Kemerdekaan yang diraih oleh Indonesia dari Belanda tak hanya diupayakan oleh pahlawan dari dalam negeri. Sejumlah warga asing ternyata juga turut serta membantu mengupayakan hal tersebut. Salah satu yang berjasa adalah sosok Muriel Stuart Walker atau dikenal sebagai K’tut Tantri.

Kekagumannya pada eksostisme dan budaya khas Bali, membuat dirinya melakukan perjalanan panjang dari Amerika Serikat ke Indonesia. Di negeri baru itu, kondisi peperangan yang ada membuat K’tut Tantri tergerak untuk ikut ambil bagian. Bukan lagi sebagai turis yang sekedar melancong, tapi bergerak jauh mempertaruhkan nyawanya demi kemerdekaan Indonesia.

Memutuskan ke Indonesia karena tertarik dengan keindahan Pulau Bali

Sosok Muriel Stuart Walker yang kelalk dikenal sebagai K’tut Tantri [sumber gambar]
Film berjudul, “Bali, The Last Paradise”, menjadi awal bagi seorang wanita bernama Muriel Stuart Walker yan kemudian memutuskan untuk berangkat ke Indonesia. Sosok kelahiran Glasgow, Skotlandia pada 18 Februari 1899 itu kelak menjadi salah satu tokoh yang tercatat sebagai ikut membantu perjuangan Indonesia melawan penjajahan dari ranah komunikasi. Ia pun akhirnya tiba di Bali beberapa bulan kemudian.

Diangkat sebagai anak keempat oleh Raja Bangli

K’tut Tantri (baju hijau duduk) dalam sebuah kesempatan [sumber gambar]
Dalam bukunya yang berjudul “Revolt in Paradise” yang terbit pada 1960, Muriel menuliskan betapa ia sangat terpesona dengan budaya dan keramah tamahan yang ada di Bali. Sejak tahun 1934, ia telah bermukim di Pulau Dewata dan diangkat sebagai anak keempat oleh Raja Bangli. Namanya pun berganti menjadi K’tut Tantri. Di tahun itu pula, Jepang mendarat di Bali yang membuat Tantri melarikan diri ke Surabaya, Jawa Timur.

Ikut berjuang di Surabaya sebagai penyiar radio propaganda berbahasa Inggris

Ikut berjuang lewat jalur komunikasi dan diplomasi [sumber gambar]
Pergolakan dan situasi tak menentu akibat peperangan yang ada, membuat Tantri ikut terlibat di dalamnya. Ia pun bergabung dengan kru radio yang dioperasikan pejuang pimpinan Bung Tomo. Saat siaran, Tantri menggunakan bahasa Inggris yang mendengungkan perjuangan rakyat Indonesia. Posisinya yang vital ini, membuat dirinya sempat menjadi incaran tentara Jepang.

Menjadi utusan Indonesia di forum media dan wartawan asing internasional

K’tut Tantri berbincang dengan mantan Kapolri Hoegeng dan istri, serta Haji Masagung dalam sebuah kesempatan [sumber gambar]
Usai lepas dari kejaran militer Jepang yang pernah menahan dirinya, Tantri sempat menjadi penyiar di Voice of Free Indonesia era 1946-1947, kala pusat pemerintahan Indonesia dipindahkan ke Yogyakarta. Dirinya juga menjadi utusan Indonesia untuk menghadiri konferensi pers media asing, di mana Tantri bercerita soal perjuangan bangsa Indonesia yang tak pernah padam di forum internasional. Hal ini menjadi tandingan dari propaganda Belanda yang mengatakan bahwa Indonesia tak mendapat dukungan.

Sosok yang menuliskan pidato berbahasa Inggris untuk Sukarno

K’tut Tantri saat bersama dengan Presiden Sukarno [sumber gambar]
Tantri yang mendapat julukan sebagai “Surabaya Sue” atau penggugat dari Surabaya itu, tercatat pernah menuliskan sebuah pidato dalam bahasa Inggris untuk Presiden Sukarno. Hal tersebut dilakukannya setelah mendapat perintah dari Ali Sastroamidjojo. Meski tak berpengalaman menulis naskah pidato politik, ia akhirnya berhasil membuat dengan menggabungkan tulisan dan pemikiran tokoh demokrasi Amerika Serikat. Terlebih, gaya orasi Sukarno yang kharismatik dinilai berhasil ‘menghidupkan’ pidato tersebut.

BACA JUGA: Idjon Djanbi, Tentara Belanda yang Berjasa Mendirikan Kopassus

K’tut Tantri memang tak pernah mengangkat senjata untuk membantu perjuangan Indonesia. Namun, ia akan tetap dikenang atas jasa-jasanya di bidang diplomasi dan komunikasi yang sangat dibutuhkan pada saat itu. Wanita pemberani yang tak pernah menjadi seorang WNI itu tutup usia di sebuah panti jompo di pinggiran Kota Sydney, Australia, pada 27 Juli 1997. Pemerintah Indonesia menganugerahkan Tantri Bintang Mahaputra Nararya pada November 1998 atas jasa-jasanya di masa lalu.