarno tak lagi menjadi presiden RI. Menurut Nitri, Bung Besar dilarang berbicara politik, tidak boleh mengundang tamu, hingga tidak boleh ke mana-mana kecuali hanya di Istana saja. Bahkan ia tahu bahwa Sukarno juga tidak punya uang sepeser pun di kantongnya meski hanya untuk membeli kue.

Enggan disuruh menjadi ajudan Ibu Tien Soeharto

Menolak menjadi ajudan Ibu Tien Soeharto [sumber gambar]
Pada suatu kesempatan, Nitri pernah bertanya soal serah terima jabatan presiden dengan Soeharto. Sukarno menjawab bahwa hal tersebut dilakukannya demi menjaga Indonesia dari kehancuran. Wanita yang kini berusia 71 tahun itu juga menolak dijadikan ajudan Ibu Tien Soeharto. “Saya diminta jadi ajudan Ibu Tien, saya langsung lari kawin, karena saya tidak mau. Saya tidak mau jadi ajudan Soeharto, saya tau apa yang dia lakukan,” ucapnya yang dikutip dari Merdeka (18/08/2020). Pada sumber lainnya , Nitri menolak karena sakit hati pernah dituduh menjadi pacar Sukarno, seperti yang dilansir dari Balicitizen (06/08/2019).

BACA JUGA: 4 Perbuatan Hebat Soekarno yang Tak Dilakukan Presiden Indonesia Lainnya

Menjadi orang yang pernah berada dekat dengan Sukarno tentu merupakan sebuah kebanggaan yang luar biasa. Seperti kisah Ni Luh Putu Sugianitri di atas, dirinya bahkan turut menjadi saksi sejarah di kehidupan Sang Putera Fajar usai tak lagi menjabat sebagai presiden Indonesia. Gimana menurutmu Sahabat Boombastis?